Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Di paksa


__ADS_3

Pukul setengah lima Gita menyelesaikan pekerjaannya. Dia dan Jenny menyelesaikan bahan untuk rapat besok. Karena jenny besok untuk pertama kalinya memimpin rapat sebagai bos divisinya.


"Gita. Kok kamu tidak mau menjadi sekretaris wakil direktur?. Kan karirmu bisa cepat naik". Tanya jenny saat mereka melipat berkas yang mereka kerjakan tadi.


"Belum sangub saja bekerja di bagian itu. Juga, aku masih ingin bekerja terjadwal.


Kalau aku jadi sekretaris, aku pasti akan sibuk. Kapan aku mencari penganti imamku". Ucapku beralasan.


"Ooo begitu. Benar juga pemikiranmu itu. Segera move on. Yang sudah pergi tidak akan kembali lagi.


Apalagi menjanda itu tidak enak Gita. Pulang telat di gosipin cari mangsa, pergi nongkrong di bilang jual tampang. Dekat dengan laki-laki dikatakan mau jadi pelakor.


Pusing". Oceh Jenny.


"Eh tapi gita. Kalau kamu jadi sekretaris pak wakil direktur. Kamu bisa mengaet dia untuk imam kamu.


Itu kalau dia belum menikah.. He..he..". Ucap jenny usil.


"Maaf. Bukan tipeku.


Lagipula masa belum menikah. Secara punya jabatan begitu". Ucapku.


Karena aku yakin, Dika pasti sudah menikah. Walau umurnya baru dua puluh tujuh tahun.


Aku tahu umurnya, karena aku sama sma dan kuliah.


"Sepertinya dia belum menikah deh Gita. Masih imut begitu. Masih pejaka juga kali dia". oceh Jenny menerka.


"Tidak tertarik aku". Jawabku.


Pejaka?!. Aku tahu dika itu pernah melakukan hubungan suami istri saat kuliah dulu. Aku yang pergoki.


"Kalau kamu berminat, buat kamu saja". Usul usil pada Jenny.


"Lah. Bocah dua orang dirumah di kemanakan?. Terus bapaknya bocah aku kantongin dimana?". Ucap Jenny.


Jenny memang sudah menikah, dan punya anak dua orang. Tapi dia seperti remaja obrolannya. Hangat untuk bercerita.


Umurnya juga lebih tua dariku lima tahun. Tapi dia tidak mau di panggil kakak. Entah jika sudah menjadi bosku. Minta di panggil ibu.


"Yuk pulang". Ajaknya.


"Baik!". Ucapku yang sudah selesai mengemasi berkas tadi. Dan bersiap untuk pulang.


Ini sudah telat setengah jam, karena tadi aku menyiapkan berkas dengan jenny. dan mengemasi barangnya untuk di pindah besok keruang kerja barunya. Ruang bos divisi keuangan.


Saat di base ment kami berpisah. Karena Jenny menuju mobilnya. Dan aku juga menuju mobilku. parkir mobil kami beda blok. Aku di f dan jenny di b.


Tiba-tiba aku ditarik seseorang memasuki mobilnya. Aku berontak. Mencoba melawan, mengeluarkan keahlian karateku yang aku pelajari semasa sekolah.


Dan. Aku kalah, karena tanganku di pelintir ke belakang.


"Jangan melawan Gita. Kamu pasti tidak bisa mengalahkan saya!". Ucapnya.


Aku tahu itu suara Dika. Mantan pacarku dari kelas dua sma sampai pertengahan kuliah. Juga seniorku di kelas karate.


"Lepas!". Ucapku.


"Kita harus bicara!". Ucapnya menarik tanganku memasuki mobilnya.


"Jangan kabur. Aku bisa bertindak kasar jika kamu berulah!". Ancam nya.


Saat selesai memasang seatbelt. Dan menutup pintu mobilnya. Dia memasuki pintu kemudi.


Lalu menghidupkan mobilnya. Membawa mobil keluar baseman.

__ADS_1


"Mobilku". Ucapku.


"Nanti orangku mengantar ketempat kita bicara". Ucapnya tanpa melihatku.


"Mana kunci mobil kamu". Tambahnya mengulur tangan kirinya. Sementara tangan kanannya mengemudi.


"Cepat. Kalau kamu ingin cepat pulang". Ucapnya dingin.


Aku memberikan kunci mobilku padanya.


Saat lampu merah pertama, dia berhenti. Dan memberikan kunci mobilku pada seseorang yang berdiri di pinggur jalan.


Aku mau protes, tapi aku ingat ucapannya tadi. Akan mengantar ke tempat berbicara nanti.


Sekitar lima belas menit, mobil memasuki pekarangan sebuah mesjid.


Dan dia menarikku turun. Menuju sebuah rumah mewah mungil yang ada di samping mesjid. Aku tidak tahu itu rumah siapa.


lalu memasuki sebuah kamar yang berada di bagian samping belakang. Kamar seperti kamar anak laki-laki.


"Duduk!". Perintahnya. Menyuruhku duduk di sisi tempat tidur.


Aku sedikit takut. karena melihat Wajah Dika yang terlihat marah. Dan takut akan di perkosa.


Karena waktu aku minta putus darinya dulu. Aku hampir di perkosa oleh Dika. aku tidak mau diduakan olehnya.


Flashback.


"Dika!!". Teriakku.


Saat itu kami ada acara bakti sosial mahasiswa baru di sebuah kampung, selama tiga hari.


Dan kami di tempatkan di beberapa rumah warga yang kosong. Pria dan wanita di pisah tempat tinggalnya.


Aku yang siang itu sakit perut, pergi kerumah tempat markasku dan tempat tinggal perempuan.


"Cha, aku ke markas sebentar ya. Perutku mules!".ucapku pada yuniorku.


yang sedang membersihkan halaman balai desa. Dan banyak mahasiswa lain di jalan depan balai desa.


"Ke toilet balai desa saja kak". Usulnya.


"Tadi sudah kesana. Ternyata antri. Sedang aku sudah tidak tahan". Ucapku.


Padahal rumah markas kami ada di ujung jalan, seberang kali yang membentang di depan balai desa. Lebih kurang tiga menit berjalan.


"Ok kak. Hati-hati!". Ucapnya.


Aku jalan buru-buru menuju markas perempuan. Saat sampai di markas. Pintu tidak tertutup rapat. Padahal semua mahasiswi ada di balai desa untuk kerja bakti.


Tapi..


Terdengar suara orang berbicara pelan dengan nafas yang ngos- ngosan dan bunyi yang aneh.


Aku mengabaikan perutku yang sakit. Mengintip kamar bagian belakang yang hanya tertutup tirai.


Dan..


"Cepat bang. Aku sudah tidak tahan. Ah.. Ah... Ah...". Erang wanita yang sedang diduduki seorang pria.


Terlihat jelas rudal sang pria yang mengkilat bergerak keluar masuk di antara paha sang wanita yang mengangkang lebar.


Bagaimana tidak. posisi inti tubuh sang wanita langsung menghadap pintu masuk kamar. Dan bokong sang pria menunging kearah pintu kamar.


Sungguh pemandangan yang menjijikan. terlihat tubuh mengkilat berkeringat, dangan bagian tubuh yang menyatu basah oleh...

__ADS_1


'Siapa mereka?. Berani sekali mereka berbuat mesum disini'. Pikirku


"Sedikit lagi sayang. Hampir sampai. Ah.. Nikmat sayangh.. jepit terus sayangh. Ah...". Racau sang pria.


'Suaranya seperti....


"Sayang.. Aku sampai sshhh...


"Dika!!!!". Teriaku keras.


Membuat sepasang binatang berwujud manusia melepaskan penyatuan mereka.


Terlihat pancaran air mani deras muncrat dari senjata yang tadi terbenam dengan nikmat di antara dua paha sang wanita. Mungkin tadi mereka sedang menikmati orgasme bersama- sama.


"Gita?!!".


Kaget Dika dan...


Hanum.. Junior ku. Wanita yang sangat alim diantara temannya.


"Aku... Aku..".


Dika panik mendekatiku dengan tubuh polosnya.


"Jangan mendekat!". Ucapku.


"Jangan sok alim kamu kak. pasti kamu tadi ***** melihat kita yang sedang berbagi kehangatan". Ucapnya mendekat.


Dan merarik jilbab instanku hingga terlepas. Lalu mendorong tubuhku yang tadi hampir jatuh keatas kasur hingga telentang.


"Sayang... Nikmati juga dia sayang. Pasti masih perawan!". Ucapnya menarik blusku hingga robek. Menampakan perutku.


Lalu menduduki kedua tanganku di atas kepala.


"Cepat!". Teriaknya. "Buka celananya. Biar dia bisa menikmati apa yang dia tonton tadi".


Berusaha merobek baju bagian dadaku. Hingga hanya braku tertinggal.


Dan... Dengan brengseknya Dika mendekat. Meremas payudaraku yang terpampang. Membuka paksa braku hingga robek.


Aku berusaha berteriak. Tapi mulutku lebih dulu di sumpal robekan blusku oleh Hanum.


Hingga kurasakan mulut dan tangan Dika bermain di pucuk dadaku.


Aku jijik. Mual. Mengingat, pasti mulut dan tangan itu baru saja menjamah tubuh hanum.


"Yang bawah nikmati Dika". Perintah hanum.


Aku hanya bisa meneteskan airmata sambil berteriak tertahan karena mulutku tersumpal. Saat Dika membuka penutup inti tubuhku. Dan melebarkan paksa pahaku, membenamkan kepalanya di depan inti tubuhku.


Dapat aku rasakan bibirnya menjepit sesuatu yang aku simpan. Untuk suamiku kelak.


Hingga...


Croottt...


Aku yang tadi sakit perut malah mencret di atas kasur hanum. Saat Bibir dika mengemut inti tubuhku.


Dika langsung berdiri menjauh. Dengan mulut yang...


Hingga aku lepas dari perkosaan paksa. Walau bagian tubuh sensitifku sudah di jamah mulut Dika.


Dan siang itu aku langsung pulang, dengan izin pembimbing. Karena aku sedang sakit.


Flashback off.

__ADS_1


.


.


__ADS_2