Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 189


__ADS_3

"Lumayan juga kamarnya. Tidak terlalu luas tapi nyaman". Ujar Dika.


Saat dia memasuki kamar yang akan dia tempati selama kontrak kerja di pulau k


Bagaimana tidak. Kamar yang tidak terlalu luas. Ada satu buah springbad sigle di sudut ruangan, lemari dua pintu,meja kerja dan karpet terbentang di tengah ruangan.


Juga terlihat Gorden tinggi yang Dika yakin jendelanya besar, atau beberapa buah.


Dika berjalan melihat kamar yang akan dia huni. Memeriksa fasilitas yang ada. Kamar mandi jaga terdapat di dalam kamar.


Lalu dia membuka gorden untuk melihat keluar. Ternyata jendelanya ada tiga buah daun jendela. Tapi ketiga jendela itu berterali.


Walau kamar Dika di bagian belakang, ternyata menghadap jalan samping. Sebuah taman kecil. yang jaraknya tidak jauh. Sebesar mobil parkir.


Terdapat meja seperti tempat duduk mengobrol atau bersantai.


Lalu dia membongkar kopernya, untuk mengambil pakaian. Dia ingin segera mandi, karena sudah seharian di perjalanan.


Apalagi sudah malam. Dia sampai di rumah ini tadi sekitar pukul delapan lewat.


Tapi dia dikagetkan dengan ketokan pintu kamarnya. Seseorang mendatangi kamar yang baru dia masuki.


"Maaf pak. Makan malamnya mau dimakan di dalam kamar atau di taroh di meja makan?!"


Ujar seorang wanita membawa rantang.


"Biasa yang lain bagaimana?!". Tanya Dika.


Memperhatikan wanita yang dia perkirakan berumur hampir empat puluh tahun.


"Kalau kebetulan sedang ada di rumah, semua makan di meja makan. Tapi jika meteka telat makan biasa di antar ke kamar". Jelas wanita itu.

__ADS_1


"Baik. aku di kamar saja makan malam.


Terus bagaimana dengan rantangnya?. Juga apa bisa kita reques menu?". Tanya Dika.


"Rantangnya nanti jika sudah selesai taroh saja di meja ini. Dan jika bapak sedang keluar maka kami juga akan menaroh rantang bapak di sini.


Dan kalau bapak mau reques menu atau mau dibelikan apa. Bapak tinggal tulis pesan pada kertas itu". Ujar wanita itu.


Dika melihat ada meja terletak di samping kiri pintu masuk kamarnya. Terdapat beberapa piring dan gelas. Juga ada kertas memo tergantung beserta pulpen.


"Ok. Terima kasih". Ujar Dika.


Dia melihat di depan pintu kamar yang lain juga sepeti itu.


Setelah menerima rantang untuk makan malamnya, Dika melanjutkan niatnya untuk mandi. Gerah.


Selesai mandi, Dika tidak langsung makan. Tapi dia ingin menelfon asistennya. Nomor asistennya sudah dia hafal.


"Apa bos sudah beli ponsel baru?". Tanya si asisten.


Saat Dika menelfon.


"Iya. Tadi sesampai di sini aku minta mampir di couter hp, tidak mungkin aku tidak memakai ponsel di sini". Jawab Dika.


"Ponsel bos tadi sudah di berikan asisten bu Gita saat bos baru masuk ruang tunggu. Sekarang aku simpan di laci apartemen". Jawab asisten Dika.


"Baik. Aku kira dia akan menyita sampai aku selesai kontrak. Tidak tahunya di berikan juga". Jawab Dika.


"Sebaiknya bos non aktifkan saja nomor lama itu. Mungkin nomor bos akan terus di telfon oleh Indri.


Atau bisa jadi di berikan pada polisi untuk orang yang ikut bekerha sama dengannya.

__ADS_1


Bos harus hati-hati". Usul asisten Dika.


Dika mencerna ucapan asustennya.


"Benar juga. Aku harus hatu- hati. Kamu ambil ponsel itu. kamu ganti nomor yang baru. Dan di setiap grup teman dan grup yang ada aku ganti nomor baru. Nomor lama keluar.


lalu non aktifkan nomor tersebut". Perintah Dika.


"Baik bos". Ujarnya.


Setelah berbincang sebentar dengan asistennya, memberi arahan dan tugas pada asistennya, Dika berniat untuk istirahat. Karena lelah seharian di perjalanan.


"Uh.. Alangkah enaknya malam ini jika ditemani para wanita.


Mereka bergantian memijiti tubuhku yang sakit karena terlalu lama duduk di perjalanan tadi". Gumam Dika.


Berhayal sambil tersenyum.


"Tapi aku masih sayang milikku yang sangat perkasa ini". Ujarnya mengelus pusakanya.


"Sabar ya boy. Kita akan cari kesempatan untuk kamu mencoba yang masih tersegel.


Mau kan kamu?". Ujar Dika.


Dia mengelus terus miliknya. Hingga dia tertidur.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2