Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 173


__ADS_3

"Sepertinya sangat mudah untuk mempengaruhi si Dika itu. Pasti dia tidak mau masuk penjara, takut jika aku menyeretnya.


Akan aku manfaatkan ketakutannya itu". Ujar Indri.


Dia baru saja mendapat kabar dari mamanya, kalau minggu depan Dika mau menemuinya di kantor polisi ini. Karena dia minggu depan baru sampai di kota ini.


Pengacaranya kemaren sudah menelfon lagi.


Dan indri percaya dengan ucapan Dika. Yang akan membantunya. Menjamin keuangan yang dibutuhkannya.


Indri tidak tahu, padahal Dika menipunya. Malahan Dika masih di kota ini, dan akan mengadakan pertemuan di pepusahaan Gita.


Mereka sama-sama tidak tahu.


"Bos. sudah lewat setengah dua belas. Sebaiknya kita segera berangkat.


Kan kita mau makan siang dulu di cafe dekat perusahaan pak Burhan".


Asisten Dika menemui bosnya di ruangannya. Mengingatkan untuk segera berangkat.


"Ayo. Kita makan siang dulu. Rasanya perutnya tidak nyaman, dan dari tadi aku merasa agak sedikit panas.


Entah kenapa aku merasa deg- deg an". Ujar Dika.


Bangkit dari kursi kebesaran yang ada di ruangannya. Menuju keluar ruang kerjanya.


Diikuti oleh asisten dan juga sekretarisnya. Juga seorang kepala bagian di perusahaan. Mereka akan berangkat berempat.


"Apa bos sarapan telat tadi pagi. Atau bos kurang tidur?". tanya asisten Dika.


Karena dia tahu bosnya semalam tidur di hotel di temani para wanita. Pasti kurang tidur.


Mereka bertiga memasuki lif untuk menuju loby kantor.


"Aku ada sarapan tadi kok. Sarapan biasa saja". Jawab Dika menyapu rambutnya dengan telapak tangannya.


Dia melihat dinding kaca lif, terlihat wajah dan rambut kusutnya. Lalu dia segera memperbaiki rambutnya dengan menyisir dengan sisir kecil. Biar rapi kembali.


Tidak mungkin seorang wakil direktur keluar dengan rambut acak-acakan.


Lebih kurang dua puluh menit Dika dan asistennya sampai di cafe dekat perusahaan Gita.


Yang mereka tahu perusahaan milik pak Burhan. Dan mereka tidak tahu kalau pak Burhan adalah ayah Gita.


"masih ada waktu sekitar empat puluh lima menit untuk makan siang dan bersiap". Usul asisten Dika.


"Kalau bisa pukul setu lewat kita sudah berada di loby perusahaan, agar kurang setengah dua kita sudah berada di ruang pertemuan perusahaan itu". Ujar Dika.


Dia tidak mau telat, sebab dia ingin menunjukan keseriusan dalam pertemuan membicarakan kerja sama.


Kalau bisa cukup sekali pertemuan ini saja. Dan dia akan bersembunyi dulu keluar kota.

__ADS_1


Tidak memakan waktu lama, mereka menyelesaikan makan siangnya. Agar bisa bersantai sedikit, sebelum menuju perusahaan yang berjarak lima bangunan dari cafe tempat mereka makan.


Pukul satu lewat sepuluh, Dika dan rombongannya sampai di loby perusahaan Gita.


Hal itu dikabarkan oleh resepsionis perusahaan ke asisten Gita.


"Bu Gita, rombongan dari perusahaan A sudah ada sampai. Mereka sudah ada di loby". Ujar asisten Gita.


Gita dan Guntur baru saja selesai makan siang dan juga sholat zuhur berdua di ruang istirahat Gita.


"Persilahkan saja langsung keruang pertemuan. Dan siapa yang sudah siap untuk ikut rapat, kabarkan untuk menemani tamu kita sejenak.


Jamu mereka agar mereka rileks sebelum pertemuan". Ujar Gita.


"Baik bu". Jawab asisten Dika.


Lalu mengabarkan pada karyawan yang menerima tamu di bawah. Untuk labgsung membawa mereka keruang pertemuan.


Dan juga mengabarkan pada kepala divisi perencanaan dan pembangunan untuk bersiap menuju ruang rapat.


"Mari langsung menuju ruang pertemuan pak, bu". Ujar karyawan perusahaan Gita.


"Baik". Jawab asisten Dika.


Mereka mengikuti arahan karyawan yang menunjukan ruang pertemuan di lantai empat.


"Silahkan duduk dulu ya pak, bu. Sebentar lagi pimpinan perusahaan kami akan datang kesini". Ujarnya.


Mempersilahkan memasuki ruang pertemuan yang lumayan besar, untuk pertemuan beberapa orang saja.


Setelah karyawan itu keluar, Dika dan rombongan duduk dengan santai. Karena baru mereka berempat yang ada dalam ruangan itu.


"Waktu itu pak Ibrahim yang menerima aku dan pak direktur di sini. Sekarang kabarnya anak pemilik perusahaan ini yang memimpin". Ujar sang sekretaris.


"Apa kamu sekretaris papa waktu itu?". Tanya Dika.


Karena dia baru setahun lebih berada di perusahaan papanya. Dan sekretaris ini di tunjuk papanya untuk menjadi sekretarisnya.


Padahal saat dia tahu gita bekerja di perusahaan milik papanya, dia mau Gita yang mejadi sekretarisnya. Tapi Gita memilih resign dari pada jadi sekretarisnya.


"Waktu itu aku menemani kak Lin dan pak direktur kesini. Untuk membicarakan proyek ini juga.


Tapi waktu itu tidak jadi di lanjutkan. Kata pak direktur proyek yang di kota sebelah sedang bermasalah. Dan perusahaan kita tidak siap untuk membuka proyek baru.


Makanya pak Ibrahim waktu itu memberi tengang waktu untuk perusahaan kita. hingga kita bisa menangani proyek di kota k ini.


Dan beberapa bulan kemaren pak direktur kembali mengingatkan, untuk kembali menanyakan pada perusahaan ini.


Sebenarnya pertemuan ini bulan kemaren diadakan.


Tapi bulan kemaren anak pemilik perusahaan ini suaminya kecelakaan.

__ADS_1


Dan baru bisa sekarang diadakan pertemuannya". Jelas sang sekretaris.


"Oo. Pantas papa menyuruh kamu ikut pertemuan ini.


Sedikit banyaknya kamu sudah paham.


Juga pak Dodi kemaren papa usul untuk di ajak. Kata papa pak Dodi juga pernah ikut papa jika ada pertemuan dengan perusahaan investor".Ujar Dika.


Seolah mengerti mengapa sang papa menyuruh mereka berdua ikut. Karena mereka tahu seluk-beluk perusahaan ini. Karena pernah ikut sebelumnya.


Mereka berbincang membahas yang akan mereka jemukakan nanti.


Hingga masuklah tiga orang pria kedalam ruang rapat.


Setelah bersalaman dan salibg sapa. Ketiga pria itu duduk di kursi samping Dika dan rombongan.


Ruang rapat di tata segi empat, saling berhadapan.


Tadi dika dan rombongan duduk di bagian menghadap langsung ke depan. Yang dia tahu untuk petinggi.


Terdapat tiga buah kursi.


Sementara ketiga pria yang baru masuk yang Dika yakin pimpinan perusahaan, tapi mereka duduk di bagian sisi sebelah kiri dua orang. Dan satu di sebelah kanan.


"Selamat datang di perusahaan kami pak Dika.


Kenalkan aku direktur bagian perencanaan dan juga bagian pembangunan.


Sebentar lagi direktur utama kami akan datang. Mereka sedang menuju keruangan ini". Ujar pria yang duduk di sebelah kanan Dika memperkenalkan diri.


"Terimakasih pak, atas sambutannya di perusahaan ini semoga kerja sama kita bisa terlaksana". Jawab Dika.


Dia ikut berbasa-basi bersama petinggi perusahaan ini.


Sedang berbicang bersama, tiba-tiba pintu ruang rapat dibuka.


Menampakkan seorang pria membuka pintu. setelah dibuka lebar, masuklah Gita kedalam ruang rapat membimbing Guntur yang memakai tongkat penyangga.


Ketiga petinggi perusahaan berdiri menyambut kedatangan pimpinan perusahaan mereka.


Juga diikuti oleh sekretaris Dika dan juga rombongannya berdiri. Menyambut.


Tapi Dika terpaku duduk melihat kearah yang datang.


'Gita!'. Gumam Dika


'Bu Gita?!". Ujar asisten Dika dan rombongannya.


Mereka terkejut melihat Gita. Yang pasti mereka berempat sangat kenal dengan Gita. Karena Gita ada beberapa tahun bekerja di perusahaan tempat mereka bekerja.


.

__ADS_1


.


Dika dan asistennya saling pandang.


__ADS_2