Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 90


__ADS_3

"Mobil Gita kemaren aku lihat ada di daerah mall Cipta. Apa kamu sudah menemukan tempat tinggal Gita?". Tanya Dika pada asistennya.


"Belum bos. Di data kantorpun tidak ada alamat lain selain alamat rumah yang sekarang di huni Dian.


Teman satu ruangannya pun juga tidak ada yang tahu dimana dia tinggal setelah pindah". Jawab sang asisten.


"Apa bos melihat Gita yang membawa mobilnya kemaren?". Tambah sang asisten bertanya pada bosnya.


"Aku melihat mobil di parkiran. Apa Gita tinggal di apartemen yang ada di atas mall itu?. Atau sedang berbelanja.


Waktu bertemu di cafe hari itupun aku tidak melihat mobil gita". Ujar Dika.


"Apa bos tidak menunggu atau menguntitnya?. Kan bos bisa menelfonku untuk mencari tahu atau kita bisa mengikuti mobilnya.


Jika bukan gita yang membawa, pasti keluarga atau temannya". Ucap sang asisten.


"Aku memang berencana mengikutinya. Tapi saat aku mau pulang. Mobil itu sudah tidak ada lagi di parkiran.


Apa alat pengintai yang terpasang di mobil Gita hari itu tidak kamu periksa?". Tanya Dika.


"Waktu itu masih di daerah lampung pak. Dan..


Apa mobil itu sudah dijual Bu Gita?. Makanya lama mobil itu disana". Ucap sang asisten tiba-tiba.


"Iya, mungkin saja dia menjualnya. Kan dia sudah tidak bekerja". Jawab Dika.


Sang asisten mengangguk.


Dika berfikir. 'Apa mungkin dijual mobil itu oleh Gita. Kan sekarang dia sudah tidak bekerja. buat apa dia memakai mobil mewah itu. Pasti dia butuh uang'. Gumam dika dalam hati.


"Coba kalau dia mau jadi sekretarisku, atau istriku. pasti hidupnya akan tenang.


Aku akan memberinya uang, tempat tinggal dan mobil. Tidak perlu pusing lagi untuk biaya hidup". Ujar Dika.


"Betul bos.


Bagaimana kalau kita datangi rumah orang tuanya. Mungkin saja bu Gita tinggal dengan orang tuanya.


Sekalian saja bos lamar dia pada orang tuanya". Usul sang asisten.


"Aku tidak tahu rumah orang tuanya. Lagian kampungnya jauh". Jawab Dika.


"Aku harap secepatnya dapat bertemu dengannya. Biar aku jadikan dia tawananku.

__ADS_1


Jika dia tidak mau jadi sekretarisku, akan aku jadikan istriku saja". Ujar Dika.


"Oh ya bos. Boleh aku tanya. Tapi jangan marah ya?". Ujar sang asisten.


"Mau tanya apa?".


"Hmm. Kenapa bos memaksa Bu gita untuk jadi sekretaris dan juga untuk di jadikan istri?". Tanya sang asisten.


"Aku masih cinta dengannya. Lebih empat tahun kami pacaran. Dan hanya dia pacarku yang baik. Tidak nakal.


Walaupun kami pacaran lama, dia sangat menjaga diri dan taat beribadah.


Aku salut padanya. Makanya aku ingin menjadikan dia istri, ibu bagi anak-anakku.


Lagian tidak salah juga untuk mrnjadikan dia istri. Kan sudah janda". Jawab Dika.


"Empat tahun pacaran, tapi tidak tahu rumah orang tua pacar". Tanya sang asisten.


"Seperti ucapan tadi. Kampung nya jauh. Dan dia itu semenjak sekolah menengah tinggal disini". Jawab Dika.


"Oo..


Terus, bos kok nakal. Suka celap celup. Dan katanya sudah ada tiga wanita yang mengaku hamil anak bos". Ujarnya lagi.


Mungkin saja sekarang dia sedang hamil.


Oh iya aku lupa. Bisa saja Gita akan datang menemuiku. Minta pertanggung jawaban". Ucap Dika tersenyum.


Menghayalkan kedatangan Gita.


Sang asisten hanya geleng-geleng kepala. Melihat bos mesumnya yang suka celap celup. Ingin punya istri yang katanya waktu itu menyerahkan diri untuk di gagahi. Atau diperkosa karena diberi obat perangsang.


'Apa masih mau orang yang sudah dilecehkan menyerahkan diri.


Tapi entahlah. Aku tidak tahu'. Pikir sang asisten.


.


Sudah hampir sebulan Guntur dan Gita menikah. Dan gita sudah mendapatkan surat cerainya dari pengadilan agama.


Dan statusnya sudah janda.


Hari ini Gita akan mendatangi kantor capil, intuk membuat ktp dan kk baru.

__ADS_1


Dengan kk dan ktp yang status janda inilah Gita akan mengajukan pernikahan ke instansi pekerjaan Guntur. Kepolisian.


"Sudah siap sayang?". Tanya Guntur menyisir rambutnya.


Mereka bersiap untuk pergi ke kantor catatan sipil.


"Sudah bang". Ucap Gita memasang bros di hijabnya.


"Sudah kering rambutnya?". tanya guntur mengacak pucuk kepala istrinya yang terbungkus jilbab.


"Lumayan. Tadi juga sudah pakai hairdryer". Jawab Gita.


"Ayok". Ajak Guntur.


Setelah menyemprotkan parfum ke lehernya.


Gita mengangguk.


Mereka berbimbingan tangan keluar dari unit apartemennya. Menuju parkiran.


Tidak sampai dua jam. Kk dan ktp Gita sudah selesai.


Dengan senyum yang merekah Guntur mengajak Gita untuk mampir ke restoran bebek.


Guntur membimbing istrinya memasuki restoran bebek. Langsung menuju lantai dua.


"Aku sudah lupa dengan mobilku yang terkurung disini. He.. He..". Gita tertawa.


Semenjak mobil yang di titip di restoran bebek ini, karena di pasang alat pengintai oleh anak buah Dika waktu itu.


Maka Gita kenana-mana selalu di supiri oleh supir keluarga Guntur. Atau Diantar oleh Guntur jika tidak sedang berdinas.


Apalagi semenjak pernikahan siri terlaksana setelah beberapa hari mobil ini di tinggal di restoran bebek. Gita selalu di antar supir atau Guntur.


"Kita kesini bukan mengambil mobil kamu sayang. hanya ingin makan saja.


Lagipula mulai sekarang kamu akan punya supir sendiri. tidak mengemudikan mobil sendiri". Ujar Guntur.


Gita mengangguk paham. Karena dia juga merasa nyaman disupiri. Apalagi akan mulai bejerja di perusahaan cabang milik orang tuanya.


Dan ingat ancaman Dika waktu itu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2