
"Apa sudah tahu Gita tinggal dimana??". Tanya Dika.
Saat inibsudah hapir jam pulang kerja. Tapi sang asisten tidak tahu Gita tinggal dimana.
"Mobilnya yang pertama sepertinya masih dilampung. Sedangkan mobil yang di kedua dari waktu itu tidak pernah keluar dari parkiran apartemen.
Tapi saat aku selidik di apartemen tidak ada gita disana tinggal". Jawab sang asisten.
"Apa itu bukan mobil Gita?". Tanya Dika.
"Kabarnya tidak pak. Kan mobil Gita sedang di lampung. Aku juga heran, kok kemaren anak buah kita memasang pengintai dimobil orang lain". Gumam sang asisten.
Dika menganguk paham. Karena dia yang menyuruh orang membuntuti Gita, dan memasang pengintai.
Karena dia ingin mengetahui dimana Gita tinggal, dan semua tentang Gita. Yang akan menjanda karena ditinggal meninggal oleh suaminya.
Dia tahu, mungkin setelah masa iddah gita habis. Bisa saja gita mau dajak menikah.
Atau jadi teman tidur siangnya. Makanya dia akan menjadikan Gita sekretaris pribadinya. Atau...
Tapi.
Malah dia apes, dan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan Gita yang dia rasa bisa da raih.
.
"Kak, dandan kesalon saja. Biar sedikit keluar auranya". Ucap anna.
Sore itu selepas sholat ashar Anna menyuruh Gita untuk segera berhias.
Karena Guntur akan menjemput selesai magrib.
"Dandan sendiri saja. Aku bisa dandan kok". Jawab Gita.
Gita masih santai sambil tiduran. Karena tidak melakukan kegiatan.
Padahal mamanya guntur sudah sibuk dari tadi sudah sibuk menyiapkan segala sesuatu.
Kring...
Tiba-tiba ponsel Gita berbunyi.
__ADS_1
Dari calon suami.
Ah. Gita belum menganti nama kontak yang dibuat guntur waktu itu.
"Assalamualaikum".
"Iya. Aku dandan sendiri saja.
Tidak. Aku malas. Kan cuma menghadiri pesta saja. dan juga malam.
Buat apa dandan ke salon. Perginya cuma sebentar kok". Jawab Gita.
"Jangan...
ah terserahlah.
Waalaikumussalam". Jawab Gita.
Hffff.
Tidak lama Gita berdiri dan mengambil baju yang dibeli kemaren. Gamis borkat itu sudah dia strika kemaren, juga yang punya Guntur.
"Oh ya?". Anna pura-pura tidak tahu.
"Aku disini saja dandannya". Jawab Gita.
"Ok. Akan aku lihat, dan bawa kesini muanya". Jawab Anna keluar kamar tamu yang di tempati anna.
Tidak lama datanglah anna dan juru rias.
"Sudah hampir pukul lima. Sebaiknya kakak berwudhu dulu deh. Nanti pas azan magrib bisa langsung sholat". Usul mua cantik itu.
"Ok". Gita pergi kemamar mandi, untuk berwudhu.
Benar juga usulan mua itu. Nanti dia langsung sholat magrib, jika azan berkumandang. Dan sholatnya tidak tertinggal.
Benar. Setelah melaksanakan sholat magrib gita langsung memakai gamisnya, juga hijab cantik.
"Kak. Baju bang Guntur aku bawa ya. Dia sudah selesai sholat". Ucap anna masuk kamar Gita.
"Ambil saja". Jawab Gita.
__ADS_1
Pukul setengah tujuh Gita dan Guntur berangkat dari rumah orang tua guntur.
Guntur membantu membukakan pintu untuk Gita. Dan tidak lupa anna mengantar gita keluar rumah sampai naik mobil.
Dan tidak terperhatikan oleh Gita. Anna sudah dandan. dan memakai baju cantik.
Saat akan menaiki mobil, Gita melihat ramai warga di rumah buk rt. ibu kos Gita waktu itu.
"Ada acara apa di rumah bu rt bang?!". Tanya Gita.
Saat Guntur mengklakson dan mengangguk pada mereka yang ada di sana.
Semua tersenyum dan melambaikan tangan.
Guntur mengajak gita berbicara sepanjang perjalanan. Agar tidak bosan, karena terlalu jauh perjalanan.
Karena keasyikan mengobrol, Gita bahkan tidak sadar kalau mereka menuju rumah orang tua gita yang juga sudah siap menerima kedatangan mereka.
Bahkan Gita juga tidak tahu. Mobil yang dikendarai guntur diikuti oleh beberapa mobil dibelakang.
"Abang!". Kaget Gita saat mereka baru sampai di depan rumah Gita.
Bagaimana tidak kaget. ramai keluarga inti Gita berdiri di teras menunggu mereka datang.
"Bismilah Gita.
Kita masuk yuk. Mereka sudah menunggu". Ucap Guntur mengelus bahu Guta yang terbelalak kaget.
Terdiam.
Tiba-tiba kaca mobil tempat Gita duduk di ketuk. Dan abang gita menyuruhnya turun.
"Bisa jelaskan?". Ucap gita melihat Guntur.
"Aku jelaskan di dalam. Di depan semua orang. Ayo. Abang Zai menunggu". Ucap Guntur.
.
.
.
__ADS_1