
Selesai makan, Guntur mengajak Gita untuk melihat mobilnya.
"Maaf Guntur, mobil ini aku bawa keluar sebentar. Karena sudah lebih sebulan terkurung. Hanya dipanaskan saja sekali tiga hari.
Kemaren aku bawa ke tempat cuci mobil. Debunya sudah tebal. Dan sedikit kucel". Ujar Tio.
Tio adalah salah satu chef di restoran bebek ini. Dan juga masih saudara jauh dari pihak ibu Guntur.
"Tidak apa. Yang penting jaga saja mobilnya dengan baik. Dan kalau ada yang menanyakan tentang mobil itu pada mu Tio, jawab saja punya kamu". Ujar Guntur.
"Kenapa?". Tanya Tio.
"Apa kamu lupa kenapa mobil ini di titip disini?". Tanya Guntur.
"Oh iya. Aku lupa. masalah alat itu". Jawab Tio.
Gita dan Guntur melihat mobil Gita.
"Aman kok mobilnya disini. Kalau situasinya sudah aman. Kamu boleh kok kembali memakainya. Tapi harus pakai supir". Ujar Guntur.
"Aku sudah nyaman dengan mobil yang sekarang kok bang". Ujar Gita.
Sebenarnya Gita sedikit malas memakai mobil ini. Mobil yang sering di pakai almarhum suaminya.
Dia berfikir, pasti mobil ini sering dibawa selingkuh oleh almarhum suaminya.
Almarhum suaminya pernah katanya dinas keluar kota beberapa hari. Dan ia yakin bukan dinas, karena peeginya di akhir pekan.
Pasti pergi selingkuh keluar kota.
"Sudah temu kangennya dengan mobilnya?". Tanya Guntur pada istrinya.
Gita hanya mengangguk saja. Sambil tersenyum tipis.
Mereka melihat mobil Gita yang sangat bersih. Karena kemaren kata Tio di cuci dan di servis.
Ada sedikit rindu hati Gita dengan mobil itu. Karena mobil itu pilihan berdua dulunya.
Tapi sudut hati Gita juga merasa sakit. Mengingat perselingkuhan almarhum suaminya.
"Kita pulang?". Tanya guntur.
Setelah sekitar lima menit mereka melihat mobil. Dan Guntur berbincang dengan tio.
"Iya bang". Jawab Gita.
Guntur mengajak Gita keluar restoran. Mereka berbimbingan dan Guntur membukakan pintu mobil untuk Gita.
Dengan santai mobil yang di kemudikan Guntur keluar dari parkiran restoran Bebek memasuki ramainya jalanan.
__ADS_1
Apalagi saat siang begini. Waktunya masih istirahat siang para karyawan yang sedang mencari maka siang.
Mobil yang di kemudikan Guntur baru saja melewati persimpangan lampu merah.
Tiba- tiba Ponsel Guntur berdering. Ponsel yang terletak di atas gantungan ponsel di dashbord menampilkan nama penelfon.
Anak buahnya. Guntur mengangkatnya dengan memakai heatset di telingganya.
"Iya.." ujar Guntur.
".....".
"Aku sudah tahu. Alat sensor di mobil mendeteksi sinyal. Dan ponselku bergetar juga". Ujar Guntur.
"....".
"Ok". Jawab Guntur. Menutup panggilan telfon.
"Sayang. Kita di buntuti. Tapi kamu santai saja. Mereka tidak akan bisa berbuat lebih, selain membunti saja". Ujar Guntur.
"Siapa kira-kira yang membuntuti kita ya bang?". Tanya Gita.
"Bisa jadi mantan bos mesum kamu sayang. Hanya dia abang rasa yang mencari-cari". Jawab Guntur.
"Bisa jadi sih. Terus bagaimana bang?". Tanya Gita.
"Kita ajak dia putar-putar dulu, sekalian mencari tahu apa benar dia disuruh bos mu itu". Ujar Guntur.
"Bang, berarti mobil ini sudah di tandai mereka bang. Akan mudah mereka mengintai kita". Ujar Gita.
"Biar saja mereka tandai. Tapi mereka tidak bisa memasang pemindai atau alat apapun di mobil ini.
Karena mobil ini punya keamanan lebih. Dan pakai alat pendeteksi juga. Cctvnya juga ada, langsung terhubung pada ponselku.
Tadi mungkin mereka memotret mobil ini. Makanya ada reaksi dari alat pendeteksinya". Jelas Guntur.
Sesekali guntur melihat motor yang mengiringi mereka di tengah kemacetan.
Orang itu memakai helm biasa dan memakai masker. motor yang dipakainya hanya motor matic.
Guntur terus mengendarai mobilnya membelah jalanan kota.
Guntur menepikan mobilnya di sebuah mini market.
"Kenapa kesini bang?!". Tanya gita.
"Lihat saja nanti". Ujar Guntur.
Guntur melihat pemotor tadi. parkir di sebelah kiri mini market. Di parkiran motir. Beberapa mobil membatasi antara parkiran motor dengan mobil guntur.
__ADS_1
Setelah parkir, terlihat pemotor itu tidak turun dari motornya. Tapi menghadap kearah parkiran mobil. Guntur yakin kalau dia mengintai mobil yang di kendarai Guntur.
Dia mengeluarkan ponselnya, seperti akan menelfon.
Brak..
Tiba-tiba pintu belakang mobil yang di kendarai Guntur dibuka.
Gita kaget. Melihat dua orang memasuki mobil suaminya. satu laki-laki dan satu perempuan.
"Kamu pindah kebelakang sayang. Lewat tengah jok saja". Perintah Guntur.
Tanpa bertanya Gita pindah ke bagian belakang. Lalu yang wanita pindah ke jok depan.
Kemudian Guntur pindah ke jok belakang. Dan yang laki-laki pindah ke jok depan.
"Siap!". Ujar guntur.
"Ok". Jawab mereka.
Lalu yang laki-laki turun. Seperti yang biasa dilakukan Guntur. Dia mengelilingi mobil kedepan. Membukakan pintu untuk si wanita.
Si wanita keluar, dia berdiri sebentar. memasang masker diwajahnya.
Sementara keduanya sibuk. Guntur mengajak Gita untuk keluar mobil untung pintu mobilnya pontu geser. Hingga tidak mrnganggu mobil di sebelah yang terparkir rapat.
Mereka turun agak menunduk, agar tidak terlihat oleh si penguntit tadi.
Tapi...
Guntur malah membuka pintu mobil yang di sebelah.
"Ayo!". Ahak Guntur.
Gita mengikuti saja perintah suaminya.
Setelah pintu mobil di tutup. Seperti sebuah kode, Kedua orang yang baru turun dari Guntur tadi menyudahi sikap manis mereka.
Seolah membantu membenarkan masker yang di pakai sang wanita.
Saat keduanya memasuki mini market. Terlihat pengendara motor tadi membuka helmnya. Dan mendekati mobil Guntur.
Guntur dan Gita yang berada di mobil sebelah melihat apa yabg akan di lakukan pengendara tersebut.
"Iya bos. Bu Gita ada di mini market Laris, dijalan kesehatan. Segera bos kesini.
Mereka baru saja masuk mini market". Ujar sang pengendara motor tadi.
Gita Dan Guntur saling pandang.
__ADS_1
.
.