Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Maunya


__ADS_3

Aku merasa tidak nyaman dan sedikit was-was. bagaimana tidak. Tulisan ancamannya seperti tidak main-main. Bahkan ditulis, dia ingin menghilangkan nyawa juga.


Walau aku yakin dia hanya mengancam, tapi aku tidak boleh lengah dan harus waspada.


Aku belum mau melapor pada ibu kos, atau teman yang lain. ada rasa belum yakin dengan mereka. apa bisa di percaya atau tidak.


Makan malam aku keluar seperti biasa. makan bersama. walau ada rasa was-was.


Was-was bertemu Rendra dan Citra, juga ancaman dari surat yang aku terima tadi.


Semua makan seperti biasa, sambil mengobrol. tapi Hani..


Dia seperti mencari celah untuk menjatuhkanku. Bahkan dia juga terang-terangan mengajakku bersaing.


"Aku masih mencoba untuk mendekati bang guntur!. karena aku yang layak untuk men dampinginya". ucap hani saat ibu dan bapak kos pergi dari meja makan.


Aku hanya diam. tidak menanggapi nya.


"Walaupun katanya kamu akan menikah bulan depan, aku tidak peduli. Sebelum janur kuning melengkung di depan rumahnya.


Dan sebelum ijab qobul terucap, aku masih punya kesempatan.


Kita bersaing secara sehat. mulai sekarang kamu tidak boleh memberi tumpangan pada anna. aku akan memberi tumpangan padanya!". ucap Hani.


"Silahkan. Aku juga tidak ada janji dengananna untuk memberi tumpangan!. kadang juga dia tidak berangkat bersamaku!". ucapku.


"Bagus. besok pagi dia akan berangkat denganku!". ucapnya percaya diri.


Aku hanya mengangkat bahuku. tanda tidak masalah.


Penghuni kosan yang lain hanya mendengat ocehan Hani. dan perdebatan yang di kuasai Hani.


"Memang kamu mau menjadi ibu sambung anaknya bang guntur?!". tanya oliv.


"Ternyata bukan anak biologis bang guntur. kan beberapa hari yang lalu orang tuanya mengantar anak itu pada mantan istrinya.


Aku dengar mantan istrinya itu masih minta uang tangungan untuk anak itu!". jelas Hani.


Aku dan semua kaget mendengar. kok anna tidak ada bercerita ya?!. Tapi kan aku belum, eh bukan bagian dari keluarga mereka. tentu tidak ada perbincangan kesana.


Tapi kan waktu aku diajak menginap dirumahnya malam minggu kematen, anna cuma bilang, kalau orang tuanya mengunjungi tempat kakek dan saudara orang tua.

__ADS_1


Ah terserahlah. Aku kan belum bagian keluarga.


"Dari mana kamu tahu?!". tanya Mitha.


"Rahasia!!". ucapnya judes.


"Pokoknya kamu tidak boleh merampasnya dari tanganku!". tambahnya melotot padaku.


Aku ingin segera kekamarku, sudah hampir pukul sembilan.


Dan mungkin sebentar lagi akan datang Rendra dan istrinya. karena aku tahu dari ibu kos, mereka tutup praktek pukul sembilan.


Tempat prakteknya juga dekat. berada di ruko jalan utama depan perumahan.


"Aku kekamar dulu ya!". ujarku.


"Iya!". jawab mereka.


"Ingat ucapanku tadi!!". ucap Hani.


Aku tidak menangapinya. Bukan takut. hanya malas berdebat.


Lagipula aku juga belum tentu berjodoh dan menikah dengan bang Guntur.


Aku hanya ingin menjalani hari kedean tanpa musuh dan iri dengki.


Baru akan masuk ke kamarku, Ada mobil masuk gerbang rumah. Aku yakin itu mobil Rendra.


Bukan apa-apa, aku hanya ingin lepas dari masa lalu. Rendra juga bagian cerita masa laluku. walau bukan teman spesial.


.


"assalamualaikum kak Gita!!!". panggil anna.


Anna datang kekamarku.


Seperti ucapan Hani semalam, aku sengaja tidak memakai pakaian kekantor, dan saat anna datang kekamarku.


"Waalaikumussalam..


Maaf anna. Aku aku agak telat berangkat. Ada berkas yang belum selesai di buat!". ucapku. Sok sibuk di depan laptop.

__ADS_1


Aku sebenarnya kasihan juga dengan dia. tapi aku harus ikuti rencana Hani dulu. agar dia tidak bilang aku sok akrab dan mencari kesempatan untuk dekat dengan keluarga Bang Guntur.


Jadi aku harys ikut permainan yang katanya harus fair. bersifat adil dan tidak main belakang. dan katanya aku merampas hak dia yang sudah dia jaga setahun belakangan.


Sedangkan yang katanya di jaga tidak tahu menahu. bahkan tidak peduli.


"Ok kak. tidak apa-apa. Aku juga belum telat kok. untuk jalan kedepan!". ucapnya tersenyum.


"Maaf ya!!". ucapku menyesal.


Walaupun tidak ada wajah kecewanya. karena memang biasa juga ada aku telat berangkat. jadi seolah kejadian biasa.


"Sip!". ucapnya memberi jempol tangannya.


"Aku jalan kak. Assalamualaikum!". ucapnya.


"Waalaikummussalam!". ucapku pelan.


Karena anna sudah berjalan men jauhi kamarku.


"Mau bareng Anna?!".


Terdengar suara seseorang dari teras depan.


Dan aku yakin, Hani juga ingin mendekati anna. Aku tidak merasa bersaing, jika dia juga ingin mendekati Anna. jodoh siapa yang tahu.


Walau niat awal aku belum mau membuka hati, tapi jika bang Guntur mau membimbingku, aku juga tidak menolak. Karena dia tahu status dan cerita aku jadi janda.


Tidak berjodohpun aku tidak begitu kecewa, karena belum merasa terikat satu sama lain. tapi jika mau mengangguku. aku harus bertindak.


Cukup satu kali aku kecolongan. Karena sangat percaya dengan suamiku yang sangat meratukanku.


Dan seperti akuan sang wanita selingkuhan, yang mengatakan almarhum suamiku sangat mencintaiku.


Dan mereka tidak akan pernah menikah jika tidak ada benih yang tumbuh dari hasil perselingkuhan mereka.


Tapi begitulah nasib. walaupun mereka berniat untuk menikah, untuk menyelamatkan nama baik calon bayi. Dan tetnyata mereka tidak berjodoh.


Aku harus siaga, pelakor ada di mana-mana.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2