Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Indri Datang


__ADS_3

"Aku jadi malas untuk berada di tempat umum bang. Apalagi kalau mereka tahu aku hamil.


Bisa-bisa mereka merencanakan sesuatu yang berbahaya padaku". Ujar Gita pelan.


Takut terdengar orang yang sedang menguntit mereka. Gita tidak tahu orangnya yang mana dan duduk dimana.


"Santai saja sayang.


Kalau kamu sedang pergi bertemu klien ke tempat umum, abang akan tempatkan pengawalan di sekitar kamu.


Agar mereka tidak bisa mendekati atau berniat mencelakai kamu". Ujar Guntur.


"Dan kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa cuti saja untuk sementara sayang.


Kamu istirahat saja menjaga calon bayi kita". Ujar Guntur.


Memberi pilihan pada istrinya. Diapun merasa tenang jika sang istri tidak sibuk bekerja.


"Kalau berhenti mungkin tidak bisa bang. Kan aku diberi tanggung jawab oleh papa mengelola perusahaan cabang di kota ini.


Lagi pula, mungkin juga aku akan bosan dirumah saja". Ujar Gita.


Dia sudah diberi kepercayaan mengelola perusahaan di kota ini oleh orang tuanya.


"Kalau abang izinkan aku tetap bekerja, aku cuma minta agar aku hanya bekerja di kantor saja.


Untuk urusan pertemuan klien di luar aku serahkan pada asisten saja". Tambah Gita.


"Setuju sayang. Abang juga tidak melarang kamu untuk bekerja kok. Kamu juga butuh kesibukan juga tapi jangan terlalu sibuk, agar tidak kecapekan.


Abang juga setuju jika kamu cukup bekerja di kantor saja. Dan urusan di luar kantor di tangani asisten kamu dan perwakilan saja". Ujar Guntur.


Dia tahu istrinya biasa sibuk dan bekerja. Tentu dia tidak mau menyuruh untuk di rumah saja berdiam diri.


Untuk aktif di kesatuan istri polisi juga tidak akan mengizin kan dulu karena sedang hamil.


Beberapa bulan kemaren Gita hanya ikut kegiatan senam saja di akhir pekan bersama ibu bhayangkari di asrama atau di lapangan dekat asrama.


"Dan kalau kamu capak atau lelah abang tidak izinkan untuk pergi bekerja ya sayang. Cukup dari rumah saja". Ujar Guntur.


"Iya bang". Ujar Gita.


Dia juga ingin menikmati dan menjaga kehamilannya. Sudah lama dia menginginkan untuk hamil. Dan baru setelah satu tahun pernikahan keduanya ini baru di beri kepercayaan untuk hamil.


Tentu dia akan menikmati masa hamil mudanya ini.


Mereka berbincang sambil menikmati minuman dan cemilan yang mereka pesan tadi. Sambil melihat langit sore kota yang cerah.


"Sayang. Kenapa kamu tidak menanggapi pesan aku bang!".


Ujar seseorang yang sudah berdiri di samping kiri Guntur dengan tiba -tiba.


Sedangkan Gita istrinya duduk di sebalah kanannya. Kursi di meja mereka hanya dua, dan mejanya berada di sisi pagar, yang bisa me lihat pemandangan kota besar dari ketinggian.


Hingga tidak tahu ada yang datang.


"Maaf. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan kamu. Aku sudah menikah dan sudah punya istri". Jawab Guntur.


Guntur menanggapi santai wanita itu.


Gita melihat sekilas, seperti pernah melihatnya. Tapi lupa dimana pernah bertemu.


Wanita yang cantik. tinggi, langsing, putih. Dandanan cantik dengan rambut panjang yang di warnai pirang.


Seperti model atau artis.


"Tidak bisa begitu bang, kita masih punya anak yang harus di perhatikan. Dan butuh perlindungan dari kamu.


Kamu tidak bisa meninggalkan kami hanya karena wanita ini". Ujarnya.


Dia menarik lengan kiri Guntur untuk menjauh dari Gita. Tapi Guntur menepis keras tangan itu.

__ADS_1


"Indri. Aku sudah menceraikan kamu. Dan kita sudah tidak ada apa-apa lagi". Tegas Guntur.


Ya. Wanita yang datang itu adalah Indri. Mantan istri guntur yang di talak karena ketahuan selingkuh dan ngamar dengan laki-laki lain.


Gita yang mendengar ingat, kalau pernah bertemu di taman waktu joging dulu.


"Anak kita masih kecil bang. Dia butuh sosok ayah untuk masa perkembangannya.


Aku dan anakmu kamu telantarkan hanya demi seorang janda. Janda yang mandul. Dan tidak akan bisa melahirkan penerusmu". oceh wanita itu.


Guntur sangat geram mendengar, karena Indri yang mengoceh.


Dan beberapa pengunjung cafe ikut berbisik menyalahkan Guntur dan Gita.


Apalagi mendengar ucapan Indri yang mengatakan Guntur meninggalkan keluarganya demi janda.


"Dasar pelakor tidak tahu diri...


"Malu sama hijab mbak..


"Memalukan. Berhijab kok pelakor..


"Dasar wanita rendahan..


Banyak lagi ocehan pengunjung yang yang membuat Gita malu, dan merasa terhina.


"Benar mbak-mbak semua. Wanita ini merebut suamiku dariku dan anakku, hingga kami terlantar.


Janda gatel yang di tinggal mati suaminya. Dan tidak bisa punya anak.dengan teganya dia mengaet suamiku yang masih punya istri dan anak". Ujar Indri.


Memprovokatori para ibu-ibu di cafe itu. Cafe yang ramai untuk menikmati sore di rooftop mall.


"Dasar pelakor!".


Tiba-tiba sebuah gelas melayang kearah Gita. Untung hanya melewati sisi kanan tangan Gita, hingga gelas itu mendarat di meja.


Melihat hal itu membuat yang lain ikut-ikutan melempar gelas dan apapun yang ada di sana.


Entah komando dari siapa, tubuh Gita dilindungi oleh tiga orang pria yang tidak tahu datang dari mana.


"Jangan lindungi pelakor itu..


"Bikin malu wanita muslim saja..


"Dasar janda gatal..


"Murahan..


Oceh pengunjung cafe beramai- ramai, sambil melempar semua yang ada di depan mereka.


Hingga pakaian pria yang melindungi Gita kotor oleh makanan dan minuman para pengunjung.


Gita hanya bisa diam duduk menelungkup di meja. Sedih dan malu.


Dalam suasana kacau itu, datanglah keamanan dan nanejer cafe. Menenangkan kekacauan.


"Stop... Stop...


Ada apa ini?!". Teriak keamanan cafe.


"Usir pelakor itu dari sini. Bikin malu nama wanita saja". Ujar seorang wanita.


"Pelakor itu yang harus diusir sendiri. Suamiku jangan!". Teriak indri.


"Usir...


"Usir...


Teriak yang lain.


"Tunggu. Kita harus tahu dulu ceritanya. Tidak bisa main hakim sendiri.

__ADS_1


Kita tanya du jedua belah pihak. Baru kita bisa ambil kesimpulan". Ujar krananan cafe.


"Sebagai manager cafe ini, aku juga bertanggung jawab pada keamanan dan keselamatan pengunjung.


Sebaiknya kita tanya meteka yang bersangkutan. Agar tidak salah menjudge seseorang". Ujar maneger cafe bijak.


"Apa yang harus di jelaskan pak. Jelas-jelas itu istrinya. Dan suaminya membawa pelakor". Ujar yang lain.


"Usir saja..


"Kita belum dengar dari pihak suaminya buk, mbak.


kita baru mendengar dari pihak istri. Mungkin ada ucapan atau yang ingin di ungkapkan sang suami". Jelas maneger cafe.


"Pembelaan..


Itu basi pak". Jawab seorang ibu.


"Iya. Pelakor..." ujar Indri masih memprovokatori.


"Lebih baik dengar dulu. Biar semua tahu.


Cukup diam dan dengar". Teriak seorang keamanan.


Semua terdiam. Mendengar herdikan keamanan itu.


"Kepada bapak, coba jelaskan apa yang bisa kami dengar dengan baik. Agar tidak terjadi kesalah pahaman". Ujar maneger itu pada Guntur.


Guntur sedang menenangkan Gita. istrinya yang hanya diam menelungkupkan wajahnya di meja.


Sementara Ketiga pria masih berdiri menjadi tameng untuk menahan serangan lemparan benda dari para pengunjung cafe.


Guntur berdiri setelah mengelus kepala Gita yang terbungkus hijab. Menghadap kearah manejer cafe berdiri, juga ada dua orang keamanan.


Lalu melihat kesekeliling, memandang para pengunjung yang melihatnya geram dan kesal.


Terlihat dari pandangan mereka melihat Guntur.


"Ganteng. Tapi jahat


"Tidak bertanggung jawab.


Ucap beberapa orang. Saling berbisik dan mengoceh.


"Dia adalah mantan istri saya yang sudah saya talak dan saya ceraikan dua tahun yang lalu!". Ujar Guntur dengan suara yang sangat jelas terdengar.


Menunjuk Indri yang berdiri di dekat mejanya, samping kirinya.


Hingga suara yang tadi berbisik tidak terdengar lagi. Sunyi. Senyap.


Semua fokus memandang Guntur.


Guntur berdiri sambil melihat kesekeliling. Pada mereka yang ada di sana.


Di pandanginya wajah para ibu-ibu dan juga para wanita yang sedang melihatnya geram.


"Wanita itu saya talak karena tertangkap basah sedang berzina dikamar hotel, melayani laki-laki yang bukan suaminya.


Padahal anak kami waktu itu baru berusia tiga bulan.


Karena saya merasa tertipu dan ragu dengan anak itu, maka saya tes dna sampai tiga kali. Hasilnya sama. Bahkan sampai ke singapur untuk melakukan tes dna.


Dan ternyata anak itu bukan darah daging saya". Jelas Guntur.


Membuat suasana semakin sunyi. Semua terdiam.


"Lalu. Apa salah jika saya yang sudah bercerai darinya untuk menikah lagi. Untuk memulai hidup baru bersama istri saya.


Dan apa salah jika saya mengembalikan anak yang bukan darah daging saya padanya. Pada orang tuanya.


Dimana letak kesalahan saya dan istri saya pada mereka yang jelas- jelas bukan tanggung jawab saya lagi". Ujar Guntur.

__ADS_1


.


.


__ADS_2