Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 149


__ADS_3

Sama dengan Indri, Dika juga menerima telfon dari anak buahnya, mengabarkan kalau Gita sedang berada di rumah sakit.


Dikirim juga foto beberapa orang mengiringi brangkar menuju ruang intensif.


"Kalian berjaga saja dari jauh, lihat pergerakan anak buah Indri. Dia pasti mau mencelakai Gita.


Kalau ada kesempatan, culik saja Gita. Dan bawa menjauh dari sana.


Aku tidak mau Gita di celakai anak buah Indri". perintah Dika.


"Baik bos". Jawab mereka.


Dika yang tadi menelfon Gita, dan Gita mengatakan kalau dia ada di rumah sakit. Dikapun buru-buru pergi kerumah sakit.


"Antarkan aku kerumah sakit. Gita dalam bahaya". Ujar Dika pada asistennya.


Padahal dia masih berada di loby kantor.


Tadi setelah rapat dengan sang direktur hingga pukul tsetengah delapan malam. Dan juga dua menelfon Gita untuk bertanya keadaannya.


Maka dia buru-buru untuk segera ke rumah sakit. Mendengar kakau Gita berada di sana.


Padahal terakhir berbicara di telfon dengan Gita, Gita juga mengatakan kalau dia di rumah sakit. Tapi dia tidak percaya.


Mendapat telfon dan foto dari anak buahnya, barulah Dika percaya. Dan ingin segera kesana, sebelum keduluan Indri sampai di sana.


Tapi.


Sesampainya di rumah sakit, Dika tidak melihat Gita. Yang dia lihat di ruang tunggu ruang intensif hanya beberapa orang polisi.


Keluarga Gita dan polisi itu juga tidak ada kelihatan.


'Apa Gita ada di dalam ruangan intensif'. Gumam Dika.

__ADS_1


Sebab di sana terlihat beberapa orang duduk berkelompok. Jadi tidak tahu yang mana keluarga Gita.


"Dimana Gita?. Apa keluarganya tidak ada menemaninya?". Tanya Dika pada anak buahnya.


Mereka duduk di sudut lorong ruang tunggu. Yang mana ada beberapa ruang yang mungkin tempat merawat pasien kritis.


"Tadi bu Gita masuk kedalam bos. Orang yang mengiringi tadi kembali masuk lift, dan entah kemana mereka pergi.


Dan kalaupun keluarga mereka kembali kesini, juga tidak tahu yang mana.


Karena kami tidak melihat wajah mereka tadi. Kami sangat jauh berdiri". Jawab anak buah Dika itu.


Dika memandang wajah-wajah para keluarga pasien yang sedang duduk di ruang tungu.


Tapi tidak satupun yang mirip dengan Gita. Lagipula, Dika tidak pernah mengenal keluarga Gita.


"Apa orang suruhan Indri juga berada di sini?". Tanya Dika.


"Sepertinya iya bos. Yang dua orang duduk di dekat pintu kedua dari sini aku curiga bos.


Terus yang duduk di dekat pasangan setengah abad itu juga". Jawab anak buah Dika.


"Tadi kamu mengirim foto, yang mana orang-orang yang mengantar ke ruang ini?". Tanya Dika.


"Tidak ada sepertinya bos. Mungkin mereka pulang atau pergi keruang lain. Atau membeli makan". Jawab anak buah Dika ragu.


"Tapi coba tanya yang berjaga di depan igd. Apa mereka melihat, apa mereka ada melihat". Usul anak buah Dika.


Maka Dika mencari tahu kepada yang berjaga di bawah, depai igd.


"Tadi aku lihat ada yang pergi bos, dua mobil. Setiap mobil ada sepasang paru baya dengan supir yang mengemudikan mobil". Jelas anak buah Dika yang berjaga di depan igd.


"Berarti Gita menjaga sendiri di dalam sana. Apa orang itu keluarga polisi itu dan Gita?. Kok Gita di biar sendirian menjaga". Ujar Dika.

__ADS_1


"Mungkin hanya kerabat bos. Atau mereka pulang untuk mengambil sesuatu. karena saya lihat masih ada beberapa polisi di sini.


Apa di atas masih ada polisi bos?". Tanya anak buah Dika.


"Yang aku lihat hanya berdua. Tapi mereka juga sedang berbincang dengan seorang yang mungkin keluarga polisi itu". jawab Dika.


"Kalian bersiaga saja di sana. Jika Indri datang, kabari segera". Perintah Dika.


Dikapun menyebar anak buahnya. Biar anak buah Indri terlihat pergerakannya.


"Pastikan semua siaga jika Gita keluar ruangan. Pasti dia akan keluar untuk keperluan".


Dija juga menyuruh anak buahnya yang ada di lantai dua bangunan ini.


Tanpa Dika dan anak buahnya tahu, polisi yang berdua itu sedang berbicara dengan papa Guntur.


Yang juga petinggi polisi di kota sebelah.


Dika yang sudah berniat untuk bersiaga, tidak pergi sedikitpun dari kursi ruang tunggu yang berada di sudut lorong.


Padahal waktu sudah lewat pukul sepuluh malam. Berarti sudah satu jam dia duduk di sana berjaga, tapi bukan keluarga pasien yang sedang di rawat.


Dika dan anak buahnya terus berjaga. Bahkan salah satu anak buahnya membeli cemilan untuk penghilang bosan.


Dika yang terlihat lelah tidak mau beranjak dari ruangan itu sedikit pun. Padahal dia sudah di suruh pulang untuk menunggu kabar.


Atau istirahat di mobil, seperti asistennya yang sedang verada di parkiran, Tapi dia tidak mau.


"Bos. Indri ada di bawah". Ujar anak buahnya.


Dia baru saja mendapat kabar dari rekan berjaganya di parkiran dan di depan Igd.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2