Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 186


__ADS_3

Dika yang sedang di atas pesawat sedang memikirkan hari-harinya yang pasti lebih bebas.


Lebih leluasa menikmati tubuh wanita cantik asal pulau K. Yang pasti banyak wanita cantik dan pasti juga masih banyak yang perawan.


Dia menyengir penuh kemenangan. Tidak bisa mendapatlan Gita. Dia pasti bisa mendapatkan wanita cantik di pulau k.


Dia sudah tidak bisa mengharapkan Gita lagi. Gita sudah menikah, dan juga sedang hamil.


Padahal cintanya sangat besar pada Gita yang merupakan wanita idamannya sedari masa kuliah. Wanita baik yang pernah dia kenal.


Tapi dia akan mengalah. Dengan Gita mengirimnya ke pulau K, berarti Gita sudah membatunya untuk kabur dan menjauh dari Indri.


Yang dia tahu kapanpun Indri akan ikut menjeratnya ke penjara. Karena sudah bekerja sama dengan indri untuk memisahkan Gita dan suaminya.


Sekarang Gita sedang memberi dia hukuman. Tapi bukan di sel penjara. Tapi tahanan di proyek yang ada di salah satu kota di pulau K.


Kalau masih di kota ini bisa saja dia akan terseret kasus Indri yang seorang kurir.


Karena beberapa bulan ini dia dan Indri sering bertemu. Untuk bekerja sama menganggu rumah tangga Gita dan juga saling berkeringat di ranjang.


Sementara si asisten Dika, setelah mengantar Dika masuk ruang keberangkatan, dia langsung pulang.


Kembali ke apartemennya untuk menemui wanita yang sudah dia perawani semalam.


"Apa itu kamu sudah sembuh?". Tanya si asisten Dika.


"Lumayan pak". Jawabnya.


"Kalau belum sembuh kamu istirahat saja. Jangan memaksa diri". Ujar asisten Dika.


"Orang tua kamu masih lengkap?". Tanya si asisten.


"Ayah saya sudah meninggal pak. Aku tinggal bersama ibu saja". Jawab Aida.


Wanita yang dia perawani semalam.


"Rumah kamu dimana?. Maksudnya kamu tinggal dimana?" tanya Dika.


"Aku dan ibuku tinggal di kontrakan di daerah x pak. Aku dan ibu di usir dari rumah saat ayah meninggal oleh adik ayah.


Karena mereka bilang kami tidak boleh tinggal disana. Katanya rumah warisan jeluarga.


Padahal kata ibu itu rumah hasil jual tanah orang tua ibu di jampung". Jawab Aida.

__ADS_1


"Ah maaf pak jadi curhat. lupakan saja. Masalah ini juga sudah delapan tahun yang lalu, saat aku masi kelas empat sd". Ujar aida.


Si asisten mengangguk paham. karena dia tidak ingin mengungkit luka lama wanita ini.


"Khem....


Begini Aida. Aku ingin segera menikahi kamu. Aku tahu, kamu hanya memenuhi kewajiban kamu melayaniku, yang sudah membayarkan biaya rumah sakit ibu kamu.


Tapi setelah aku tahu kamu masih perawan. Aku sudah memantapkan hatiku untuk menjadikan kamu istriku.


Karena aku sudah tidak mau main celap celup bebas pada wanita tidak jelas.


Aku ingin punya keluarga kecil. Punya istri dan anak-anak.


Aku harap kamu mau menjadi istriku". ujar si asisten.


Dia tidak ingin suatu hari nanti ada seorang wanita yang mengaku sedang hamil anaknya.


Seperti bos nakalnya. yang sudah punya anak yang tidak bisa jelas statusnya di mata hukum dan agama.


Aida yang terkejut mendengar melihat pria yang sudah dia berikan mahkotanya semalam.


Dia cukup kaget, kalau pria itu akan menikahinya.


"Kita akan ke rumah sakit. Menemui ibu kamu. Minta ixin untuk menikah.


Kalau tidak ada wali. Kita minta saja wali hakim untuk menjadi wali nikah kamu". Ujar asisten Dika.


Aida hanya menganggukkan kepala. Mengikuti keinginanan asisten itu.


Setelah mendapat izin dari ibu Aida, tanpa banyak proses. si asisten bisa mengajukan pernikahan ke kua tempat tinggal Aida. Karena di bantu rt dan lurah setempat.


Mereka tahu kehidupan ibu Aida setelah terusir dari rumahnya sendiri.


.


Sesampainya di pulau K. Dika langsung di jemput oleh tim kerja yang sudah berada di kota itu.


Mereka membawa Dika ke sebuah rumah yang katanya mes untuk karyawan.


Sebuah rumah yang ada dekat lokasi tempat proyek akan di bangun.


Rumah sederhana. Tiga kamar. Disana akan di huni oleh Dika dan seorang kepala proyek dan seorang arsitek.

__ADS_1


"Kenapa tidak tinggal di hotel atau apartemen bang?". Tanya Dika.


Pada seorang yang dia rasa umurnya lebih tua dari Dika. Dia tadi mengenalkan diri sebagai kepala proyek yang akan mengerjakan proyek itu.


Walaupun rumahnya terlihat sederhana, tapi Dika merasa tidak nyaman. Tinggal bersama dengan orang yang tidak di kenal.


Dan juga dia sudah berangan untuk membawa para wanita manapun untuk menemani malamnya. Sehabis bekerja.


Dika di tugaskan untuk mengawasi pembangunan proyek. Juga memeriksa keuangan dan pembukuan, agar tidak ada penyalah gunaan dana.


Dipilihnya Dika selain dia salah satu perusahaan yang ikut bekerja sama, juga tidak akan mungkin mau menyalah gunakan kepercayaan perusahaan pemilik dana terbesar.


"Sebenarnya bisa saja tinggal di hotel pak Dika. Tapi proyek kita ini perlu diawasi dua puluh empat jam.


Ksn pembangunan gedung ini di kejar pembangunannya.


Pak Dika sebagai perwakilan dari perusahaan bapak, tentu tidak mau ikut rugi jika kita tidak turun tangan langsung". Ujar kepala proyek itu.


"Apa perusahaan pak Nurhan juga ada yang menurunkan langsung kepala bagiannya kesini?!". Tanya Dika.


Dia ingin tahu, apa Gita juga menurunkan salah satu kepala bagian di perusahaannya.


Dan tentu dia juga harus waspada, jika ada orang Gita mengawasinya selama disini.


Mengawasi dalam artian kalau dia tidak bisa bermain wanita selama di sini. Katanya sebagai hukuman dia yang suka main wanita, hingga ada beberapa yang hamil.


"Ada pak. Kepala cabang perusahaan pak Burhan yang ada di kota ikut turun langsung mengawasi proyek ini.


Beliau juga tinggal di sini. Tiga Rumah dari rumah ini. Yang cat biru". Ujarnya.


Waduh. Diawasi langsung sepertinya.


Aku harus ajak kerja sama orang yang tinggal di rumah ini. Untuk bisa aku membawa wanita kekamar. Atau tidur di hotel untuk bertemu kembang cantik kota ini.


Semoga saja aku bisa meniduri perawan. Pikir Dika.


Dia diantar ke kamar untuknya. Kamar bagian belakang. Yang di depan untuk kepala proyek, dan di sebelahnya seirang arsitek.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2