
"Abang. Malu kan jadinya". Ujar Gita memberengut.
Dia kesal pada suaminya. Padahal mereka sedang menginap di rumah nenek mertua. Orang tua papa Guntur.
Tapi suaminya menjelang siang malah mengungkungnya untuk olah raga ranjang.
Mereka tadi baru saja sarapan pagi bersama. Dan berbincang sejenak di ruang keluarga.
Tapi saat akan beristirahat menjelang sholat Zuhur. Guntur malah beraksi. Membuat Gita mandi lagi menjelang sholat Zuhur.
"He.. He...
Kan semalam tidak olah raga sayang. Ya di ganti siang ini. Biar cepat jadi". Ujar Guntur.
Dia membantu istrinya mengeringkan rambut. Karena sebentar lagi azan zuhur.
"Tapi malu bang. kedengaran oleh anna dan yang lain kan tambah malu bang. Mana masih banyak bocah juga". Ujar Gita.
"Santai saja. Kamar ini pakai peredam suara kok. Jadi suara kita tidak akan terdengar keluar". Jawab Guntur.
Semalam mereka berkumpul dengan keluarga besar papanya di rumah nenek Guntur.
Waktu pesta kemaren tidak semua bisa hadir, karena kesibukan dan juga ada diluar kota.
Maka nenek Guntur mengajak untuk berkumpul dirumahnya. Menyambut cucu menantu baru yang akan di perkenalkan pada keluarga besar.
Guntur tidur dikamarnya yang ada di rumah neneknya itu.
Semalam mereka berkumpul dan berbincang sampai tengah malam. Katena mereja jarang berkumpul juga.
Paling setiap libur atau lebaran saja.
Saat tidur, yang laki-laki semua berkumpul tidur di ruang tengah lantai dua rumah neneknya.
Dan kamar di isi yang perempuan. Padahal kamar di rumah neneknya cukup untuk semua. Sudah ada bagian sendiri.
Tapi memang kebiasaan semua, jika berkumpul akan tidur bersama di tengah rumah.
__ADS_1
Kamar mereka hanya untuk mandi dan berganti pakaian.
Gita semalam lekas masuk kamar, karena mengantuk. Dan suaminya entah pukul berapa masuk kamar.
Saat azan Zuhut, mereka sholat zuhur bersama di musholla yang ada di depan rumah nenek.
Dan dilanjutkan untuk makan siang bersama.
Hingga sore barulah saudara dari papa guntur kembali ke kota tempat tinggal mereka masing- masing. Karena besok akan bekerja, dan anak mereka akan sekokah.
.
"Kalian Istri polisi ya atau polwan?". Tanya Dika.
Kebetulan duduk mereka berdekatan. Hingga Dika bisa bertanya langsung.
"Kami istri polisi bang!.
Ada apa abang bertanya?mau cari istri yang polwan ya?". tanya salah satu dari mereka.
"Ah mana mau polwan sama saya, orang pengangguran begini". Ujar Dika merendah.
"Masa sih pengangguran. Ganteng begini. Paling abangnya pengangguran banyak follower. Dan uang mengalir terus". ujar yang lain.
"Ah tidak kok. jauh dari aku itu mah". jawab Dika tersenyum nalu.
Pura-pura, jaim lah.
"Aku juga punya teman yang suaminya polisi". Ujar Dika.
"Oh ya?. Siapa namanya bang dan nama suaminya?". tanya salah satu perempuan.
"Nama temanku itu Gita. Tapi nama suaminya kurang tahu sih.
". Jawab Dika jujur.
"Mungkin juga mereka tinggal di asrama". Tambah Dika.
__ADS_1
"Oo.. Kita belum ada mendengar nama Gita. Dan belum pernah bertemu sih. Dibagian apa suami teman abang dinasnya?". Tanya salah satu perempuan.
"Aduh. Kurang tahu juga". Jawab Dika. Karena memang tidak tahu.
"Kami tidak tinggal di asrama bang. Atau dia baru menikah dan belum bergabung dengan satuan kita". jawab yang lain.
"Iya dia baru menikah, belum seminggu ini pestanya. Di taman green house Mermaid kalau tidak salah pestanya". Jawab Dika menerangkan.
"Yang pesta disana kemaren adalah pak.....".
"Silahkan dinikmati ibu-ibu".
Tiba-tiba ucapan itu terpotong oleh pelayan warung mengantar oesanan makanan pesanan mereka.
Membuat info yang dinanti Dika terpotong.
Bahkan para ibu itu tidak lagi melanjutkan ucapannya. malah sibuk mengambil piring makanan yang dihidangkan.
Melupakan Dika yang menunggu info.
Tidak seorangpun dari ibu-ibu itu melihat Dika, sibuk menyuapi makanan kemulut mereka sambil berbincang.
Melihat itu membuat Dika kesal. Ingin menumpahkan makanan mereka semua.
"Maaf bang. Kami belum kenal dengan teman abang, karena dia belum bergabung dengan kami". Ujar salah satu ibu yang kebetulan menghadap Dika.
Itupun setelah beberapa lama Dika menahan kesal.
"Nama su....".
"Bjsa saja mereka masih pengantin baru, dan belum ikut kesatuan para istri polisi. Ibu bhayangkari". Potongnya.
"Abang temui saja teman biar kenal suaminya dengan abang". Jawab yang lain.
Membuat Dika patah arang. tidak bisa mendapat info yang diinginkannya.
Dengan malas Dika berdiri dari duduknya untuk keluar dari warung makan di pinggiran lapangan dan juga taman kota.
__ADS_1
.
.