
"Kita menginap disini malam ini ya bang". Ujar Gita.
"Boleh. tapi kan tidak ada pakaian ganti?". jawab Guntur.
"Iya ya. Pakaian abang tidak ada". jawab Gita.
Lupa kalau belum membawa pakaian.
"Pakaian kamu memang ada kamu bawa?". tanya Guntur.
"Pakaianku sudah ada disini bang. karena semua barang berhargaku sudah aku pindah kesini waktu aku keluar dari rumah yang aku sewa dulu bersama almarhum suamiku.
Bagaimana kalau baju abang minta kirim saja pada Anna. Mumpung masih sore". usul Gita.
"Tidak usah. Aku juga tidur tidak pakai baju. Dan juga besok aku dinas malam". Ucap Guntur tersenyum mesum.
"Aku mandi dulu sayang. Gerah". Ucap guntur.
Lalu dia membuka kancing baju dinasnya.
"Dikamar saja mandi bang". Ajak Gita.
Maka Gita mengajak suaminya ke kamar mereka. Guntur sangat takjub dengan apartemen istrinya.
"Abang mandi saja. Aku carikan baju kaosku yang agak longgar buat ganti abang". Ujar Gita.
Memberikan handuk besar pada suaminya.
"Baik". Ujar guntur menerima handuk.
Guntur membuka pakaian dinasnya, dan meletakannya di atas kursi.
Sementara Guntur mandi, gita mencari celana trening dan kaos yang ukurannya agak besar.
Gita hanya menemukan baju tidur kemeja yang berukuran agak besar. berbahan satin berwarna biru muda Celananya memang besar, tapi Gita ragu akan muat oleh Guntur.
Dia ingat, kalau baju itu dia beli rencana dipakai saat dia hamil. Makanya ukurannya besar.
"Coba baju ini bang. Ukurannya agak besar. Tapi celananya mungkin sempit". Gita memberikan pada suaminya.
"Aku coba saja". Ucap Guntur.
Dia memakai baju terlebih dahulu. Lumayan pas. hanya tidak bisa kancingnya terpasang sempurna. Dan saat memakai celananya.
Juga pas. eh ngepas maksudnya. Hingga tonjolan di bawah perut Guntur tercetak sempurna. Apalagi Guntut tidak memakai dalaman.
__ADS_1
"Ih abang. itunya muncul". Ucap Gita menunjuk malu pada pusaka Guntur.
"Ya harus bagaimana lagi sayang. Kan tidak pakai dalaman". Ucap Guntur mengelus pelan pusaka nya yang..
"Ganti sarung saja deh bang!". Ujar gita.
Mencari sarung di dalam lemari.
"Kan masih sama sayang. Tetap tanpa dalaman". Ujar Guntur memeluk Gita dari belakang.
Menempelkan perutnya di punggung gita. Dab tonjolan yang ada di antara dua pahanya menempel tepat di bokong Gita.
"Begini saja sayang. Masih ada penyangganya. Kalau pakai sarung akan menjuntai dan dia juga akan kefinginan". Ucap guntur mengesek-gesekan senjatanya.
"Sshhhh..". Desis Guntur.
Karena....
"Abang. Sudah mau magrib". Ingat Gita.
"Tahu. Hanya ingin bergerak saja. Katanya kangen di elus". Jawab Guntur.
Hap.
"Kalau dirumah hijabnya buka saja". Ujar Guntur membuka jilbab instan istrinya.
Dia mengelus rambut istrinya yang halus dan wangi. Bagaimana tidak wangi. Gita bisa dua kali sehari keramas.
Gita malah ikut bersandar nyaman di pangkuan dan pelukan Guntur. suaminya.
"Apa hasil pembicaraan dengan pimpinan cabang perusahan tadi?". Tanya Guntur.
"Aku langsung memimpin di perusahaan cabang di kota ini bang.
Karena pak Win itu akan di pindah kan untuk memimpin perusahaan cabang di kota G.
Aku sudah telfon papa, minta untuk jabatan yang biasa dulu. Tapi Papa bilang langsung memimpin saja. katanya aku nanti juga akan di bantu sekretaris dan asisten". Jelas Gita.
Guntur mengangguk paham. dan dia ingat, kalau tadi diusulkan abang sepupunya agar gita punya asisten laki-laki.
"Terus apa tanggapan kamu?". Tanya Guntur sambil memain kan rambut istrinya.
"Aku minta waktu beberapa hari. Dan kata pak Win aku langsung saja datang ke perusahaan. Tadi juga sudah bertemu dengan sekretarisnya" jawab Gita.
"Tadi aku bertemu mantan bosku yang mesum itu. Dia bilang aku harus mau menjadi sekretarisnya.
__ADS_1
Dia mengancamku, akan menyebarkan vidio mesum yang ada padanya jika aku menolak.
Tapi tadi aku menolak tegas dan menantangnya. Mengatakan Kalau vidio itu tidak ada aku sama sekali. Karena aku tidak pernah dia melayaninya.
Tapi dia marah dan mengancam. Mengatakan kalau dia punya bukti yang katanya da memperkosaku". Ujar Gita.
"Terus vidio apa yang akan dia sebar?". Tanya Guntur.
"Tidak tahu juga bang.
Tapi sekarang aku harus waspada karena dia sepertinya mencari kesempatan untuk mengangguku.
Tadi aku dia mengancamku, mengatakan akan terus mengikuti kemana aku bekerja. Dan membuat aku tidak nyaman sebelum kembali ke kantornya". ujar Gita.
"Jangan pedulikan. Kamu lanjutkan saja keinginan kamu dan papa. untuk bekerja di perusahaan papa". jawab Guntur.
"Bagaimana kalau kamu mengambil asisten laki-laki yang jago bela diri.
Selain bisa bekerja perusahaan sebagai asisten juga bisa menjaga kamu sebagai pengawal.
Dari pada memakai jasa bodyguard. Terlalu jelas kalau kamu dikawal". Jawab Guntur.
"Boleh juga bang. Aku akan tanya papa, apa ada karyawan keoercayaan papa yang laki-laki.
Eh, tapi apa abang tidak akan cemburu jika aku bekerja ditemani laki-laki?". Tanya Gita.
"Kalau asisten kamu aku bisa mengawasinya. Dan aku percaya. Tapikan diluar sana banyak relasi dan rekan bisnis pria yang lebih mesum.
Maka jika asisten kamu laki-laki, akan sulit mereka untuk mengoda kamu". Jelas Gintur.
"Oo. Sekalian jadi mata-mata ceritanya". Ujar Gita tersenyum.
"Ya seperti itulah". Jawab Guntur mendekap istrinya.
Menciumi wajah istrinya, hingga ******* bibir istrinya yang telah menjadi candu baginya.
Sedang hangatnya ciuman mereka, terdengar suara azan magrib.
"Sholat yuk. Nanti kita sambung lagi". Ujar guntur.
Menahan gejolak tubuh yang mulai naik.
.
.
__ADS_1