
Ada wajah kecewa dari teman kos yang baru aku kenal. mendengar pengakuan bang Guntur.
Bahkan dia berdiri di dekatku yang sedang duduk dimaja makan. Dan hanya keempat teman kosanku yang sarapan.
Aku saja kaget dengan ucapan blak -blakan bang guntur. Mana baru tadi dia mengetahui tentang adik usilnya nenanggilku kajak ipar.
Dan dia langsung bilang calon istri. dan parahnya bilang akan menikah bulan depan.
Sungguh bikin kesal. sama usilnya dengan Anna adiknya. kesel aku. ingin mencubiti bocah itu. juga bang guntur. eh
Gara-gara anna memanggilku kakak ipar.
"Gita??". mereka nemanggilku.
"Aku...!".
"Maaf. gita tinggal disini karena menjaga agar tidak jadi bahan gunjingan yan perkataan yang tidak enak di komplek ini.
Tapi setelah menikah akan pindah ke rumah depan. rumah orang tuaku!. ya kan sayang?!". potong bang Guntur tersenyum nemandangku.
"Meleleh aku pak polisi. melihat senyummu!!". ucap Olive lebay.
Aku menatap Bang guntur melotot, marah.
"Jangan melotot. tidak cantik!". gombalnya.
"Gita!. ini si polisi dingin Gunturkan?!. kok bisa senyum manis dia sama kamu?!". tanya Mitha heran.
Semua menatap bang Guntur bersama, juga menatapku.
"Benar.
Aku cuma mau tersenyum pada calon istriku!". jawabnya dengan wajah tanpa senyum. Datar dan dingin.
Tapi saat melihatku, wajahnya tersenyum tipis tapi manis.
"Sedihnya aku. ternyata aku menjaga jodoh orang. mana jodohnya teman kosan aku lagi!". ucap Silvia menampakan wajah sedihnya.
Aku mengaruk keningku. Ingin aku gigit saja dia. eh.
"Bang. pulang sana!!". ucaku pelan.
Berniat mengusirnya. bikin malu saja dia.
"Iya, sebentar. aku cuma mau mengabarkan kalau nanti malam kerumah. ada yang ingin aku bicarakan!
__ADS_1
Kalau bicara sekarang orang dirumah sedanh kosong. nanti kita di grebek mereka!". Tunjuk bang guntur pada teman kosanku dengan matanya.
"Hah!!". ujarku cengo.
"Kalau kalian berdua dirumah, aku lapor bu rt. biar di grebek dan langsung dinikahkan!". ancam mitha.
"Eh jangan. kami ingin menikah secara baik-baik. lagi pula bulan depan juga akan menikah kok!". ucapnya.
"Bang!! jangan asal ngomong". ingatku.
"Tidak asal. aku sedang menyiap kan acara lamaran. nanti malam kita bicara dengan papa dan mamaku!". jawabnya.
Seperti sudah ada pembicaraan sebelumnya. padahal kan baru tadi aku bertemu dia setelah beberapa bulan yang lalu. saat dia datang menyerahkan dompet dan ponsel almarhum suamiku.
"Bang!!". ucapku sedikit menaikan suaraku.
"Iya sayang. Abang pulang!". ujarnya.
Lalu
"Jaga calon istriku ya!". Tambahnya melihat semua teman kosanku.
"Senyum dulu bang!". goda oliv.
"Senyumku hanya buat calon istriku!". ujarnya Datar.
"Gombal!". ucap mitha.
"Biar saja. sama calon istriku juga.
Assalamualaikum!". ucapnya pergi dari ruang makan tempat kosanku.
Hff. aku menarik nafas pelan.Ada rasa kesal dan juga malu.
Mau marah padanya kalau ucapannya itu asal ngomong. tapi aku juga kasihan, kalau dia malu di depan teman kosanku. yang..
"Kamu benar calon istrinya bang guntur?!". Tanya Hani melihatku.
Aku tergagap mau jawab apa. mau bilang tidak, tentu akan buat bang guntur malu. karena dia sudah pd bicara.
Mau bilang iya. kan tidak juga.
"Aku..!".
"kan sudah dengar dari bang guntur tadi Han!. mau apa lagi.
__ADS_1
Berarti kamu memang hanya diizikan jadi pengagum rahasianya saj!". jawab mitha.
"Iya Hani!". tambah oliv.
"Aku juga sedih. ternyata usahaku untuk menjadi pacar bang guntur ppus sudah!". ucap Silvia sedih.
"Drama kamu Sil. pacar kamu mau di tarok dimana?!". ucap mitha.
"Disimpan di hotel saja!". jawabnya asal.
Brak..
Hani menghempaskan sendoknya kepiring. menghentikan sarapannya yang tinggal separo.
Lalu pergi dengan menghentakan kakinya, menaiki tangga menuju kamarnya.
Kami saling pandang.
"Maaf!". ujarku pelan.
Gara-gara ocehan bang guntur aku jadi tidak enak hati. Aku harus bicarakan dengan dia.
Tapi untuk kerumah dia aku tidak berani. kan katanya dia sendiri di rumah. berarti anna brlum pulang.
"Tidak perlu minta maaf. kan kamu tidak salah.kamu dan guntur yang akan menikah, berarti punya hubungan serius.
Dia saja yang sedikit baper. katena merasa kecewa. biasa itu!. patah hati!". ujar mitha.
Aku hanya mengangguk.
Anna....
Awas kamu. akan aku bikin kulitmu bercorak nanti, kucubiti. kesalku.
Kami bubar dari meja makan, dan kembali kekamar masing-masing.
Aku harus menelfon Anna. ujarku mengambil ponselku yang tertinggal di kamar.
Astaghfirullah.
Kan aku tidak punya nomor ponsel nya!.
Aku menepuk jidatku. kami belum saling tukar nomor ponsel.
.
__ADS_1
.