Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Malu Sendiri


__ADS_3

Semua kaget dengan kokeksi tasku yang mereka pegang.


"Tangganku bergetar memegang. tasnya mahal!". ucap oliv.


"Lebay!". ucap mitha.


"Betul. tasku paling mahal seharga enam juta. itupun di belikan pacarku waktu hadiah ulang tahunku!". ucap oliv.


"Lumayan!. aku cuma dua jutaan paling mahal. itu juga banyak puasa jajan selama tiga bulan!". ucap mitha.


Kulihat Hani hanya mematung.


"Yang mana tas kamu?!. ambil kalau ada". Ucapku.


Dia linglung, tidak tahu berucap apa lagi. membuat teman yang lain jadi tertawa geli.


"Makanya kalau menuduh itu, lihat dulu. pasti kamu lupa dimana tinggalnya tas kamu!". ucap ibu kos pada hani


"Aku juga tidak percaya kalau Gita itu pencuri. mobilnya saja mahal!". mitha.


"Aku juga tidak percaya. kalau pencuri hati pak polisi ganteng aku yakin. sampai pak polisi jarang senyum itu jadi murah senyum jika dekat dia!". tambah mitha lagi.


"Setuju!". ucap Silvia dan oliv.


Tiba-tiba Hani berlari keluar dari kamarku.


Semua membiarkan saja.


"Malu dia sepertinya!". ucap oliv.


"Jangan di perpanjang masalahnya biarkan saja!". ucap ibu kos.


"Silahkan balik kekamar kalian!". perintahnya lagi.


"Sebentar lagi bu. mau intograsi Gita dulu!". ucap mitha.


"Kenapa?!". tanya ibu kos heran.


"Kok bisa akan menikah dengan pak polisi gantengku!". ucap silvia melihatku.


"Oo. kamu masih penasaran?!". tanya ibu kos.


"Iya bu!. mau minta resep ampuh juga sekalian!. he.. he..!". cengir silvia lagi.


"Jangan kemalanan ngerumpinya. dilihat calonnya dari rumahnya itu!".tunjuk ibu kos. Saat dia akan keluar kamar.


"Dimana bu?!". tanya mereka


melihat kearah kiri tiga rumah depan kosan. tepatnya rumah bang guntur.


Gilanya lagi, mereka malah melambaikan tangan kepada Sang polisi, bang Guntur yang berdiri di teras lantai dua rumahnya.


Tidak berapa lama terdengar bunyi ponsel Gita. dan tertulis yang memanggil calon imam.

__ADS_1


"Assalamualaikum!!". jawab Gita.


"Waalaikimmussalam.


Kok ramai di kamar kamu sayang!". tanya bang Guntur.


"Tidak ada apa-apa, cuma sedang membahas sesuatu saja!". jawabku.


Eh.. mereka tiba-tiba merampas ponselku.


"Bang. kenapa tidak kemari!". ucap mitha.


"Mitha... load speaker!!". perintah Silvia.


Mitha mengangguk.


"Kenapa kalian di kamar calon istriku beramai-ramai?!". tanya bang guntur.


"Lagi ronda. agar tidak ada penyusup masuk kamar gita!". jawab mitha.


"Aku akan menjaganya dari sini!. balik saja ke kamar kalian!". perintah bang guntur.


"Tidak bisa bang. takutnya yang ronda malah masuk kekamar Gita nanti! he.. he..!". jawab oliv.


"Oo itu tidak akan terjadi. karena kami sedang di pingit!". jawab bang guntur jujur.


"Wow... pasti kangen. sedang jauhan bang.


Tapi masih bisa curi pandang melihat kamar kosan calon istrinya ha.. ha... ha... !". tawa mitha.


"Tidak boleh bang. kan sedang di pingit. aku tutup ya..


Assalamualaikum..!". ucap mitha tampa mau mendengar keluhan bang guntur.


"Haha... ha!".pasti galau dan narah dia. kapan lagi bisa mengerjai polisi dingin itu!". ucap mitha.


Aku cuma diam. tidak tahu mau bilang apa.


"Duh kasihan!!!". ucap oliv.


Semua tertawa, karena keisengan mitha.


"Kamu kerja dimana Gita?!". tanya silvia.


Setelah mereka menghentikan tawa mereka.


"Iya. kamu kerja di mana?!. Apa jabatan kamu?!". tambah mitha.


"Aku tidak mau jawab. nanti di bilang sombong!". jawabku.


"Kalau bilang pekerjaan dan jabatan kamu yang asli tidak sombong itu.


Kecuali meninggikan jabatan dan mencatut nama perusahaan, baru sombong dan tidak tahu diri!". jawab oliv

__ADS_1


Hhhfff


"Aku Bekerja di perusahaan central Mulya coorp! karyawan biasa. bagian keuangan". jawabku.


"Hah. perusahaan besar itu?!. kantor pusatnya di kota A!". ucap mitha.


Aku menganggukkan kepala.


"Kalau di sana gaji karyawan biasa bisa sampai tiga puluh jeti. apalagi yang agak diatas. pasti diatas tujuh puluh ataubisa seratus gajinya!". kagum mitha lagi.


Aku hanya mengangkat bahu. karena aku hanya karyawan level tengah.


"Pasti banyak kenal pimpinan dan kepala bagian di sana. dan pastinya ganteng dan keren!". ucap mitha.


"Iya. tapi kok kamu bisa kepincut Bang Guntur?!. dia ganteng sih, tapi kan cowok kantoran lebih bening. tidak gelap seperti bang Guntur yang sering panas-panasan di lampu merah kalau sedang dinas!". tambah Oliv.


Aku tidak menanggapi kehebohan mereka. memang perusahaan tempatku bekerja sangat fantastis gaji karyawannya.


Selain gaji besar tentu tanggung jawab dab disiplin karyawan pada pekerjaan sangat tinggi. hingga bisa mendapatkan yang sesuai.


"Kamu di kantor bagian mana Gita?!". tanya mitha. "Kan di kota sini ada dua cabang lagi!". tambahnya.


"Di kota A. Aku...!".


"Dikantor pusatnya!!. berarti kamu kenal ceo pimpinan perusahaan itu, yang katanya punya anak yang ganteng dan kaya.


kenapa kamu tidak menjadi menantu pimpinan itu saja Gita?!. biar bang guntur buat aku saja!!". ucap Silvia memelas.


"Bukan Gita tidak mau drngan anak pimpinan itu. tapi pihak sana yang tidak mau dengan Gita!!.


Betulkan?!". ucap Mitha.


"Betul. pasti alasan sana tidak selevel!. iya kan?!". ucap Oliv.


"Pasti!!".


Semua mengira begitu. Seandainya dia tahu orang tuaku yang...


Ah.. kan orang tuaku kaya dan juga seorang pengusaha.


Sedangkan aku yang mereka tahu karyawan yang beruntung bekerja di perusahaan besar. Dan pimpinan perusahaan tempatku bekerja adalah teman papa, yang masih saudara jauhnya.


"Kalau Hani tahu kamu bekerja disana, pasti dia tambah malu. Sedang dia saja hanya bekerja di perusahaan biasa!". ucap oliv.


"Hey. jangan suka membandingkan seseorang. kita semua sama. Sama-sama karyawan. Anak buah orang!". ucap mitha.


"Iya. tapi kan level ke karyawanan kita beda. Gita lebih dari segalanya. baik gaji, juga status dan nilai jual!". ucap oliv lagi.


"Terserahlah. yang penting kalau gita jadi nikah denga bang Guntur, aku iklas. Dan aku minta stelan buat dressmide satu!". ucap Silvia.


"Setuju!!". ucap Mitha dan Oliv.


.

__ADS_1


.


__ADS_2