
"Gita. kamu di panggil direktur keruangannya". Ucap pak bos divisi Gita.
Yang berdiri di dekat meja kerja gita.
"Ada apa ya pak. Kok mendadak?". Tanya gita.
Gita melihat jan di pegelangan tanggnnya. Pukul setengah tiga.
"Mengenai surat tadi". Ucap pak bos.
"Apa isi suratnya sudah final pak?. Apa masih bisa di ganti. Aku belum siap sepertinya". Jawab gita.
"kalau soal itu kamu bisa bicarakan nanti dengan pak direktur". Jawab pak bos.
"Mereka sudah menunggu kamu di ruang direktur. pergilah".ucsp pak bos.
"Baik pak". Gita mengangguk.
Gita berdiri dari duduknya. Dan berjalan menuju ruang direktur yang berada dilantai teratas. lantai lima belas. Sedang dia berada di lantai sembilan.
"Silahkan masuk mbak Gita. Sudah di tunggu pak direktur di dalam". Ucap sekretaris direktur saat gita sampai di lantai teraratas.
Membukakan pintu ruang direktur. Gita sudah beberapa kali memasuki ruang direktur ini. Biasa bersama bos divisinya.
Tapi sekarang dia datang sendiri. Karena di panggil langsung oleh sang direktur.
"Terima kasih mbak Citra". Jawab Gita tersenyum.
"Silahkan duduk Gita". Ucap oak Hamidi, sang direktur.
"Baik pak. Terima kasih". Jawab gita.
Dia duduk di kursi sofa singel sebelah kiri sang direktur. Sementara ada sang wakil direktur baru dududk di sofa sebelah kanan direktur.
"Khem...
Maaf pak. Ada apa ya aku di pangil kesini?!". Tanya gita.
Setelah menarik nafas beberapa kali.
Dari dia masuk tadi dia sangat kesal melihat sang wakil direktur baru yang selalu tersenyum memandangnya.
Bahkan Gita tidak sekalipun melihat kearah sang wakil direktur itu.
"Mengenai posisi kamu nanti.
Apa kamu sudah membaca surat yang diantar ke meja kamu tadi?!". Ucap pak direktur.
"Sudah pak. Tapi maaf, mungkin saya belum pantas untuk menempati jabatan itu.
Masih banyak senior yang lebih berpengalaman menempatinya. Maaf". Ucap Gita langsung. Tanoa basa basi.
"Kamu bisa belajar dari awal Gita. Semua sekretaris juga tidak harus yang punya pengalaman. Banyak yang juga baru". Jawab sang wakil direktur.
"Benar pak, karena mereka basic nya kuliah itu. Sementara latar belakang pendidikan saya pembukuan pak. Tidak pas untuk itu.
__ADS_1
Pasti akan belajar dari awal. Dan butuh waktu untuk medalaminya!". Jawab Gita memandang sang wakil durektur.
Nereka saling pandang. Gitapun juga tidak mau kalah. Karena dia ingin diangab takut. Oleh sang mantan. Eh sang wakil direktur. Andika.
"kamu bisa belajar dari yang senior". Ucapnya tegas.
"Usul saya lebih baik cari senior yang berpengalaman. Atau yang sudah biasa menjadi sekretaris". Ucap Gita.
"Aku maunya kamu!". Ucap sang wakil direktur tegas.
"Aku tidak bisa!". jawab Gita.
"Kamu menolaknya?!". ucap Andika.
"Iya. Karena bukan basic aku". Jawab Gita.
"Banyak lulusan seperti kamu yang jadi sekretaris. Kenapa kamu tidak bisa?!". Ucap Andika pada Gita.
"Karena aku yang tidak mau". Jawab gita.
"Kenapa?!.
Apa karena aku pimpinannya?". Tanya andika lagi
"Tidak. Karena aku belum siap!". jawab gita.
"Tidak masuk akal jawaban kamu Gita. Jawab jujur pertanyaanku. Kenapa kamu tidak bisa menjadi sekretarisku?!". Ucap Andika kesal.
"Karena cita-citaku jadi pimpinan perusahaan. Bukan sekretaris!". Jawab Gita tegas.
"Harus belajar dari bawah. Bukan langsung direktur". Ucap andika.
"Kamu....!".
"Kalian kenapa?!. Apa Kalian saling kenal?!". Tanya sang direktur.
"Kenal!".
"Iya!".
Jawab mereka bersamaan.
"Teman atau...".
"Pacarku waktu kuliah". Jawab Andika.
"Mantan pacar yang paling brengsek. Dan munafik!". Tegas Gita melihat Andika kesal.
"Kamu belum mendengar penjelasanku gita!. Aku bisa menjelaskannya. Tidak bisa menilai aku begitu.
Aku sudah berusaha menjelaskan semua padamu, tapi ....".
"Tidak perlu. Aku sudah lupa semua. Juga aku lupa kaan alu pernah mengenal kamu!". Potong Gita.
Sang direktur hanya terkejut mendengar perdebatan mereka.
__ADS_1
"Maaf pak Hamidi. Aku tidak bisa menerima jabatan ini. Bukan katena apa. aku yang belum siap". Ucap Gita melihat kearah sang direktur.
Karena dia malu dengan sang direktur, berdebat dengan Andika sang mantan di ruang direktur.
"Kalau kamu tidak mau jadi sekretarisku kamu harus mengundurkan diri dari...".
"Dika!!". Bentak sang direktur.
"Baik. Jika pak ditektur mengizinkanku resign!". Jawab Gita tegas.
"Aku yang memecat kamu!. Jika kamu tidak mau".
"Apa hak kamu memecatku!. Pak direktur yang berhak memecat saya, bukan kamu!". Tantang gita.
"Karena aku...".
"Dika!!. Kamu tidak bisa main ancam begitu. Tidak mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan. Kalau nak gita tidak mau menjadi sekretaris kamu itu hak dia". Potong sang direktur.
"Tapi pah. Aku kan sudah bilang. Aku mau ke kantor pusat jika Gita yang jadi sekretarisku. Papa sudah janji. Ingat itu". Ucap Andika..
"Papa?!. Pak hamidi papa kamu?!". tanya Gita terkejut.
"Iya.
Kamu harus ikut perintah papaku. Pimpinan kamu. Dan sekarang aku juga pimpinan kamu. Ingat itu!". Tegas Andika.
Gita hanya tersenyum.
"Baik. Aku akan ikut perintah pak Hamidi". Ucap Gita.
Menghadap pak direktur.
"Dan maaf pak direktur, aku tidak bisa menjadi sekretaris pak Andika. Semua keputusan ada pada bapak.
Aku akan terima apapun perintah bapak sebagai pimpinan di perusahaan ini". Ucap Gita.
Pak direktur menarik nafas pelan, dan tersenyum.
"Kamu boleh bekerja di tempat kamu biasa. Tidak ada pemindahan tempat kamu bekerja.
Silahkan balik keruangan kamu. Dan selamat bekerja!". Ucap pak hamidi. Sang direktur.
"Papa!". Ucap Andika.
"Terima kasih pak. aku balik dulu keruanganku". Ucal Gita tanpa mempedulikan protes Andika.
"Silahkan". Ucap sang ditektur.
Gita berdiri dari duduknya, menuju pintu keluar ruang direktur.
"Kita harus bicara Gita. Agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi!". Ucap Andika sebelum Gita keluar ruangan direktur.
Gita tidak menanggapinya.
.
__ADS_1
.
.