Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Bertemu Lagi


__ADS_3

Aku memakan dengan lahap. biasanya ketupat pakai kikil atau tunjang.


Tapi ini baru aku coba. biasa buntut dibuat jadi sup. tapi sekarang di jadikan gulai buntut utuk jebemani makan ketpuat.


Annapun makan dengan lahap, besemangat.


Tiba-tiba ponsel Anna berbunyi.


"Kak. Aku ada perlu sebentar. kakak tidak apa kan pulang sendiri?!". ucapnya setelah menerima telfon.


"Ada apa,dan kemana?!". tanyaku kepo.


"Ada temanku masuk rumah sakit. Yang tadi kita bertemu saat joging. ingat kakak kan? yang perempuan. mungkin karena kecapekan dan dia pingsan! saat akan pulang barusan". ucap anna.


"Kakak antar saja kamu!". tawarku.


"Aku di jemput temanku kak. dua sudah menuju kesini!". jawab anna.


"Terus motor kamu?!".


"Kakak bawa saja dulu. nanti aku jemput, atau kakak antar kerumah. ini kunci rumah!". ucapnya memberikan kunci rumahnya.


"Ah. kakak bawa saja kekosan. nanti kamu jemput!". usulku.


Masa aku masuk kerumahmya yang kosong. kalau ada barang yang hilang kan aku jadi takut.


"Kunci rumah kakak bawa saja. mungkin nanti diperlukan!". jawabnya memberikan kunci rumahnya padaku.


"Eh!!".


"Aku pergi kak. temanku sudah menunggu!.


Ini aku bungkus saja, dan kakak bawakan pulang nanti". ucapnya membawa piring ketupatnya menuju tempat penjualnya.


Berbicara sebentar dengan penjual, dan langsung keluar warung.


Ada seorang wanita mengendarai motor. dan Anna langsung naik setelah di beri helm.


Aku yang tinggal sendiri terus melanjutkan makan ketupat yang baru separo termakan. mubazir untuk tidak dihabiskan.


"Uni biasa bungkus dua!". terdengar seseorang memesan.


"Kok cuma dua bang?!".


"Ayah dan ibu tidak di rumah uni!".


"Oo!".


Terdengar pembicaraan pembeli dengan yang menambilkan.


"Eh bang! tadi adiknya juga disini bersama temannya. tapi baru beberapa menit yang lalu pergi!". ucap penjaga warung.


"Oh. mungkin dia juga joging sekitar sini!".


aku mendengar saja tanpa mempedulikan mereka. karena memang mungkin tidak kenal.


"Dek ini punya adek iparnya tadi. dia minta dibungkus karena tadi buru-buru!.Yang ini punya dia ditambah mi dan kerupuk.


dan ini buat kakak iparnya, katanya ketupat kuah tunjang. biar kamu mencoba menu yang lain, pesannya tadi". ucap uni pelayan warung yang tadi kenal dengan anna.


"Terima kasih uni.


Oh iya. berapa semua uni?!". tanyaku.


"Sudah di bayar semua dek!". jawabnya.


"Oo. terimakasih uni!". ucapku.

__ADS_1


Menghabiskan minum hangat peneman makan ketupat kuah buntut sapi tadi.


Aku melihat jam di oegelangan tanganku, setengah delapan lewat.


Aku bersiap untuk pulang. pulang menggunakan motor anna.


"Astaghfirullah!". kagetku.


Tiba-tiba seseorang yang sedang berada di kasir membalikan badan karena baru selesai membayar.


hingga menabrak aku yang berjalan menuju pintu keluar.


"Eh maaf!". ucap kami serentak.


Aku dan dia sama-sama terkejut.


"Silahkan!". ucapnya memberiku jalan.


"Terimakasih!". ucapku.


Kami berjalan beriringan keluar warung.


"Apa kabar!". ucapnya saat sampai diluar.


"Kabar baik bang!.


Dinas pagi bang?!". tanyaku berbasa basi.


"Baru pulang. tadi aku dinas malam dan mampir membeli sarapan!". jawabnya.


"Hmm!". aku tidak tahu mau jawab apa.


"kamu kok jauh sekali sarapan ke sini?!. kan dari rumah kamu lebih setengah jam ke taman ini!". tanya dia.


"Aku sudah pindah ke dekat sini bang. abang kok juga beli sarapan disini?. kan abang dinas di polres d. dekat tempat tinggalku dulu?!". tanyaku.


"Aku memang dinas di Polres D, tapi aku tinggal di daerah sini. makanya aku beli sarapan disini, langganan keluargaku dari dulu!". jelasnya.


"Nama kamu Gita kakau tidak salah ya?. maaf aku lupa!". ucapnya.


"Benar bang. Aku juga lupa nama abang!". ucapku malu.


Berbincang akrab, tapi lupa namanya. cuma ingat kakau dia yang membantu almarhum suamiku waktu kecelakaan.


"Namaku Guntur!". ucapnya.


"Oh iya. bang guntur!". jawabku ingat.


"Mau aku antar pulang?!". ucapnya tiba-tiba.


"Terima kasih bang!. aku bawa motor!". jawabku.


"Ok. aku duluan ya!". ucapnya.


"Baik bang!". jawabku.


Dia menuju parkiran motornya, dan aku menuju parkiran di taman sebelah kiri, karena motor Anna tadi di parkir di sana.


Lumayan jauh, tapi parkirannya nampak. sekitar lima menit berjalan santai.


"Katanya pakai motor, kok jalan kaki?!".


Motor bang guntur sudah berdiri di sampingku berjalan.


"Motornya parkir di sana bang, dekat musholla!". jawabku.


"Oh. kalau begitu naik saja, biar aku antar kesana!". tawarnya.

__ADS_1


"Tidak usah bang. nanti di tilang polisi karena tidak pakai helm. eh..". ucapku.


Aku lupa, da jan juga polisi. masih memakai pakaian lengkap.


"Dekat kok, lagian kan tidak melewati lampu merah!". ucapnya.


"Tidak...".


"Naik saja. kalau kamu tidak nau aku iringi sampai parkiran. biar dibilang sedang marahan!". ucapnya.


"Eh...". aku melihatnya.


Menyuruh aku naik ke jok belakang motornya mekalui isyarat mata.


"Mentang-mentang masih memakai pakaian dinas!". ucapku.


Menaiki motor besarnya. Terpaksa aku memegang bahunya untuk bisa naik ke boncengan motornya. Aku duduk miring saja.


"Terima kasih bang!". ucapku.


Saat sampai di parkiran dekat musholla. Aku bepegangan lagi kebahunya untuk turun.


"Sa...!".


"Ooo...


pantas menolak untuk rujuk. Ternyata sudah ada gandengan kamu bang.


Aku sudah berkali-kali mengemis padamu dan mengaku salah. Tapi kamu malah tidak memberiku kesempatan.


Apa kurangnya aku dari dia bang?!".


Tiba-tiba datang seorang wanita yang aku nilai cantik. tapi agak terbuka pakaiannya.


Bagaimana tidak, pakaian yang di pakai perempuan itu terbuka. Apa dia atris. karena gaya berpakaan dab dandanannya glowing dan wow.


Celana hot pant sepaha, cuma memakai tangtop, dan sepatu sket, sana putih warna yang dia pakai. Kulit mulus dan stylis. Seperti artis sedang joging.


"Hak saya untuk bahagia. tidak ada urusannya sama kamu!". ucapnya membantuku untuk turun dari motor besarnya.


"Terima kasih!". ucapku.


"Hati-hati bawa motornya, jangan ngebut dan melamun!". pesannya.


"Baik bang!". ucapku.


Aku berjalan menuju parkiran, tidak memperdulijan mereka. mungkin meteka sedang marahan. pikirku.


"Eh kamu!. dasar pelakor!. sudah tahu dia pinya anak dan istri. nasih saja kamu gaet!". ucapnya menarik tangganku.


Aku menghempas tangannya yang mencekal pegelangan tanganku. hingga dua terhuying kesamping.


Aku kesal di bilang pelakor.


"Hey. Aku sudah menceraikan kamu satu tahun yang lalu. jadi kamu tidak bisa mengangguku seenaknya!". ucap bang guntur tegas.


Dan dia sudah turun dari motornya menariku kesampingnya berdiri.


"Jagan pernah ganggu aku lagi!. kalau tidak ingin aku berbuat kasar". ucapnya dingin dan pandangan tajam.


Lalu dia menariku menjauhi wanita itu, menuju parkiran motor.


"Bang gun!!. aku...!".


"Menjauhlah dari kehidupanku!". ucapnya tanpa melihat kearah wanita itu..


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2