Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Ayah dan Ibu Mertua Datang


__ADS_3

Benar dugaanku, selepas sholat magrib, ibu mertua datang berdua dengan ayah mertua.


Dan dia menanyakan segala sesuatu tentang bang Fajri.


Lebih tepatnya. Uang dan peningalan bang Fajri.


"Apa kamu dan fajri masih menyewa rumah ini Gita?!". tanya ibu mertua.


"Masih bu. Bang fajri menyewa rumah ini lima tahun. Dan baru jalan dua tahun kurang.


Tiga bulan lagi pas dua tahun kami tinggal di sini!". Jawabku.


"Hhmm.. maksud ibu, apa Kalian tidak ada niat kemaren-kemaren untuk membeli rumah.


Atau rencana punya harta pribadi. maksud ibu tidak mengontrak lagi!". tambah ibu.


"Selama ini sih tidak ada kami sampai membicarakan kesana bu. Sebab sewa rumah ini masih ada tiga tahun lagi.


Jadi belum ada rencana kesana!". jawabku jujur.


Memang kami belum ada rencana untuk membeli rumah.


Tapi kok, ada sertifikat yang aku temukan. ada apa ya?!.


"Memangnya ada apa bu?!. kan mereka yang menjalani. mungkin mereka bulum ada rencana.


Lagi pula kan mereka mengontrak rumah ini masih sisa tiga tahun lagi. bisa jadi mereka belum berencana!". ucap papa mertua.


Hfff


Ibu mertua menarik nafasnya.


"Lagi pula untuk apa ibu tanya perihal membeli rumah pada Gita. lagian kalau memang Fajri membeli rumah buat mereka, ya kan itu hak nya Gita, sebagai istri fajri!". Tambah ayah mertua.


"Tidak bisa begitu yah. Kalau fajri beli rumah kan ada hak ibu. karena ibu orang tua fajri!". jawab ibu mertua.


"Tidak bisa bu. yang berhak itu istrinya. Ibu itu tangung jawab ayah. Kalau mengenai harta bersama antara fajri dan Gita, ya sudah mutlak punya Gita.


Tidak ada sedikitpun ibu boleh meminta. kecuali gita yang mau membagi!". jawab ayah.


"Adalah pak. kan mereka belum punya anak. ya harus bagi dengan ibu lah! karena fajri tidak ada tangung jawab pada anak". ucap ibu sewot.


"Ibu jangan asal deh bu!. walaupun mereka belum punya anak. bukan berarti ibu bisa minta bagian!". ucap ayah juga kesal.

__ADS_1


"Kan...!".


"Harta apa yang ibu minta?!. rumah saja masih ngontrak. mau ibu tinggal disini selama tiga tahun ini karena fajri sudah membayarnya sampai tiga tahun kedepan!". ucap ayah marah.


"Tidak lah yah. ibu cuma minta uang saja. kan uang bulanan yang diberikan fajri pasti besar pada Gita.


harus ada bagian untuk ibu!". ucap ibu.


"Bu...".


"Ibu mau periksa peningalan fajri!". ucap ibu mertua berdiri.


Dan memasuki kamarku.


Dari tadi aku hanya diam mendengar mereka berdebat. aneh!!.


Kok ibu jadi menanyakan harta peningalan bang fajri.


"Ibu!!". teriak ayah.


"Ayah tunggu saja di sini. ibu hanya mau periksa sesuatu yang bisa ibu ambil.


Hfff...


Ayah hanya menarik nafas pelan.


Aku mrnganggukan kepala saja. membiarkan ibu mertua memasuki kamar.


Untung tadi siang setelah sholat zuhur, aku mengembalikan pakaian dan barang pribadi, bang fajri ke lemari.


Ponsel baru yang aku temukan kemaren dan sebagian uang tunai sudah aku titipkan pada bang zai. bersama sertifikat yang aku temukan kemaren.


Pasti sudah di simpan di brangkas mamaku di rumah mama.


"Ayah!!. bantu aku kesini!". teriak ibu mertuaku dari kamarku.


"Maaf Gita. ayah lihat ibu sebentar ya!". ucap ayah.


Aku hanya mengangguk saja.


"Oh ya. bisa bikinin ayah kopi. tadi ayah tidak sempat ngopi. setelah makan malam ibu langsung minta di antar kesini!". ucap ayah mertua sebelum masuk ke kamarku.


"Baik yah!". jawabku.

__ADS_1


Aku berdiri, intuk menuju dapur.


Kulihat ayah mertua masuk kekamarku, dan nenutup pintunya.


Aku kembali menuju pintu kamarku untuk mendengar, apa ada yang akan mereka bicarakan.


Aku curiga.


Sangat curiga.


"Dimana Gita yah?!".


Terdengar suara ibu mertua.


"Ayah suruh bikin kopi.


Apa ada yang bisa kita ambil. jangan tinggalkan sedikitpun. Enak benar dia menikmati harta anak kita sendiri.


Punya anak saja tidak. jadi tidak perlu kita bermurah hati!". Terdengar jawaban ayah mertua.


'Astaghfirullah!!'. aku mengurut dadaku.


Ternyata mereka sedang bersandiwara. untung aku lebih cepat bertindak.


Bukan tamak atau mau memono poli harta. tapi aku ingin tahu dengan semua yang aku temukan.


Mungkin saja ada sesuatu yang bang fajri simpan, mengenai semua. yang tidak aku ketahui.


Aku berjalan menuju dapur. membuat kopi pesanan ayah mertua.


Aku sengaja berlama-lama di dapur, aku rebus air hingga mendidih. Bahkan saat air sudah mendidihpun masih aku biarkan.


Sekitar lima belas menit mereka berada di dalam kamarku, aku pun membawa kopi dan juga teh ke meja makan. juga ada roti dan keripik.


Karena ruang tengah rumahku masih di gelar karpet.


"Ayah, ibu. minum dulu!!". teriakku dari ruang makan.


Malas untuk mendekat ke pintu kamarku.


Lama aku membiarkan mereka di dalam kamar, aku tahu. mereka pasti membongkar semua isi lemari.


Aku tahu itu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2