
"Sudah setujukan kalau Bu Gita menemui pak Dika saat rapat kerja sama nanti?". Tanya asistan Gita.
Mereka baru saja memasuki ruang kerja Gita.
"Iya. Aku ingin bertemu dengannya, dan membungkan dia yang sudah menganggu.
Aku akan datang dengan bang Guntur, agar dia tidak beekitik melihatku dengan suamiku.
Apalagi aku yang sedang hamil dapat mengurungkan niatnya untuk mencariku dan mengangguku lagi". Ujar Gita.
Dia dan Guntur memang sudah membicarakan sebuah rencana pada Dika.
Selain ingin memberi tahu kalau suaminya baik-baik saja, dan rumah tangga mereka sangat bahagia. Juga....
"Pokoknya siapkan saja semua yang dibutuhkan untuk pertemuan itu. Mau mereka melanjutkan kerja sama atau membatalkan, setelah bertemu aku.
Kita serahkan pada mereka.
Tujuan pertemuan ini hanya ingin dia sadar diri saja. Tidak semua keinginannya bisa dia dapatkan.
Apalagi memakai cara kotor, mencelakai seseorang dan memfitnah. Tunggu saja". Ujar Gita.
"Baik bu. Aku hanya minta, ibu harus tetap berhati-hati. Sebab setahu saya, pak dika itu orangnya nekad dan berambisi.
Aku takut, nanti ibu di serang tiba-tiba, dan mencelakai ibu yang sedang hamil". Ucap asisten Gita mengingatkan.
"Ok. Pertemuan itu selain ada kamu, bang Guntur. Juga kita akan membawa beberapa kepala direksi perusahaan kita.
Jika dia berbuat nekad, semua orang di sekitar kita bisa melindungiku". Ujar Gita.
"Susun penempatan duduk saat pertemuan nanti. Usahakan sedikit berjarak". Usul Gita.
"Baik. Kita gunakan ruang rapat besar saja, dan duduk saling berseberangan". Ujar asisten Gita.
Gita setuju.
.
"Bisa aku bertemu bang Guntur pak?!". Tanya Indri.
Ini sudah kesekian kalinya dia bertanya.
Dari saat akan di interogasi hingga siang. Bahkan setelah istirahat sebentar dan di tanyai ulang oleh pihak kepolisian.
Ada empat orang polisi di dalam ruangan itu. Dua orang bertanya, satu orang mecatat dan satu orang lagi berdiri sambil merekam.
"Kami tidak punya izin untuk membawa siapapun bertemu dengan kamu. Apalagi polisi.
Kami menunggu pengacara yang akan menemanimu saat proses sidang nanti.
Dan jika pengacara sudah datang. Barulah kamu bisa minta melalui dia". Ujar polisi yang memeriksa.
"Tapi aku harus bertemu dia, ada yang ingin aku sampaikan padanya.
Ini penting!". Ujar Indri putus asa.
__ADS_1
Selain di interogasi dengan sedikit pemaksaan dan melelahkan. Dia tidak bisa bertemu dan ditemani siapapun.
Hanya sendiri. Seperti anak ayam kehilangan induknya. Tidak bisa berlindung di pelukan orang terdekat.
"Tunggu saja beberapa hari lagi Saat pengacara kamu datang". polisi itu menolak.
"Alu adalah mantan istrinya bang Guntur. Aku ingin membicarakan masalah keluarga". Ujar Indri.
"Iya kami tahu kamu mantan istrinya. Dan aku rasa sudah tidak ada lagi masalah yang dibicarakan lagi. Sudah selesai.
Guntur juga sudah menikah dan sekarang sedang berbahagia dengan istrinya. Menunggu kelahiran anak pertama mereka". Ujar polisi itu.
"Itu yang akan aku bicarakan pak. Istri baru bang Guntur itu janda dan tidak bisa punya anak.
Pasti dia menipu bang Guntur dengan kehamilan palsunya itu. Aku akan bilang kecurangan wanita mandul itu". Ujsr Indri berapi-api.
Padahal tadi saat di interogasi dia sangat lemas dan muram.
"Untuk bapak ketahui, wanita itu juga menipu keluarga mantan suaminya". Tambah Indri.
"Maaf. Kami tidak butuh penjelasanmu. Kami fokus pada kasusmu saja.
Lagipula walaupun dia janda, dia baik kepribadiannya. Beda sama yang menikah status gadis. Tahunya sudah hamil anak orang lain". Uhar polisi disana.
Membuat Indri bungkam. Dia berfikir kalau masalahnya dan Guntur tidak semua polisi sini tahu. Katena dia di tangkap oleh polisi kota sebelah. Satu jam dari kota ini jaraknya.
"Pokoknya aku harus bicara dengan bang Guntur. Ada sebuah rahasia yang akan aku berikan padanya!
Sampaikan saja aku ingin bicara padanya". Teriak Indri saat dia di giring keluar ruang interogasi.
Mobil dan istrinya yang akan menjemputnya sudah berdiri di dekat parkiran utama polres.
Gita menyusul suaminya yang sedang berjalan menujunya.
Hal itu tidak di biarkan oleh Indri yang melihat mereka dari jalan samping gedung itu.
"Bang Guntur. Aku mau bicara!". Teriak Indri.
Berlari kearah halaman polres. Tapi di terhalang pagar besi yang tinggi.
Guntur kaget. Saat Indri memangilnya dari balik pagar yang berjarak sekitar sepuluh meter lebih.
Tapi dia tidak mau merespon pangilan Indri. Hanya melihat sekilas saja.
"Kesini sebentar bang, ada yang ingin aku bicarakan!. penting!". Teriak Indri.
Gita yang sudah membimbing suaminya merasa kasihan. Maka dia berniat untuk menemui sebentar.
"Temui sebentar bang. Biar setwlah ini dia tidak menganggu kita lagi". Ujar Gita.
"Tapi aku takut dia nekat padamu". Ujar Guntur ragu.
"Lah dia kan di balik pagar bang. Tangannya juga di borgol kan.
Temui dan bilang padanya agar jangan oernah lagi menganggu kita. Kalau bisa ancamlah sedikit dengan tuntutan yang berat". Usul Gita.
__ADS_1
"Hhmm.. Ok.
Ayo kita hadapi". Jawab Guntur.
Mereka berjalan menuju pagar tinggi yang ada di sana.
"Lepaskan... ".
Indri berontak saat dia di tarik paksa polisi penjaga di sana.
"Firman tunggu, biar dia bicara sebentar. Tapi tetap awasi ". Ujar Guntur yang sudah berdiri di depan pagar berjarak satu meter.
Indri yang mendengar ucapan Guntur berlari menuju pagar tinggi pembatas.
"Bang. Abang harus dengarkan aku. Aku akan buka kedok wanita yang sda di samping abang.
Dia adalah penipu. Wanita itu mandul, dan pasti dia hamil akal-akalan saja". Ujar Indri.
"Tahu apa jamu tentang istriku. Dia adalah wanita yang baik. Tidak seperti kamu yang sudah menipuku, dengan gaya polos.
Dan ternyata kamu rubah betina yang sudah menipuku". Ujar Guntur.
"Aku bisa jelaskan kenapa aku mencari hiburan keluar. Karena...".
"Hiburan apa?. Kamu hamil sebelum kita menikah. Berarti kamu memang sudah begitu dari dulu". Potong Guntur.
"Aku....".
"Aku sidah bahagia dengan istri dan calon anakku. Da jangan pernah lagi kamu ganggu kami dengan cara rendahan dan kotor seperti kenaren.
Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengamu semenjak kita bercerai.
Urus hidupmu sendiri, dan jangan ganggu aku. Kalau kamu berniat menganggu kami akan aku pastikan kamu di penjara sampai mati". Ujar Guntur dingin.
"Tidak.. tidak mau. Abang harus bantu aku untuk keluar dari sini. Aku tidak mau....".
"Nikmati saja dulu. Selama ini jamu sudah hidup tenang.
Apa kasusnya firman?". Tanya Guntur pada temannya.
"Kurir gembong z, juga pemuas anggota itu". Jawab rekan kerja Guntur.
"Oo..Masih menekuni kerja lama.
Aku kira dia di tangkap dilaporkan orang tua dan mertuaku. karena kasus dia yang bekerja sama dengan pengusaha itu.
Yang ingin mencelakai aku hingga cedera begini". Ujar Guntur. Menunjuk kaki dan tangannya
"Aku akan menuntut perbuatan kalian itu". Ujar Guntur
Membuat Indri bungkam. Mendengar ucapan Guntur yang akan nenuntutnya.
.
.
__ADS_1
.