Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Aksi Guntur


__ADS_3

"Mulai saat ini perketat penjagaan istriku bang. Jangan sampai ada yang bisa mengetahui dimana tempat tinggal dan tempat bekerja istriku.


Apalagi yang ingin mencoba mencelakainya!". ucap Guntur pada orang kepercayaannya untuk menjaga istrinya.


Guntur memang menyuruh abang anak buah sepupunya untuk mengawal Gita.


Abang sepupunya itu mempunyai sebuah usaha jasa bodyguard dan pengawalan. Sudah banyak yang menggunakan jasanya. Baik artis, pengusaha bahkan pejabat.


Maka Guntur minta pada abang sepupunya itu untuk mengawal Gita. selain Gita pernah di coba di aniaya juga hampir dilecehkan sang bos.


Dia menceritakan apa yang pernah Gita alami pada abang sepupunya itu.


Selain menyewa seorang untuk menjaga gita dari jarak aman, sepupu Guntur juga menyertakan satu orang bodyguard berada di sekitar istrinya.


"Baik Gun. Aku pastikan istrimu aman. Aku juga tidak mau adik iparku kenapa-kenapa.


Aku juga ingin melihatmu bahagia bersama istrimu. Cukup kemaren saja kamu tertipu oleh wajah lugu mantan istrimu". Ucap abang sepupu Guntur.


"Terima kasih bang!". Ujar Guntur.


Tadi dia menerima kabar dari anak buah abang sepupunya itu, kalau Gita bertemu dengan mantan bosnya itu.


Dan dikabarkan kalau Gita diancam mantan bosnya itu. Makanya Guntur minta pengawasan lebih ketat lagi.


"Kalau istri kamu sudah mulai bekerja di perusahaan orang tuanya. Aku usul dan kamu harus setuju". Ujar Sepupu Guntur.


Guntur mendengar usulan abang sepupunya.


"Demi kebaikan Gita. Kamu bisa minta pada istri kamu untuk mencari asisten laki-laki.


Pertimbangannya. Jika dia ada rapat keluar perusahaan, aman dari kliennya yang aku yakin juga akan nakal atau mesum pada istrimu.


Juga, akan lebih tenang jika dia dikawal sambil bekerja


Dan tadi anak buahku juga mendengar kalau mantan bos istrimu itu akan memata-matai istrimu.


Mungkin saja dia memakai jasa detektif". Ucap Abang sepupu Guntur.


"Boleh juga bang. Tapi apa bisa kita percaya jika asistennya laki- laki. Aku...".


"Jangan cemburu dulu. Kamu bisa menyeleksi yang kamu mau. Lagi pula kan di sekitar istri kamu juga akan di jaga pengawal jarak aman". Ucap Abang sepupu Guntur.

__ADS_1


"Baik bang. Aku percayakan semua pada abang. Karena aku juga tidak bisa menjaganya dua puluh empat jam". Ucap Guntur menyetujui.


"Kamu terima beres. dan bekerjalah dengan tekun. Kan katanya kamu mau dipromosikan lagi.


Biar jadi kepala satlantas, atau bisa juga kamu di promosikan untuk di angkat jadi kapolres". Ujar abang sepupu Guntur.


"Inshaa allah bang. Tapi aku masih jauh sepertinya". Jawab Guntur.


"Iya. karir kamu akan naik segera. semangat terus dalam bekerja". Ucap abang sepupu.


"Baik bang.terima kasih". Ucap Guntur.


Saat ini Guntur memimpin bagian patroli lantas. Makanya dia sering patroli pagi atau patroli malam Sekalian juga razia bagi pengguna jalan yang berkendara.


Tadi saat pulang dari cafe, Gita menunggu Guntur suaminya di apartemennya. Yang tidak jauh dari kantor suaminya.


Juga dekat dengan tempat Guntur patroli.


"Istrinya ke apartemen, mungkin ingin istirahat". Ujar orang yang mengawal Gita.


Pesan itu langsung ke guntur. Karena sang pengawal juga punya nomor ponsel guntur.


Guntur memang mengizinkan Gita untuk ke apartemen. Mereka sudah sepakat kalau akan tinggal di apartemen secepatnya.


Selain dekat dengan tempat dinas Guntur, juga dekat dengan perusahaan cabang orang tua Gita tempat Gita akan bekerja.


Benar saja. Tidak berapa lama, ponsel Guntur berbunyi. Tanda pesan masuk.


Gita mengirim pesan, kalau dia sedang di apartemen. Katanya untuk bersih-bersih. Biar bisa di tempati.


Dan Guntur akan datang ke apartemen nanti sepulang berdinas.


.


"Aku mau pulang. Kepalaku pusing". Ucap Dika menelfon asistennya.


"Apa perlu saya antar pak?". Tanya sang asisten.


Mereka sama-sama berada di ruang kerja masing-masing. Mengerjakan pekerjaan.


"Tidak usah. Kamu selesaikan saja semua pekerjaan. Juga ambil berkas yang ada di ruanganku.

__ADS_1


Aku bawa saja mobilku. Dan kamu bawa saja mobil kantor nanti untuk pulang". Ucap Dika.


"Baik bos.


Apa bos perlu di pesankan...".


"Aku mau cari sendiri". potong Dika.


Tahu dengan maksud ucapan sang asisten.


"Baik bos". ujar asisten Dika.


Maka Dikapun keluar ruangannya. Dan berjalan menuju lif yang berada di ujung koridor ruangan kerja gita


Tiba di koridor menuju ruang kerja karyawan, Dika bertemu dengan ob yang dia perintah untuk membuatkan teh berisi obat untuk Gita waktu itu.


"Ek kamu kan ob yang waktu itu aku suruh bikin teh?". Ujar Dika tanoa basa basi.


Kebetulan karyawan yang Dika sangka ob itu juga sedang membawa nampan yang berisi gelas kosong.


"Saya memang sering diminta untuk bikin teh. Baik okeh bapak, atau yang lain". Jawabnya.


Dia memang sering membuat minuman untuk teman atau yang lain, jika kebetulan dia sedang bikin minum di pantri.


"Ooo begitu. Aku juga lupa benar kamu atau tidak. Karena banyak ob yang sering aku minta tolong. Dan wajahnya sering aku lupa". Jawab Dika.


Karena diapun sedikit ragu. Karena yang didepannya tidak memakai seragam ob. Tapi baju hitam putih, walau dia membawa nampan berisi gelas kosong.


Lalu Dikapun berlalu dari depan karyawan itu. Dia mendengar kalau karyawan tadi diminta buatkan minuman oleh karyawan yang lain.


Walau namanya tidak jelas terdengar saat di sebut karyawan lain. Karena sudah sedikit menjauh.


"Sekalian bikinkan aku kopi pahit ya...".


"Aku juga. Gulanya sedikit". Tambah yang lain.


"Ok!".


.


.

__ADS_1


__ADS_2