
Guntur yang tidak ingin istrinya sedih dia ajak untuk olah raga malam.
Dengan kata-kata motivasi Guntur memberi kepercayaan diri pada istrinya. Hingga Gita bersemangat untuk diajak beribadah oleh suaminya setiap hari, setiap mereka punya kesempatan.
"Bantu aku untuk bisa segera hamil bang. Kemanapun abang ajak untuk berobat aku mau". Ujar Gita mengelus rahang kekar suaminya.
Karena mereka baru saja selesai olah raga ranjang, berkeringat.
"Kita secara alami dulu untuk beberapa bulan kedepan. makan makanan sehat dan minum jamu.
Semoga berhasil.
Untuk periksa, kita periksa kesehatan dan kesuburan saja. Dan berusaha secara alami". Ujar Guntur.
"Baik bang. Semoga aku tidak punya masalah di rahim". ujar Gita.
Mereka saling berpelukan untuk tidur, katena sudah hampir tengah malam.
.
"Kita pulang saja". Ujar Dika.
Karena sudah selesai makan.
Sang asisten mengikuti bosnya. Setelah melakukan pembayaran sang asisten mengantar bosnya keapartemen untuk istirahat.
"Kamu jemput aku pukul empat. Kita kekampung Gita, agar pagi kita bisa mencari dan bertanya pada warga.
Dan mudah-mudahan kita bisa bertemu Gita sekalian. mungkin saja dia juga mau pergi bekerja". Ujar Dika.
"Baik bos. tapi kita jangan telat untuk sampai kekantor.
Kalau sampai pukul sembilan belum bertemu, kita harus segera ke kantor.
Kita harus menyelesaikan pekerjaan, sudah akhir bulan". Ujar sang asisten.
"Iya. Kalau kita telat kekantor besok, kita lembur untuk menyelesaikannya". Jawab Dika.
Sang asisten setuju, dan diapun kembali keapartemennya. Untuk istirahat.
__ADS_1
Dan pukul lima subuh mereka pergi ke pinggiran kota tempat yang mereka yakin kampungnya Gita.
Itu yang mereka ketahui dari anak buah Mereka. Mengetahui alamat kampung Gita, tapi belum tahu alamat rumah gita pastinya.
"Masuk jalan ini kalau tidak salah". Ujar Dika pada si asisten.
Saat mereka sampai di simpang menuju kampung tujuan.
Sang asisten mengikuti arahan dari Dika. Dika mengatakan arah tujuan dimana dia pernah beberapa kali berkunjung ke kampung ini beberapa tahun yang lalu.
"Yang belok kiri itu kerumah Wati. Dan aku tidak tahu kita mulai mencari dari mana". Ujar Dika.
Hari masih belum terlalu terang. mereka sampai di kampung ini kurang dari pukul enam, karena jalanan pagi belum terlalu ramai.
Si asisten membelokan mobilnya kearah rumah Wati. Arah yang ditunjuk Dika barusan.
"Kenapa kearah sini?". tanya Dika.
"Kita mulai dari arah sini bos. Menyusuri kampung, dan jika ada warga yang lewat kita bisa bertanya". Jawab si asisten.
"Atau bis bisa tanya pada wati, teman...".
"Tidak usah. Aku tidak mau bertemu dengannya. Nanti malah bertemu orang tuanya. Dan minta peetanggung jawaban atas anaknya". Potong Dika.
Anaknya juga anak...".
"Karena aku masih ragu kalau anak itu anakku". Potong Dika.
"Karena wati itu banyak yang makai". Tambah Dika.
Si asisten mengangguk paham. Beberapa wanita memang mengakui mereka hamil anak Dika.
Tapi tidak satupun yang mau Dika beri nafkah. Karena dia masih ragu dengan ucapan mereka.
Si asisten mendengar cerita Dika masih sambil melihat kekiri dan kekanan. Kerumah yang mereka lewati.
Melihat, berharap kalau-kalau bisa melihat Gita di salah satu rumah.
"Apa anak buah kamu tidak tahu pasti dimana rumah pastinya?". Tanya Dika.
__ADS_1
Karena sudah beberapa jalanan perumahan kampung yang mereka lewati. Karena kampung ini tertata rapi rumahnya.
Walau bukan perumahan, tapi rumah warga sangat teratur. Mulai dari yang bagus, sederhana. Mapun yang biasa.
Ada yang berhalaman luas, sedang juga ada yang masih kebun. Walau sudah terpagar.
"Kita mampir di warung depan bos. Lapar rasanya". Ujar asisten Dika saat melihat warung sarapan pagi di depannya.
Karena sudah hampir setengah jam berkeliling.
"Kita fokus mencari Gita dulu". Ujar Dika.
"Kita sarapan sambil bertanya pada warga bos. Mana tahu ada yang kenal.
Apa bos punya foto bu gita?. Biar mereka bisa memberi informasi.
Kemaren anak buahku hanya memperlihatkan foto bu gita. kurang jelas sih, karena aku ambil dari cctv kantor". Ujar si asisten.
"Ada. Aku coba cari dulu". Ujar Dika membuka ponselnya.
Sementara si asisten memarkir kan mobilnya di depan sebuah warung sarapan pagi. Karena dia lapar.
"Sarapan dulu bos". Ujarnya.
Turun dari mobil. Meninggalkan Dika yang sedang mencari foto Gita di ponselnya.
"Dasar. Aku juga lapar!". Ujar Dika kesal.
Dika melihat asistennya yang masuk warung pun ikut turun dari mobil. Mengikuti si asisten yang sudah duduk di meja warung.
"Aku mau sup ayam satu buk. Minumnya kopi". Ujar si asisten saat melihat menu yang terpajang di dinding warung.
"Aku juga sama!". Ujar Dika yang langsung duduk di samping si asisten.
"Lapar juga bos?". Ucap si asisten.
Puk.
Dika memukul bahu bagian belakang si asisten.
__ADS_1
.
.