Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Masa Lalu Guntur


__ADS_3

Guntur terus menghujami inti Gita dengan pusakanya. Setiap hentakan memberikan rasa yang semakin melayang.


Gita yang memang sedang.... membuat Guntur semakin mengila.


Dengan bersemangat dia bergerak untuk mencapai sesuat yang..


"Ah... Ah... Sayangh... Aku ... Aku .. Ah.. ohh.....". Erang Guntur melepas sesatu yang tertahan dibawah sana.


"Ah.....". Gitapun merasakan semprotan cinta yang terasa hangat di dalam inti tubuhnya.


Lama mereka menikmati penyatuan yang melambungkan perasaan, setingggi awan.


"Semoga kamu hamil oleh bibit cintaku sayang. Aku akan berusaha membuat kamu agar hamil.


Aku tahu kamu bisa hamil. Mungkin kemaren-kemaren belum rezki kamu untuk hamil.


Mudah-mudahan kita di beri rizki untuk menjadi orang tua oleh allah". Ucap Guntur terus membenamkan pusakanya. Mengelarkan sisa-sisa yang masih ada di kantong ajaibnya.


"Hah... Hah...". Gita menahan gemuruh di dadanya. Karena masih was-was.


Walau dia tahu, suaminya ini sangat subur dia rasa. Bagaimana tidak. Setiap mereka olahraga ranjang, semprotan bibit unggul Guntur terasa banyak. Melimpah.


Hingga terasa hangat mengalir di dalam tubuhnya.


Tapi Gita tidak mau berangan untuk hal yang belum pasti. Karena dia takut kecewa. seperti sebelumnya.


"Tapi aku tidak memaksa kamu sayang. Kamu cukup berada di sampingku sampai kita menua bersama. Dan urusan anak itu bonus kita dari yang di atas". Uvap Guntur menciumi wajah isterinya.


Dia tidak mau membebani istrinya untuk mempunyai anak segera. Dia juga paham perasaan istrinya yang merasa belum sempurna, karena dua tahun menikah dan belum pernah hamil.


"Aku bantu untuk bersih-bersih ya". Ucap guntur membopong tubuh polos istrinya ke kamar mandi.


Gita hanya pasrah, karena tubuhnya juga terasa remuk karena ulah suaminya.


Dengan telaten Guntur membilas tubuh mereka berdua dengan air hangat. Agar bisa tidur dengan nyenyak.


Selesai mandi dan berpakaian, guntur memeluk istrinya untuk tidur.


"Jangan fikirkan ucapan ku tadi ya. Jangan terbebani. Aku hanya memberimu semangat agar kamu bisa rileks dan santai.


Mana tahu dengan niat dan ber fikiran positif kita bisa mengeluarkan Aura yang positif juga.


Dan dipermudahkan semua yang kita inginkan". Ucap Guntur.


Gita hanya mengangguk. Berharap sama dengan ucapan suaminya.


"Bang. Boleh tidak aku bertanya?". Ucap Gita.


"Boleh. Aku akan jawab jika ada hubungannya denganku". Jawab Guntur mengelus rambut istrinya.


"Aku dengar dari anna, abang mengembalikan anak abang pada ibunya. Apa abang tidak sedih?". Tanya Gita.


Terdengar Guntur menarik nafas. Dan kemudian menjawab.

__ADS_1


"Kalau dibilang sedih pasti iya. Karena hampir setahun aku dan semua mengasuhnya.


Tapi balik lagi ke masalahnya. Kalau memang bukan anakku. Awalnya aku masih ragu, hingga aku sampai tiga kali melakukan tes dna. Bahkan sampai ke rumah sakit di singapura, biar hasilnya lebih akurat.


Tapi tetap sama. Bukan anakku. aku juga akan berdosa jika masih bertahan untuk mengasuhnya. Apalagi dia perempuan. akan jadi masalah kedepannya dalam agama.


Aku sudah berencaba akan menerima saja dan menjaganya sampai besar. Tapi papa dan mama tudak terima. Takut akan ada masalah jika aku menikah dan punya anak kelak.


Tentu akan jadi pertanyaan baginya nanti. Kalau dia tidak akan dapat warisan. Juga aku tidak bisa menikahkannya kelak.


Makanya papa dan mama mengantarkan langsung pada neneknya. setelah surat pembatalan akte kelahiran dari capil dan pengadilan.


ibunya tidak mau menerima dan mengasuhnya. Karena dia juga tidak ingin aku ceraikan". Jawab Guntur.


"Kasihan juga nasibnya. Apa ibunya tidak mencari ayah biologisnya?". Tanya Gita.


"Dia tidak tahu. Karena..


Disanalah bodohnya aku. Ternyata memang sejak awal menikan dia sudah bohong padaku.


Bahkan waktu aku dan dia dekat. Tidak terlihat kalau dia itu player. Aku kenal dia saat aku dinas di daerah x. Dia bekerja di rumah sakit swasta. Dia itu seorang perawat.


Aku dan dia hanya pacaran sekitar lima bulan. Dan langsung menikah. Aku memang tidak ingin pacaran lama. Lagian kita merasa cocok.


Tapi. Dengan statusnya yang parawat itu dia berkilah untuk piket malam jika aku sedang berdinas malam.


Ternyata dia menemui seseorang. yang akhirya aku tahu dia sudah berhubungan semenjak sebelum kami menikah.


Bahkan waktu akan mengajukan pernikahan, dia minta agar nantinya tidak melakukan tes kegadisan.


Aku sangat terkejut dengan pengakuannya itu. karena dia mengatakan semua pada hari akan dilakukan tes itu.


Tentu aku tidak bisa lagi untuk berfikir, apalagi membatalkan semua. Berkas untuk pernikahan sudah slesai semua.


Aku sedih, dan harus menerima semua itu. Dan berusaha untuk menerimanya. Ditambah dia juga menagis saat berkata jujur". Cerita Guntur.


Dia bercerita dengan wajah tegar. Walau ada sedikit ucapan bernada emosi.


Hhffg


"Ternyata dengan mengorbankan perasaan dan egoku, aku menerima semua. Mungkin memang sudah ditakdirkan.


Danaku percaya, dia hanya korban saja.


Tapi, saat usia anak kamu berusia empat bulan, dia kedapatan sedang berada di kamar hotel.


Itupun saat kepolisian kota tempat kantor papa sedang mengadaka razia pasangan


mesum. Dan terjaringlah dia dengan pasangan selingkuhan nya.


Aku ditelfon papa, karena sedang ikut razia ke hotel itu. Dan saat aku datang, selingkuhannya sydah kabur.


Dengan berbekal foto dan kesaksian polisi, juga cctv hotel. Aku langsung talak malam itu juga.

__ADS_1


Dan malam itu juga, dia aku usir dari asrama kepolisian. Dimana rumah kami tinggal". Ujar Guntur.


Gita mendengar cerita tentang rumah tangga suaminya yang terdahulu.


"Terus, kok abang bisa yakin kalau anak itu bukan anak kandung abang?". Tanya Gita.


"Dari anak itu lahir memang wajahnya beda denganku, dan juga keluargaku. Tapi kami tidak ada fikiran lain. Menerima saja.


Tapi karena kejadian itu dan juga ditambah wajah anak itu yang semakin bulan semakin jelas berbeda. Papa mulai berduskusi dengan mama. Untuk melakukan tes.


Aku sempat menolak, karena kasihan anak itu. Tapi papa mulai mengunkapkan perasaannya. Juga perbedaan anak itu.


Anak itu kulitnya putih, sementara kami tidak ada putih. Agak gelap sedikit. Juga perbedaan rambut yang keriting, mata yang agak sipit.


Dan ternyata begitulah. Setelah kami melakukan tes, hingga tiga kali". Jelas Guntur.


Guntur memeluk tubuh istrinya setelah mencurahkan semua yang harus diketahui oeh Gita.


Agar nanti jika mantan istrinya datang. Juga anak tersebut.


"Bang. Bagaimana kala aku tidak bisa hamil. Dan kita tidak bisa punya keturunan.


Apa abang akan kecewa denganku?". Tanya Gita.


Setelah diam beberapa saat.


"Ada atau tidak adanya anak. Abang sudah bertekad untuk menua denganmu.


Anggab kita memang ditakdirkan untuk berdua saja hingga tua". Jawab Guntur mengecup kening istrinya.


"Lagi pula, apa selama ini kamu telah periksa?. Atau konsultasi ke dokter kandungan?". Tanya Guntur.


"Belum". Jawab Gita jujur.


Karena memang belum pernah periksa. Waktu itu almarhum suaminya juga tdak memaksa untuk segera hamil.


"Untuk saat ini yang penting aku aku sudah ada istri sebagai rumah tempat pulangku. Istri sebagai belahan jiwaku. Dan istri untuk menyalurkan hasrat liarku.


Jika kita diberi rizki untuk itu. Semua itu adalah rahmat dari allah". Jawab Guntur.


"Dan satu lagi yang terpenting". Ujar guntur menaiki tubuh istrinya sambil tersenyum nakal.


"Kita diberi kesehatan kesehatan dan bisa saling memberikan kepuasan bathin". Ucap Guntur yang mulai nakal.


Dan...


lanjut lagi, hingga mereka berkeringat lagi menjelang tidur.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2