
"Bos. Sepertinya si Indri itu juga tidak tahu kampung polisi itu.
Kami dari subuh mengikutinya, tidak juga menemukan tempat polisi itu".
Anak buah Dika menelfon. Mereka bingung mengikuti Indri yang sepertinya tidak tahu rumah krluarga besar polisi itu.
"Sekarang dia dimana?". Tanya Dika.
"Di kampung x pinggiran kota A bos". Jawab anak buah Dika.
"Jauh juga. Apa dia tidak tahu rumah mantan mertuanya itu". Tanya Dika heran.
"Itulah bos. Tadi pagi dari rumah sakit, mereka ke perumahan kota A, yang aku yakin itu rumah keluarga polisi itu.
Tapi bu Indri itu masik kedalam rumah yang sepi, tidak ada tanda berkabung.
Lalu berangkat kepinggiran kota. Tapi hingga hampir tengah hari mereka berkeliling saja. Tidak tahu mau kemana". Jelas anak buah Dika.
"Padahal kami mengantuk bos. Tapi mereka tidak sampai- sampai ke tujuan. Keliling kampung saja.
Tadi kami dengar dia bertanya di warung makan. Ternyata dia juga tidak tahu rumah keluarga besar polisi itu.
Sia-sia kita mengikuti mereka". Keluh abak buah Dika.
"Haha... Masa rumah keluarga mantan mertua tidak tahu.
Dasar wanita ular". ujar Dika.
Dika yang mendengar merasa lucu dengan Indri yang tidak tahu rumah keluarga besar mantan mertuanya.
"Sekarang kalian balik saja. Awasi asrama tempat Gita tinggal.
Pasti dia akan kembali keasrama beberapa hari kedepan. untuk mengambil barangnya. Awasi dan lindingi Gita". Perintah Dika.
"Baik bos". Jawab anak buah Dika dari seberang sana.
"Ada apa bos". Tanya asisten Dika.
Melihat Dika tertawa sinis setelah selesai menelfon anak buahnya.
"Si Indri. Ternyata dia tidak tahu rumah keluarga mantan suaminya itu.
Masa dia dari pagi subuh tidak sampai juga kerumah keluarga polisi itu". Ujar Dika.
__ADS_1
"Oo.. .
Bisa jadi keluarga polisi itu sudah pindah, dan tidak ada lagi keluarganya yang tinggal disana". Ujar asisten Dika beropini.
"Hhmm. Bisa jadi.
Mungkin rumah yang pertama di datangi indri adalah rumah salah satu kerabat mereka. Atau keluarga polisi itu.
Harus tetap diawasi. Bisa saja Gita akan kesana juga untuk tinggal sementara". Ujar Dika membenarkan ucapan asistennya.
"Kasihan juga bu Gita ya bos. Dua kali menikah, dan suaminya keduanya meninggal kecelakaan.
Bisa saja suami pertamanya dulu juga di celakai seseorang hingga meninggal kecelakaan.
Seperti polisi yang...."
Sang asisten tidak melanjutkan ucapannya, karena Dika memandangnya tajam.
"Khem.
Kita sudah dapat kabar dari perusahaan milik pak Burhan bos.
Mereka mau bertemu untuk membicarakan kerja sama.
Katanya anak pak burhan yang akan memimpin pertemuan itu suaminya sedang sakit". Jelas sang asisten.
"Yang penting mereka merespon dan setuju bekerja dengan perusahaam kita.
Kapanpun mereka bisa kita ikuti.
Sekarang ini aku juga sedang tidak fokus. Aku terus kepikiran Gita yang mungkin sedang terancam keselamatannya". Jawab Dika.
Sang asisten mengangguk paham. Dia juga merasa sedih dengan yang dialami Gita.
Walau dia tidak begitu lama kenal dengan Gita, tapi dia tahu Gita orang yang baik san ramah.
Tapi ulah perbuatan seseorang yang tidak bertanggung jawab membuatnya mengalami kesedihan.
Orang itu adalah bosnya sendiri.
.
Sudah tiga minggu Guntur kecelakaan. Dan dia sudah mulai bisa beraktitifitas di rumah.
__ADS_1
Untung patah tulang tangannya tidak begitu berbahaya. Walau masih memakai balutan semen medis di tangannya.
Kakinya juga sudah bisa berjalan di bantu tonggak penyangga.
Untuk bekerjapun Guntur hanya wajib absen setiap pagi, dan belum berdinas sebagai polantas.
Hanya bekerja di polres saja, di kantor bagian polantas.
"Sayang, nanti setelah aku absen aku mau mengajak kamu kerumah sakit. Jadwalku periksa.
Temanku sudah aku suruh mendaftarkannya.
Mana tahu semen yang di kaki sudah bisa di buka". Ujar Guntur.
Mereka sedang sarapan pagi. Gita yang semenjak suaminya sakit, dia pergi ke kantor bila di perlukan saja. Kadang hanya setengah hari.
Sama dengan Guntur suaminya yang bekerja setengah hari juga.
Semua pekerjaan Gita sudah di tanggani asistennya.
"Boleh bang. Aku juga mau periksa kandungan sekalian". Ujar Gita.
Perut Gita sudah tidak datar lagi, sudah sedikit menonjol. Usia kandungan Gita sudah tiga bulan.
"Kamu periksa hari ini juga sayang?". Tanya Guntur.
"Jadwalnya tiga hari lagi bang. Tapi mumpung kita ke rumah sakit, sekalian saja.
Kan jadwal praktek dokter kandungan langganan hari ini ada. Siang hari". Jawab Gita.
"Baik sayang. Apa kamu sudah mendaftarnya?". Tanya Guntur.
"Aku kirim pesan pada asistenku dulu bang. untuk mendaftar dan ambil nomor antrian". Ujar Gita.
"Aku suruh temanku sekalian saja. Tadi dia aku minta tolong daftarkan aku periksa". Ujar Guntur.
Gita mengangguk. Menyetujui usul suaminya.
Karena teman suaminya itu juga sedang di rumah sakit.
.
.
__ADS_1