Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Persiapan


__ADS_3

"Sudah selesai sayang?". Tanya Guntur pada istrinya.


Gita baru saja selesai melakukan beberapa tes di instansi Guntur.


Bukan untuk tes polisi. Tapi untuk persiapan menjadi istri seorang polisi. Menjadi ibu bhayangkari.


"Sudah bang. Semua selesai". Ujar Gita.


Urusan izin dari intansi Guntur memudahkan urusan ajuan pernikahan Guntur. Karena pihak instansi Guntur sudah mengetahui kalau Gintur dan Gita sudah melaksanakan nikah siri. Dan sedang mengurus surat dari catatan sipil.


"Alhamdulillah.


Berkas di kantor urusan agama juga sudah selesai. awal bulan kita bisa laksanakan resepsi pernikahan kita ya sayang". Ujar Guntur.


"Iya bang. Kita bicarakan lagi dengan keluarga". Ujar Gita.


Mereka berjalan keluar dari ruang tempat mereka menyelesaikan persiapan pernikahan secara kepolisian.


Rekan sesama polisi Guntur yang ada di polres itupun banyak memberi selamat kepada Gita dan Guntur.


Mereka sangat prihatin dengan pernikahan Guntur yang pertama. Padahal Guntur termasuk teman yang baik. Suka menolong dan rendah hati.


Walau dia sering di sebut polisi dingin oleh warga. Karena Guntur jarang senyum saat bertugas.


Tapi sangat ramah kepada sesama teman.


"Aku izin sebentar ya. Mau mengantar istriku ke kantornya". Ujar Guntur pada rekan kerjanya.


Rekan kerja Gunturpun sudah tahu dia sudah menikah secara siri. Tinggal menunggu nikah secara negara dan instansi.


"Hati-hati!". Jawab mereka.


Guntur mengantarkan Gita istrinya kekantornya. Jarak polres dengan kantor Gita sekitar lima belas menit menggunakan mobil.


"Nanti sepulang bekerja kita pulang kerumah papa ya. untuk membicarakan hari resepsi pernikahan kita". Ujar Guntur mengendarai mobil Yang biasa Gita bawa.


"Boleh bang.

__ADS_1


Kita adakan syukuran sederhana dirumah saja bang. Jangan pesta besar". Ujar Gita.


"Iya. Kita syukuran. Tapi orang tua kita ingin mengadakan di gedung atau di taman, Katanya mereka ingin mengundang kerabat dan sedikit relasi.


Tertutup acaranya". Ujar Guntur.


"Janganlah bang di gedung. kan bukan yang pertama buat kita". Ujar Gita.


"Iya juga. Tapi teman abang juga minta diadakan acara pedang pora. Karena waktu abang menikah dulu tidak ada.


Juga kata papa kamu waktu kamu menikah dulu juga hanya syukran kecil-kecilan. Tidak ada pesta". Tambah Guntur.


Gita tidak menjawab. dulu waktu dia menikah dengan almarhum suaminya, hanya syukuran kecil- kecilan.


Karena seminggu menjelang menikah, kakek pihak ayahnya meninggal. Hingga tidak mungkin mengadakan pesta besar.


Dan hari pernikahan tidak bisa di tunda. Undangan sudah di sebar sebagian.


"Kita adakan pesta mengindang teman dan kerabat saja. Mereka sangat menantikannya". Ujar Guntur.


"Baik bang. Tapi kita pesta tertutup ya bang. Dan aku hanya mengundang taman dekatku saja". Ujar Gita.


Lagi pula kata papa kita tidak pesta di gedung atau di hotel kok.


Usulan mama waktu itu kita adakan di sebuah taman. Taman bermain dan green house. Disana ada gedung aulanya". Ujar Guntur.


"Baik. Aku suka kalau kita adakan di taman. Apalagi kalau taman .. ".


"Iya. Green house Mermaid. kamu suka kalau kita adakan di sana?". Tanya Guntur.


"Suka". Jawab gita tersenyum.


Karena dia sangat suka pesta pernikahan di taman.


Mobil yang di kemudikan Guntur sudah sampai di depan loby kantor Gita.


"Nanti pulangnya aku jemput lagi ya sayang". Ujar Guntur mencium kening istrinya.

__ADS_1


Dan gita turun di loby kantor.


Setelah Gita memasuki gedung kantor, baru guntur melajukan mobil nya kembali ke polres kota. tempatnya bekerja.


Saat di lampu merah. Guntur melihat mobil di sebelahnya.


'Seperti kenal'. Gumam Guntur.


yang tanpa sengaja melirik kesamping.


Tapi Guntur tidak ambil pusing. Mobil punya siapa.


Dia fokus menunggu lampu yang akan hijau. Dengan mengikuti lagu yang di putar di pemutar musik mobilnya.


Tanpa Guntur tahu. Ternyata mobil di samping mobil yang Guntur kendarai adalah mobil Dika.


Guntur melihat sekilas kekanan. Terlihat sang supir yang menatap lurus kedepan. Cemberut.


Dengan iseng Guntur melihat kejok belakang mobil itu.


Astaghfirullah..


Terlihat pergerakan orang sedang berciuman. Entah apa lagi kelakuan orang di dalam itu.


Mobil itu agak kebelakang dari mobil Guntur. Hingga terlihat aktifitas di dalam mobil. Karena kaca film bagian depan tidak segelap kaca film bagian samping dan belakang.


Guntur geleng-geleng kepala. Seperti tidak ada tempat lagi untuk melakukannya.


'Dasar. Entah penganten baru atau apa'. Gumam guntur melihat supir yang berwajah masam.


"Dia kan...


Anak buahnya si bos mesum itu!'. Ucap Guntur.


Dia ingat wajah si asisten Dika.


"Dasar mesum. Untung saja Gita terbebas dari sikap mesumnya. kalau tidak, mungkin Gita akan menjadi pelampiasannya juga". Ujar Guntur.

__ADS_1


.


.


__ADS_2