Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Dugaan Dika


__ADS_3

Sudah hampir dua jam Dika tertidur di karpet ruang kerjanya. Masih dengan tubuh polosnya.


"Dingin sekali". Gumam dika meringkuk menghadap sofa.


Bagaimana tidak. Dia tertidur tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Untung saja saat keluar tadi haikal menaikan suhu pendingin ruangan, agar tidak terlau dingin.


Dika memandang sekeliling. Ruangan sedikit gelap karena langit di luar gedung sudah berwarna jingga. Sudah hampir gelap. Sementara lampu ruangan tidak hidup.


Lalu dia bangun. dan duduk selonjoran dikarpet, bersandar di sofa.


Dia memijit keningya yang sedikit pusing.Tubuhnya terasa remuk.


Dika melihat tubuh bawahnya. Tepatnya pada juniornya yang sedang kedinginan. Bersembunyi.


Lalu dika memegang juniornya yang mengkerut kedinginan. Sambil tersenyum dia membayangkan bar saja mengagahi Gita yang dia incar semenjak dulu.


"Ternyata kamu nikmat juga Gita". Ucapnya sambil tersenyum.


lalu dia berdiri dengan tubuh polosnya. Lalu menggidupkan lampu ruangan.


Kosong. Hanya ada dia.


Dika memandang sekeliling, banyak noda dan aroma persegamaan tadi. Bulu Karpet basah, dan sedikit berantakan.


"Ternyata kamu pergi duluan ya Gita. Padahal aku ingin mengulanginya lagi. Ternyata liar juga kamu. Banyak gigitanmu di tubuhku". Ucap Dika merasa beruntung, bisa menaklukan Gita.


"Untung aku memanggilmu menjelang sore. Tidak ada yang menganggu permainan kita. Karena sudah mulai pulang.


Besok akan aku ajak kamu ke apartemenku. Biar lebih leluasa main".


Hayalan Dika, memikirka Gita. Yang sangat dia ingini semenjak dimasa kuliah dulu.


Dengan malas Dika memasuki toilet yang ada dalam ruangannya.


Mandi sambil besenandung gembira. Hingga dia tidak mengetahui waktu terus berlalu. Dan langit sudah gelap. Barulah dia keluar.


Memakai bajunya tadi kembali. Karena di ruang istirahatnya belum ada pakaian gantinya.


Terasa perutnya lapar, dan dia menelfon sang Asisten.


Ternyata sang asisten sudah duluan pulang.

__ADS_1


"Kenapa pulang duluan?". Marah Dika.


"Maaf bos. aku kira bos tidak mau diganggu karena sedang menikmati wanita pujaan sampai malam. Makanya saya balik duluan.


Lagian kantor sudah sepi. Juga takut ketahuan karyawan lain kalau bos masih di kantor. Jadi aku menghilangkan jejak, agar bos aman". Terang sang asisten.


"Ok. Terserah kamu lah. Sekarang jemput aku. Aku lapar". perintahnya.


"Baik bos. Aku segera kesana". Jawab sang asisten.


Mengikuti perintah bosnya.


.


"Langsung resign saja Gita. Aku tidak mau kamu dilecehkan lagi.


Kejadian tadi sudah diluar batas. tidak ada toleransinya lagi untuk bertahan bekerja disana.


Sekarang kamu harus....".


panjang omelan Guntur pada Gita.


Beberapa hari yang lalu dia minta pada temannya untuk mengawasi kegiatan Gita. Menceritakan gita yang sedang di intimidasi sang bos.


Ya. Haikal sang ob yang membantu. Dia yang mengawasi Gita saat di kantor.


Bahkan Haikal yang biasa bekerja sebagai kepala keamanan dan pengawas ruangan cctv.


Bisa dengan mudah melancarkan aksinya. Dia yang bukan ob mau turun tangan membantu teman- temannya untuk membuat minuman.


Dan tadi setelah membuat minuman untuk rekan kerjanya, dipangil oleh Dika keruangannya. Untuk membuat dua buah minuman untuk tamu bosnya itu.


Dan Haikal tahu minuman itu untuk gita saat mereka ber senggolan menjelang gita sampai di ruangan sang Bos.


Dia mulai curiga. Karena sang bos memberikan sebungkus bubuk untuk dimasukan ke minuman tamu.


Dia juga sempat memberi tahu gita, agar tidak minum.


Selesai mengantarkan minuman tersebut, Haikal langsung menuju ruang cctv ruang kerjanya.


Dia mematikan Cctv yang ada lantai wakil direktur. Dan memutar vidio tadi pagi. Yang sepi,

__ADS_1


Makanya dia berani masuk membawa wanita tadi untuk menolong Gita. Hingga kembali membawa wanita tadi keluar ruang bos, membawa dua ikat uang.


Setelah sang wanita keluar gedung kantor. Haikal kembali menghidupkan cctv. Seperti biasa dengan sedikit editan..


Dan Haikal pulang agak telat. Karena mengotak atik vidio cctv. Biasa oulang pukul lima sore. Dan tadi lewat sedikit, hampir setengah enam.


Sedangkan Dika masih tidur meringkuk di karpet ruang kerjanya. katena masih terpengaruh obat perangsang, yang membuat dia tidak mengingat secara detail kejadian yang sebenarnya.


"Untung dia membantu kamu untuk kabur. Bagaimana kalau tidak ada dia.


Bisa langsung aku bunuh dia". Ucap Guntur geram.


"Iya bang. Besok akan kuberikan surat resignku. Tadi juga sudah aku bicarakan dengan bang haikal.


Dia akan bantu jika aku di beri kesulitan". Jawab Gita.


Untung mereka hanya bicara lewat telfon, karena Guntur sedang tinggal di asrama perumahan polisi.


Gita tidak melihat wajah Guntur yang murka. Karena mendengar calon istrinya akan dilecehkan bosnya di tempat kerja.


Bahkan Guntur ingin sekali memberinya pelajaran.


"Kirim saja surat resignnya ke kantormu. Jangan kesana lagi!". Ucap Guntur masih keberatan. melepas hita kekantornya untuk memberikan surat resign.


"Hmm. Tapi aku akan memberi kan langsung pada pimpinan perusahaan bang. Juga mau mengambil semua barangku". Jawab Gita.


"Aku cemas, jika dia akan berbuat nekat padamu". Ucap guntur.


"Inshaa allah tidak bang. Aku akan datang pagi. Biasanya dia datang agak siang. Jadi tidak mungkin aku akan bertemu dia". Jawab Gita.


"Aku temani ya. Besok aku jemput". Tawar Guntur.


"Tidak usah bang. Aku usahakan cepat menyelesaikan urusanku". jawab gita.


"Ok. Tapi aku tunggu kamu di cafe depan kantor kamu. dan kamu besok di jemput leo saja untuk berabgkat. Biar tidak bawa mobil. Dan pulangnya kamu langsung temui aku". Ucap Guntur tidak mau di bantah.


"Baik bang". Jawab Gita


.


.

__ADS_1


__ADS_2