
Sudah seminggu Guntur dan Gita menikah. Gita ditemani oleh guntur ke pengadilan agama.
Berkas untuk persidangan surat cerai mati Gita sudah dimasukan oleh mertuanya lebih dari sebulan yang lalu. Sebelum Gita pindah.
Waktu itu orang tua almarhum suaminya marah karena tidak daoat uang pesangon dari anaknya.
Makanya mereka mengurus surat itu tanpa diskusi dengan Gita. Dan saat Gita memberi mereka bagian uang gaji dan uang pesangon. Barulah mereka bersifat baik.
"Oh. Atas nama Anggita Fazilla. Sebentar ya bu, aku cari dulu". Ucap pegawai di pengadilan agama.
Gita ditemani oleh Guntur. Mereka langsung datang ke kantor pengadilan karena berkasnya sudah dimasukan oleh mertua Gita waktu itu.
"Atas nama ibu sudah terdaftar. Dan menetapkan waktu sidang saja. Itu tergantung kapan ibu mau dilakukan sidangnya". Ujar pegawai pengadilan.
Gita melihat kearah Guntur.
"Bagaimana kalau kamis. Aku dinas malam hari itu". Usul Guntur.
"Ok.
Aku ambil kamis saja mbak. Pukul berapa yang bisa". Ucap Gita.
"Hari kamis bisa pukul sepuluh mbak". Jawab pegawsi itu.
"Baik. Aku ambil kamis saja mbak". Jawab Gita.
"Baik bu".
Selesai dari kantor pengadilan agama, Guntur mengajak Gita kesebuah kantor perumahan.
Rencananya dia akan mengambil untuk mereka tinggal.
"Kenapa kesini bang?!". Tanya Gita.
Saat mereka sampai di depan kantor perumahan.
"Kita ambil rumah di perumahan. Sederhana memang. Tapi dekat dengan kantor dan tempat dinasku". Jawab Guntur.
"Kenapa tidak tinggal di asrama saja bang. Kata Anna abang ada dapat rumah tinggal di asrama". Ujar Gita.
"Kamu mau tinggal di asrama?. Rimahnya kecil lho". Jawab Guntur memandang istrinya. Gita.
"Maulah bang. Kan kita juga tinggal berdua. Buat apa rumah yang besar, belum ada gunanya juga saat ini.
Lagian kalau mau kebih dekat, aku juga punya apartemen di daerah g lebih dekat dengan kantor abang". Ujar gita.
"Kamu serius mau tinggal di Asrama?. Berbaur dengan para istri polisi yang lain?". Tanya Guntur tidak percaya.
"kenapa tidak. Sama juga mungkin dengan tinggal di cluster". Jawab Gita.
"Iya. Tapi di asrama ada ibu-ibu yang julid. Apalagi jika kedudukan suaminya agak tinggi.
__ADS_1
Suka sombong dan sering meremehkan istri yang suaminya berpangkat rendah.
Apa kamu sanggub tinggal disana. Ditambah, pangkatku masih dibawah". Jawab Guntur.
"Biasa itu bang. Di permahan juga begitu. Malah memamerkan harta dan materi". Ujar Gita.
"hmm.. Ok..
Kita akan tinggal di asrama. Kalau kamu tidak betah, kita pindah ya. Aku takut kamu tidak nyaman". Jawab Guntur.
"Baik. Kita coba dulu. Lagian kalau mau pindah, apartemenku siap kok. Untuk kita tinggali". Jawab Gita.
"Ok. Setuju.
Senyaman kamu saja. Kalau ada apa-apa langsung bilang sama aku. Jangan di diamkan". Ujar guntur.
Gita mengangguk, dan Guntur menjalankan mobilnya kembali. Tidak jadi memasuki kantor pemasaran perumahan.
.
"Kerumah Dian dulu!". Ujar Dika pada asistennya.
Sang asisten mengangguk. Lalu mengarahkan mobilnya ke perumahan cluster tempat tinggal Dian.
Satpam perumahan cluster dian sudah hafal dengan mobil Dika. Karena seminggu ini sering datang.
Hingga satpam langsung membukakan gerbangnya. Hingga Dika bisa masuk dengan mudah.
Samg asisten menunggu saja di mobil.
Ternyata pintu rumah Dian terbuka. 'Pasti dia menungguku'. Gumam Dika.
Dika tidak melihat Dian duduk di ruang tamu seperti biasa.
'Kemana dua?. Kenapa rumahnya terbuka?'. Gumam Dika.
Dia ingin melihat keruangan lebih dalam. Kedapur atau..
"Ah.. Lebih cepat sayang. Aku mau sampai!". Erang Dian.
Dika tertegun di dekat pintu kamar Dian. yang ternyata tidak tertutup rapat.
"Sebentar lagi. Aku belum sampai. Tahan dulu". Ucap seseorang.
Yang Dika yakin dian sedang melayani seorang laki-laki.
"Aku ... Tidak .. Tahan...". Ucap dian. Mencoba menahan.
Plak
"Aku bilang tunggu!".
__ADS_1
Suara tamparan diiringi suara keras laki-laki.
"Aku capek Wil. Sudah tiga jam aku kamu beraksi. obat apa yang kamu minum. Hingga tahan begini". Jawab Dian lemas.
"Terserah aku. Kamu cukup menerima saja!". Ucapnya terus menghentakan pinggulnya kasar.
Membuat tubuh Dian berguncang hebat.
Dika yang sudah berdiri di depan pintu kamar melihat jelas persetubuhan itu.
Walaupun dika suka memakai jasa wanita malam. Tapi Dika jijik melihat sepasang manusia yang sedang berbuat maksiat.
Puk.. Puk... Puk...
Bunyi benturan kedua alat kelamin manusia terdengar jelas.
Ditambah umpatan sang laki-laki yang sedang menikmati sodokannya. Dan dian hanya bisa mengerang dibawah kungkungan laki-laki itu.
"Terima ini pelacur murahan. Pejuh nikmat kesukaan kamu... Ahhh.. Ohhh... Ahhh...". Erang sang lak-laki membenamkan pusakanya.
"Ahh...... Hmmmm...". Dian juga mengerang.
Dika beranjak dari depan pintu. Keluar dari rumah dian.
Dia sangat jijik. Walau itu juga perbuatannya sendiri. Suka celap celup tiap hari.
"Ayo. Pergi!". Ucap Dika.
Sang asisten melajukan mobil saat Bosnya menaiki mobil.
"Sudah dapat alamatnya bos?". Tanya sang asisten.
"Belum.
Pelacur itu sedang melayani tamunya. Jijik aku melihatnya". Jawab Dika.
"Pelacur?. Jijik?". Tanya sang asisten itu heran.
"Iya. Dia sedang.. Ah, kamu tahu sendirilah. Apa yang dilakukan seorang pelacur diatas kasur dengan pelanggannya". Jawab Dika.
"Oo. Apa bos ***** melihat itu. Pesan saja langsung". Usul asisten.
"Malas. Semua pelacur itu sama. Maunya dikencingi siapa saja. Makanya aku lebih tertarik dengan Gita.
Walaupun dia janda tapi terhormat. Tidak suka mencari perhatian laki-laki lain". Jawab Dika.
'Gita lagi. Wanita terhormat seperti bu Gita mana mau dengan kamu bos. Celap celup tiap hari dengan wanita bayaran.
Bahkan sudah melecehkan dia, mana mau dia menerima. Dasar tidak tahu diri. Bos edan'". Gumam asisten dalam hati.
.
__ADS_1
.