Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 153


__ADS_3

"Pasti bukan bang Guntur.". Gumam Indri.


Dia melihat para perawat dan dokter sedang berlari menuju ruang intensif.


Padahal jam menunjukan pukul dua dini hari.


Indri yang dari pukul sepuluh kurang berada di ruang tunggu itu tidak beranjak sedikitpun dari sana.


Dia sangat mencemaskan keadaan Guntur. Hingga dia tertidur duduk di ruang tunggu itu.


Padahal dia sudah di suruh anak buahnya untuk istirahat dan menunggu di mobil saja.


Tapi dia tidak mau. Takut kecolongan. Jika istri Guntur keluar tanpa di ketahui oleh anak buahnya.


Juga, dia ingin bertemu langsung dengan istri dari mantan suaminya itu.


"Ada apa?!". Tanya Indri pada anak buahnya yang duduk dekatnya.


"Katanya ada yang sedang kritis di dalam bos". Jawab anak buah Indri.


"Apa wanita itu ada keluar ruangan?". Tanya Indri.


"Tidak bos. Yang keluar masuk hanya perawat saja.


Polisi yang berjagapun sepeetinya mereka sedang pergi. Tidak terlihat berjaga". Jawab anak buah indri.


"Bisa saja waktu kamu tertidur dia keluar". ucap Indri.


"kami bergantian tidur bos. Disana tidur.


Dari pukul satu tadi saya yang jaga, berdua dengan yang duduk di samping yang tidur.


Sebelumnya kami berdua yang....".


Terlihat rombongan dokter dan perawat keluar dari ruang intensif. Dan semua berwajah murung.


"Aku sudah berusaha membantu, tapi semua atas kehendak yang diatas".

__ADS_1


Ujar salah satu yang di yakini seirang Dokter.


"Kita hanya berusaha dok". jawab yang lain.


"Hubungi keluarga pasien. Mungkin mereka sedang beristirahat di ruang lain atau di parkiran". Ujar dokter.


Indri yang mendengar ada pasien kritis di dalam ruang intensif itu meninggal, dia jadi ingin tahu.


Dan ingin memastikan.


"Maaf dok. Apa ada pasien yang meninggal dok?". Tanya Indri mengejar rombongan dokter dan perawat.


"Mbak siapa ya!?". Tanya salah satu perawat.


"Oo.. ada teman saya di dalam dok. Tapi saya tidak tahu apa ada orang tua atau keluarga nya di dalam berjaga". Jawab Indri.


Dia tidak tahu harus menjawab apa. Apalagi perawat yang bertanya memandangnya dengan wajah curiga.


"Di dalam tidak ada keluarga pasien yang berjaga!. Kan tidak boleh yang berjaga di dalam. Hanya boleh di luar ruangan saja.


Mbak bisa melihat dan menemui keluarga teman mbak yang berjaga. di ruang tunggu atau di ruang istirahat". Ujar perawat itu.


Tidak yakin istri Guntur tidak di dalam. Sebab anak buahnya tidak meluhat wanita itu keluar setelah masuk ruang intensif tadi.


"Coba mbak lihat di ruang sebelah sana. Pintu masuknya mengarah ke tangga darurat. Tidak terlihat dari sini


Disana ruang khusus untuk keluarga pasien yang berjaga.


Mungkin ada keluarga pasien yang mbak cari di sana". Ujar perawat itu.


Indri dan anak buahnya terkejut. Mereka habya fokus melihat ke pintu ruang intensif. Dan ternyata ada pintu lain lagi.


"Baik sus. Tapi kalau boleh tahu, siapa nama pasien yang meninggal barusan". Tanya Indri.


"Namanya. Aduh lupa saya mbak. Tapi yang meninggal yang kecelakaan sire tadi di...".


Belum sempat suster itu melanjut kan ucapannya, Indri berlari ke pintu yang di tunjuk suster tadi, untuk melihat kalau istri mantan suaminya ada di sana. bisa juga ada mantan ibu mertua di sana.

__ADS_1


Suster mengeleng saja. Sebab dia belum selesai berbicara.


"Sial. Tidak mungkin kalau bang Guntur yang meninggal. Aku tidak terima.


Aku akan bikin perhitungan dengan Si Dika, juga wanita itu". Oceh Indri menuju pintu yang di tunjuk perawat tadi.


Ternyata memang pintu itu tidak terlihat dari lorong tempat dia duduk tadi.


Pintu itu pintu kaca buram yang di geser, tidak seperti pintu masuk.


"Sial... ". umpat Indri.


Kegiatan Indri menjadi perhatian dari semua yang ada di ruang tunggu itu.


Termasuk anak buah Dika. Hingga Mereka pun mengikuti Indri yang mengoceh.


Bahkan semua ikut kearah pintu yang Indri tuju. Niat mereka sama. Sama-sama ingin menemui istri Guntur.


Pihak Indri ingin menculik, dan pihak Dika ingin melindungi.


Di ruang itu ada belasan orang yang sedang berjaga. Semua sedang tertidur berselimut.


Di ruang yang sengaja di beri karpet, untuk keluarga pasien di ruang intensif berjaga-jaga jika ada yang darurat terjadi pada keluarga mereka yang di rawat.


Hingga Indri bingung, yang mana orang yang dia cari. Bahkan untuk melihat wajah para penunggu itupun tidak bisa.


Mereka berjejer melantai tidur di sana. Dan rata-rata laki-laki. Ada yang wanita, tapi terlihat di batasi oleh laki-laki. Mungkin keluarga mereka.


Ternyata dari sini, terlihat ruang intensif dari balik kaca, terlihat jejeran tempat tidur pasien yang sedang dirawat dan di tempeli berbagai jenis alat.


Itu terlihat dari kaca yang terbuka kain gorden hijaunya.


Terlihat seorang pasien yang sudah tertutup penuh dengan kain putih di tubuhnya. Tanda pasien sudah meninggal.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2