
Aku ditarik bang guntur menuju parkiran motor. meninggalkan wanita yang membuat bang guntur kesal dan marah.
Disini aku mulai menyimpulkan kalau mereka mantan pacar atau mantan suami istri.
"Bang!. motornya di pinggir jalan!". ingatku.
Karena tadi berdiri di pinggur jalan saat menurunkan aku di depan parkiran.
"Biar saja. tidak akan ada yang menilang!". ucapnya
"Yang mana motor kamu?!". tanya bang guntur.
Saat sampai di deretan motor terparkir.
"Yang warna hitam campur pink itu bang?!". jawabku menunjuk motor Anna. yang ada di deret bagian dalam.
"Ini??!". tanya bang guntur melihat kearahku. Saat dia sampai di dekat motor anna.
"Iya. itu motor temanku. Tadi kami joging berdua, lalu dia pergi melihat temannya. katanya temannya itu pingsan dan dibawa kerumah sakit!". jelasku.
Aku sedikit was-was, mungkin saja dia mengenal motor anna, atau mengenal anna.
Setelah memandangku agak lama, bang guntur mengeluarkan motornya dari deretan parkir.
"Abang kenal dengan yang punya motor ini?!". tanyaku.
aku memberanikan untuk bertanya.
"Iya. sudah berapa lama kamu kenal dengan yang punya motor ini?!". tanya bang guntur.
"Lebih kurang sepuluh hari bang!. kenapa?". ucapku jujur.
"Kamu tinggal dimana sekarang?!". tanya nya lagi. tanpa menjawab pertanyaanku.
"Di perumahan sama dengan Anna. tapi aku kos di rumah bu rt!". jawabku.
"Kamu!!... kita bicara nanti saja di rumah. tunggu anna pulang". Ucapnya.
"Tunggu!. kenapa menunggu anna? bilang saja padaku. biar aku sampaikan pada anna nanti!". ucapku.
Hhff
"Aku abangnya anna!!".ucapnya tegas melihatku.
"Apa?!".
Aku terkejut sambil memandang kearahnya. kaget. apa dia yang di ceritakan anna yang istrinya...
ah, aku tidak ingin ikut campur. ini gara-gara anna yang memanggilku kakak ipar. Mana tadi langsung bertemu mantan istrinya lagi. bikin malu.
Aku harus bikin perhitungan dengan anna. geramku mengepal tanganku.
"Pasti kamu diusili hannah kan?. semalam saja saat aku datang ke kosan kamu, dia selalu memanggil kakak ipar. pahamkan maksudku?!.
Jadi harus kita bicarakan dengan dia, agar tidak lancang untuk memanggilmu kakak ipar.
__ADS_1
Kecuali kalau kamu mau jadi kakak lparnya. Aku sih tidak masalah.
Kita bisa...!".
"Maaf.. aku harus pulang!". potongku.
"Kita beriringan saja pulangnya. searah dan setujuan kok.
menuju halal dan samawa!". ucapnya tersenyum.
"Ish. minggir!". ucapku melotot dan mengambil motor anna yang sedang di pegangnya.
"Jangan ngebut!. aku mengiringi dari belakang!". ucapnya memberikan motor anna yang dipegangnya.
Aku hanya diam. mengambil helm dan memasangnya.
Lalu menghidupkan motor dan keluar keluar dari parkiran, yidak lupa membayar parkiran.
Hingga.
"Dantai saja. tidak ada yang mengejar kok. juga tidak akan ada yang menilang!". ujar bang guntur menyamakan laju motor kami.
"Tapi kalau jalan begini aku terlihat sedang kena tilang!". jawabku kesal.
"Betul. kan sedang ditilang cinta polisi ganteng. Bernama Guntur Fabiandra Putra.
Ini saja sedang berusaha menuju halal!". ucapnya.
"Kepedean!". jawabku.
"Harus. karena tidak ada yang menghalangi kita untuk bersatu. kamu janda dan aku duda. kita hanya menunggu restu dari orang tua saja!". ujarnya.
"Jangan melotot. perhatikan jalan!". ujarnya.
Kami beriringan memasuki gerbang perumahan. Aku langsung menuju kosan aku, dan bang guntur menuju rumahnya.
Sama-sama usil dan bikin keputusan sendiri!". gumamku kesal.
"Sudah balik jogingnya Gita?!. mana Hannah?!". tanya ibu kos mengejutkan aku.
"Eh. sudah bu. Anna sedang melihat temannya sakit. aku pulang duluan!". jawabku.
"Oo!".
"Aku masuk dulu bu!". ucapku.
"Iya. silahkan!". jawab ibu kos.
Aku memasuki kamar kosanku. ingin langsung mandi biar segar.
Selesai mandi aku rebahan di kasur ku. bermalas-malasan, karena tidak punya kegiatan apa-apa hari minggu ini.
Berkunjung ke rumah orang tua juga sedang malas. karena baru jum'at kemaren pergi ke rumah ibu.
Aku tiduran saja, walau masih pagi. masih pukul sembilan lewat. aku mengambil laptopku menghidup kan lagu sambil membaca novel.
__ADS_1
Tidak sampai setengah jam tiduran sambil membaca novel, aku mulai bosan. Aku bangkit dari rebahanku, menuju pintu keluar kamarku.
Motor Anna masih ada padaku. ah biar dia jemput saja nanti. aku malas untuk kerumahnya. pasti ada abang nya Anna.
Aku duduk saja di teras kamar kosanku yang berada di paviliun bu rt.
"Gita!".
panggil seseorang dari dalam rumah bu rt. Teras paviliun sejajar dengan pintu masuk samping rumah utama. hanya dibatasi tembok se paha, dan ada bunga berdaun lebar di arah sebelah paviliun.
Aku melihat melalui sela daun. Ternyata salah satu penghuni kosan, yang aku tahu namanya Silvia.
"Ya sil, ada apa?!". tanyaku berdiri di dekat bungga berdaun lebar.
"Sini deh!". ajaknya.
"Sebentar sil!". ucapku menutup pintu kamar kosanku.
Aku menuju ruang samping rumah utama. yang terdapat meja makan.
"Kamu sudah sarapan?!". tanya silvia yang sedang sarapan nasi goreng.
"Sudah. tadi makan ketupat di taman!". jawabku jujur.
"Jauh sekali pergi sarapannya!". ucap silvia.
"Tadi aku joging kesana!". ucapku.
"Sama hannah?!". ucapnya.
"Iya. kok kamu tahu aku pergi bareng anna!". ucapku.
"Itu. motor anna terparkir di samping mobil mu, siapa lagi tang membawa. kan ada depan kamar kamu!". jelasnya.
"Oo itu. aku tadi joging bersama anna. dan dia pergi kerumah sakit melihat temannya.
Makanya aku bawa motornya pulang. sebab dia bareng temannya juga!". jawabku.
"Hmm. kenapa tidak di antar kerumahnya?!".
"Orang tuanya sedang keluar kota!". jawabku.
"Oo.. kalau diantar juga pasti abangnya yang dingin dan datar itu yang ada di rumah. bisa beku kamu jika bertemu dia!". ucap silvia.
"Dingin?!. Datar?!. maksudnya Sil?!". tanyaku heran.
"Itu abang si Anna yang polisi. wajahnya dingin dan datar. sudah baik-baik menyapanya, karena tetanggaan. Eh tidak ada responnya. malah menatap dingin.
Padahal setiap pagi juga sering bertemu didepan gerbang. eh dia malah memandang datar!". cerita Silvia.
Kok.
Aku saja sudah dua kali bertemu dengannya, malah dua banyak ber bicara. dan tadi juga bicara usil dan juga senyum. dan sedikit gombal.
Apa dia...
__ADS_1
.
dan