
'Bagai mana rasanya di pelototi orang yang pernah kamu buat celaka'. Gumam Guntur dalam hati.
Walau dia bersikap cuek, sesekali dia memandang Dika yang terlihat sedikit panik dan gagu. Mungkin berkeringat dingin.
Guntur memang bersikap santai. Tapi pandangannya yabg sesekali sangat mengintimidasi.
Gitapun bersikap tenang. Walau sesekali mereka bertemu pandang. Dan Gita tidak menunjukan respon apa.
Dia memandang seolah tidak saling kenal. Dia ingin bersikap profesional. urusan pribadi di kesampingkan, dan urusan perusahaan diutamakan.
Selesai sang asisten Dika mempresentasikan rencana kerja yang akan mereka sepakati. Dia langsung duduk di samping Dika.
Dia melihat bosnya itu yang sedikit gelisah. Walau tidak menunjukannya.Tapi sang asisten tahu, bosnya merasa terganggu saat melihat Gita yang ternyata pimpinan perusahaan yang akan bekerja sama dengan mereka.
Juga suami Gita, polisi yang pernah dia buat celaka ternyata tidak begitu parah. Tidak meninggal seperti yang dia inginkan. Untuk dia bisa mendapatkan Gita kembali.
Setelah sang asisten selesai, Gita sebagai pimpinan menyuruh direktur perencanaan dan pembangunan berpendapat.
Pembicaraan di kuasai para kepala bagian, karena setiap pembicaraan diarahkan ke Gita, Gita menyuruh para kepala bagian yang berbicara.
Gita hanya mendengar dan bertanya sesekali. Yang penting saja.
Pembicaraan tentang perencanaan kerja sama sangat terbuka.
"Saya sangat tertarik dan suka dengan persentasi dari perusahaan A.
Seperti yang kita ketahui, rencana kerja sama yang tertunda ini semoga baik untuk kedepannya.
Dan kerja sama ini akan terlaksana dengan sempurna dan saling menguntungkan
Pak direktur perencanaan pembangunan yang akan melanjutkan kerja sama ini. Sebab pembicaraan juga bapak dan pak Ibrahim dulu yang menangani". Ujar Gita.
"Sepertinya kerja sama ini dapat segera kita lanjutkan. Sebab pembangunannya akan segera di mulai.
__ADS_1
Untuk berkas kontrak kerja sama akan kita bicarakan di pertemuan berikutnya". Ujar asisten Gita menutup pertemuan.
"Baik. Kabarkan saja kapan kami akan datang kesini membawa persyaratan kerja sama". Jawab asisten Dika.
Semua sama-sama senang dengan hasil pertemuan ini. Dan juga berjanji akan berusaha bekerja dengan baik.
Tapi tidak dengan Dika. Dia merasa was-was. Kalau Gita akan mempermainkannya. Karena ada dendam.
"Kalau bisa tanda tangan kontrak di lakukan dalam minggu ini. Karena kami akan sibuk minggu depan sampai awal bulan". ujar Gita.
"Baik bu. hari ini akan kami selesaikan. Dan besok kami harap pihak perusahaan A bisa mempersiapkan juga, dan kita akan tekan kontrak". Ujar asisten Gita.
"Sebentar pak. Kami diskusi dulu dengqn tim kami". pinta asisten Dika.
"Silahkan!". ujar asisten Gita.
Lalu mereka berempat yamg datang dari perusahaan Dika berbicara. Sang sekretaris membuka laptopnya, dan Dika pun setuju dengan uraian asistennya, yang menyatakan kalau bisa hari ini mereka tekan kontrak.
Dan isinya akan ditanya dulu dengan pihak Gita. Jika sesuai akan mereka print segera.
"Setelah kami berbincang, bagaimana kalau kita langsung kerja sama. Dan tanda tangan kontrak hari ini.
Biar kita bisa langsung melihat lokasi yang akan kita kerjakan". Ujar asisten Dika.
"Bagaimana pak direktur perencanaan dan direktur keuangan?.
Apa bisa kita langsung tekan kontrak kerja sama?". Tanya Gita pada kepala bagian perusahaannya.
"Boleh saja. apakah semua berkas sudah di siapkan. Dan juga akan kita bicarakan isi kontraknya". Jawab direktur petencanaan dan pembangunan.
Asisten Dika juga sedang memikirkan bosnya yang sedang di teror Indri.
Jika hari ini kerja sama di tanda tangani, bosnya bisa pergi keluar kota ke pulau k untuk memantau proyek bersama tim perusahaan Gita dan perusahaannya.
__ADS_1
"Baik. Kita lanjut tentang kontrak kerja. Jika kontrak kerja sudah di tanda tangani, tidak ada yang bisa memutus kerja sama secara sepihak.
Akan ada sangsi yang melanggarnya". ujar Gita.
Dia memang sudah yakin akan bekerja sama dengan oerusahaan orang tua Dika. Karena memang sudah dirwncanakan dari jauh hari. Pembicaraan papa dika dan pak Ibrahim.
Setelah berbincang dan membuat surat kontrak yang sesuai dengan kesepakatan, maka kontrak kerja di tanda tangani.
Gita sebagai pimpinan perusahaan menyerahkan pada kedua direktur bagian untuk melaksanakannya dan penanggung jawab.
Di bagian perusahaan Dika, dia yang bertanggubg jawab. Berdua juga dengan kepala bagian perusahaannya.
Gita sebagai pimpinan hanya sebagai pengawas dan pendamping.
Menjelang azan ashar, pertemuan selesai. Dika sangat senang katena dia bisa mendapatkan kerja sama dengan perusahaan Gita.
Dan dia bisa pergi kepulau k untuk menghindar dari Indri. Dengan alasan bekerja di luar kota.
Tapi...
"Kerja sama antar kedua perusahaan ini sudah bisa di lanjutkan. Kepada yang bertanggung jawab sudah bisa mensurvei lokasi dan juga mengarahkan tim untuk melihatnya langsung kesana.
Aku akan datang untuk peletakan batu pertamanya nanti". Ujar Gita.
Semua senang mendengar Gita yang akan turun langsung untuk mengawali pembangunan.
"Tapi aku ada urusan pribadi dengan bapak Andika. Dan ini diluar urusan pekerjaan". Tambah Gita.
Melihat kearah Dika.
.
.
__ADS_1