Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 170


__ADS_3

Indri di paksa masuk selnya kembali. Setelah guntur dan istrinya pergi dari depannya.


Di balik pagar tinggi Indri melihat kepergian mobil yang membawa mantan suaminya.


Dia sangat kaget melihat ketidak pedulian mantan suaminya itu.


Padahal waktu masih jadi istrinya, Guntur sabgat care dan peduli.


Bahkan perlakuannya sama seperti Guntur pada istrinya, merangkul bahu istrinya saat berjalan.


Mesra, walau memakai tongkat penyangga.


'Aku harus keluar dari sel ini. Kalau bisa aku tidak samoai disidang agar tidak ada tuntutan'. ujar Indri dalam hati.


Dia berniat untuk meminta temannya untuk mencari pengacara handal, agar dia tidak dipenjara. Setidaknya hanya beberapa bulan dia bisa bebas.


Dia duduk bersandar di dinding sel nya. Memikirkan yang akan dia rencanakan.


Ingin menelfon seseorang, dia tidak dibolehkan membawa ponsel. Ponselnya tertinggal di apartemen.


"Siapa ya yang bisa aku minta tolong?". Pikir Indri.


Dia sudah lebih dua jam bermenung. Memikirkan siapa yang akan dia minta pertolongan. Dan bagaimana caranya bisa mendapatkan pengacara, bisa membantu membebaskan atau untu meringankan tuntutan.


.


"Apa abang yakin kalau dia tidak akan menganggu kita lagi?". Tanya Gita.


Karena tadi dia melihat mantan istri suaminya itu terlihat marah dan geram. Melihat suaminya yang tidak peduli padanya.

__ADS_1


Apalagi tadi dia melihat sorot mata penuh kebencian memandang dirinya.


Sekarang mereka sedang menuju apartemen mereka.


"Tidak mungkin bisa sayang. Kasusnya sangat berat. Kurir narkoba itu lama tuntutannya. Apalagi tadi kata Firman dia sudah beberapa kali membawa barang haram itu.


Paling tidak lima belas tahun. Itu paling sedikit". ujar Guntur.


Guntur mengatakan hukuman seorang kurir yang lama. juga bisa seumur hidup.


"Semoga kedepannya dia tidak menganggu kita bang. Dan kalau dia bebas nanti, dia menjadi pribadi yang baik.


"Iya sayang. Semoga dia sadar dengan kelakuannya yang selama ini salah.


Bisa menerima semua yang pernah dia lakukan. dan hasilnya seperti sekarang". Jawab Guntur.


Gita pun berharap demikian. Dia ingin hidup tenang bersama keluarga kecilnya.


"Bang. Kita mampir di restiran padang ya. Aku pengen beli ayam cabe hijau, rendang dan sayur kapaunya". Ujar Gita.


"Tidak mau makan di restoran saja". Usul Guntur.


"Tidak bang. Aku mau makan di rumah saja. Lebih nyaman makan sambil selonjoran". Jawab Gita.


"Ok. Tapi asisten kamu saja yang turun ya. Pasti capek antrinya nanti". Ujar Guntur.


"Tidak usah antri bang. Aku telpon saja kasirnya. Dia temanku.


Biar dia siapkan pesananku dan diantar ke mobil". Jawab Gita.

__ADS_1


Guntur mengangguk paham. Dengan ucapan istrinya.


Lalu Gita menelfon temannya yang kasir restoran padang yang ada di jalan menuju pulang ke apartemen.


Meminta ayam hijau satu ekor, rendang, sayur juga aneka kerupuk khas padang.


"Apa tidak kebanyakan ayamnya satu ekor?. Utuh ayamnya maksudnya?". tanya Guntur.


Membayangkan ayam utuh dan besar meja makan.


"Bukan satu ekor utuh bang. Beberapa potong ayam yang di gulai cabe hijau". Jawab Gita.


Guntur mengangguk paham.


Benar ucapan Gita, saat mereka sampai di depan restoran, pegawai restoran sudah berdiri menunggu dengan satu bungkusan.


Gita memanggilnya dengan menurunkan kaca mobil. Pegawai restoran itu langsung memberikan bungkusan yang sedikit besar itu pada Gita.


setelah mengambil makanan pesanan di restoran padang. Sang asisten mengantar bosnya ke apartemen.


Dan dia pulang keapartemen miliknya yang tidak jauh dari gedung apartemen Gita. membawa mobil bosnya itu.


Karena besok akan menjemput lagi untuk pergi bekerja.


Semenjak Gita bekerja dan disupiri asistennya, Gita tidak akan keluar lagi jika sudah sampai di apartemen.


Kalaupun mau pergi, dia akan menelfon asistennya itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2