
"Sudah siap sayang?". Tanya guntur pada istrinya.
"Sudah bang". ujar Gita.
Merapikan jilbabya, mengambil tas tangan yang di taroh di atas meja.
Gita melihat tempat tidurnya yang tadi sebelum subuh seperti kapal pecah, karena olah raga ranjang yang mereka lakukan semalam sebelum tidur, juga pagi ini mereka ulangi lagi.
"Sudah beres kok sayang". Ujar dika.
Tadi setelah mereka mandi wajib pukul setengah lima, guntur membantu Gita menganti bad cover dengan yang baru, karena sudah kotor oleh keringat dan tumpahan air cinta mereka.
Dan meletakan ke keranjang kain kotor. Agar dicuci pekerja nantinya. Mereka paling tidak sekali atau dua minggu sekali menginap di rumah orang tua gita.
Kadang juga di rumah orang tua Guntur.
"Ayo!".
Guntur membimbing istrinya ke meja makan untuk sarapan pagi. Pagi-pagi sekali.
Sudah kebiasaan dari pekerja rumah orang tua Gita untuk menyiapkan sarapan pukul setengah enam pagi.
Jika Gita dan Guntur menginap setengah enam sarapan sudah terhidang. Karena pukul enam mereka berangkat ke kota b.
Tidak lupa juga bekal makan siang untuk Gita dan Guntur.
Sudah di siapkan juga.
Orang tua Gita ikut sarapan lebih pagi bersama anak dan menantu.
"Hati-hati ya bawa mobilnya". Ujar Mama gita.
Melepas anak dan menantunya berangkat bekerja.
__ADS_1
"Iya ma. Kami berangkat dulu". Ujar Guntur.
Gita dan Guntur menyalami mereka saat akan berangkat.
Perjalanan pagi yang belum terlalu ramai membuat peejalanan lancar. Kurang pukul tujuh mereka sudah sampai di kota b. Hingga Guntur sampai di tempat dinasnya tidak terlambat.
Gita yang masih terlalu pagi untuk kekantor, tetap memilih untuk langsung saja ke kantor. Karena dia akan mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan dulu.
Dia diantar suaminya terlebih dahulu kekantor. barulah Guntur pergi bekerja.
Sementara Dika dan asistennya terjebak macet di beberapa titik kesibukan angkutan umum.
Seperti di beberapa kawasan sekolahan. Yang pukul tujuh sampai setengah delapan sibuk dengan kedatangan para murid dan guru.
Hingga menimbulkan kemacetan.
Dika yang hatinya sedikit kesal, karena tidak mendapatkan alamat orang tua Gita, semakin cemberut selama perjalanan.
Mereka hanya mengikuti Gita melalui mobil yang mereka anggab mobil milik Gita.
Tanpa mereka tahu apakah ada gita atau tidak.
"Oh ya, apa anak buah kamu waktu itu membuntuti mobil yang kita iringi di mini market?". Tanya Dika.
"Iya bos. Cerita anak buahku sore itu mereka melihat bu Gita di toko buah di pinggiran jalan.
Dan mereka melihat bu Gita membeli banyak buah, dan menaiki mobil itu. Hingga mereka mengikuti bu Gita sampai kekampung tadi.
Tapi saat macet di pasar anak buahku menunggu dekat mesjid persimpangan tadi. Katena mereka memakai motor.
Dan mereka tidak tahu kemana mobil yang di tumpangi bu Gita berbelok". Jelas asisten Dika.
"Info yang kurang akurat. Kenapa mereka yakin ini kampung Gita?.
__ADS_1
Buang waktu saja". kesal Dika.
Mereka saling diam dengan fikiran masing-masing, hingga satu jam lebih di perjalanan hanya diisi ocehan radio yang di stel si asisten.
Tadi sang asisten menghidupka radio untuk mengetahui kabar lalu lintas yang di sampaikan oleh si penyiar.
Karena acara radio pagi juga menerima pesan atau telfon dari pendengar yang sedang di perjalanan sambil mendengar radio.
Hingga sampai di kantor Dika terlebih dahulu memasuki ruang kerjanya. Dan si asisten mengerjakan pekerjaan yang belum selesai kemaren.
Beda dengan si asisten yang bekerja dengan tenang dan rapi. Dika malah semakin pusing memikirkan Gita yang menghilang.
Bahkan info tentangnyapun sangat minim.Tidak ada seorang karyawanpun yang tahu dimana Gita tinggal sekarang.
"Tidak mungkin Gita itu di bisa bersembunyi dariku. Dia yang aku tahu hanya anak perantauan dari kampung pinggiran.
Dan almarhum suaminya juga hanya karyawan kantor di sebuah perusahaan besar". Gumam Dika.
Dia masih tidak percaya Gita menghilang begitu saja.
"Apa mungkin Gita pindah kota lain.
Atau dia hidup di kalangan biasa, karena sudah tidak bekerja. Itu mungkin mobilnya di jual. Karena tidak ada pemasukan lagi". Tebak fikiran Dika.
"Terus yang mau menitipkan bayi di yayasan itu Gita atau bukan ya?. Kenapa aku jadi ragu begini". Ujar Dika mengacak rambutnya.
"Aku harus pastikan, apa benar Gita hamil atau tidak". Ujar dika.
Lalu dia menelfon asistennya lagi.
.
.
__ADS_1