
Guntur Pov
"Ada kejadian apa di rumah bum RT?. Apa ada hubungan dengan gitaku?". Gumamku.
Aku menuruni tangga menuju teras depan.
Dan..
"Nak Guntur, ini kunci mobil bak Gita.
Sepertinya nak gita harus pindah kesini tinggalnya. Bahaya, calon istri kamu malah di aniaya teman satu kosan". Ucap bapak tetanggaku sebelah rumah.
"Ada apa dengan Gita pak?!". Tanya ku.
"Temannya ngamuk. Katanya dia merampas kamu. Dan men cederai gita.
Kata mama kamu, kamu dan gita akan menikah siri beberapa hari lagi. Makanya kami dan bu rt setuju untuk sementara nak Gita di sini dulu.
Tapi kamu harus janji, jangan berbuat mesum!". Ucap bapak itu.
Aku kaget. Kok...
"Kamu sanggubkan, jika kamu menjaga amanah?. Ada anak gadus orang menginap disini?!". Tambah bapak itu.
"Bi... Bisa pak". Jawabku tegas.
"Juga beberapa hari kedepan, aku juga dinas malam. Akan jarang bertemu juga". Jawabku.
"Ok. Aku percaya kamu". Jawabnya.
Tidak berapa lama beberapa ibu- ibu membawa beberapa barang. Koper dan kardus.
Mama menyuruh meletakan di kamar tamu depan. Bahkan semua ibu-ibu menatapku sambil tersenyum.
Aku hanya membalas senyuman mereka. Antara canggung, malu dan juga senang.
"Kamu keatas saja. Nanti Gita risih masuk kerumah". Perintah mama, saat para ibu dan bapak tadi pergi.
Aku pun menuruti perkataan mama. Meningkan ruang tamu. Memantau Gita yang di jemput mama ke kosannya.
Dan keningnya ternyata luka, karena sudah di perban. Tapi dia masih pergi bekerja. Katanya ada rapat.
Sementara Gita pergi bekerja. Aku mengajak mama menemui orang tua gita. Maka aku dan mama mendatangi kantor papa di polsek.
Setelah berunding sebentar dengan papa, maka papa menelfon papanya Gita. Dan mengajak bertemu di sebuah restoran sambil makan siang.
Dan, kami berunding. tentang hubungan ku dan gita kedepan.
Hingga, kami diputuskan untuk menikah menjelang minggu.
__ADS_1
Dan Gita akan di beri kejutan.
Guntur pov end.
.
"Assalamualaikum pa.
Iya, sedang di kantor. Baru siap makan siang. Ada ada pa?!". Tanya gita.
Saat ini gita sedang berada di meja kerjanya, setelah rapat dan makan siang tadi bersama pimpinan dan jajaran yang ikut rapat tadi.
Dia tadi juga beberapa kali menghindari Dika, saat dika ingin mendekatinya, gita pura-pura sibuk dengan teman atau bosnya berbicara.
Mereka makan siang dengan di datangkannya katering ke ruang rapat. Bukan nasi kotak.
"Iya.
Aku sekarang tinggal di rumah mama bang Guntur.
Tapi sepertinya aku tinggal di tempat bang Zai saja yah. Takut menganggu ketenangan keluarga bang Guntur jika aku disana. Kan aku bukan siapa-siapa mereka". Ucap Gita.
"Baik pa.
Assalamualaikum". Ucap Gita menutup panggilan telfon.
"Ada apa!?". tanya teman satu ruangan gita.
"Ooo..
Oh iya Gita. Aku dengar ada wakil direktur baru ya". Tanya teman gita.
"Iya ada".
"Siapa namanya?!. Sudah tua atau masih muda?!". tanyanya lagi.
"Namanya pak Andika dan masih Muda. Se..".
"Sudah menikah belum?!".
"Kurang tahu!". Jawab gita mengangkat bahunya.
"Kalau belum menikah kamu bisa gaet tuh wakil direktur.
Kan masa iddah kamu tinggal menghitung hari. eh, hitungan jam bisa jadi. tujuh puluh dua jam. alias tiga hari lagi masa iddah kamu habis". Ucap teman Gita.
Menghitung dan mengingatkan.
"Tidak minat. Aku sudah..".
__ADS_1
"Cepat move on lah gita. Jangan larut dengan kesedihan kan almarhum suami kamu sudah tenang di alam sana". Ucap temannya.
"Aku tahu. Tapi bukan dia juga. Dia Bukan seleraku". Jawab Gita.
"Jangan begitu. Nanti setelah kamu pindah menjadi sekretaris wakil direktur, eh malah dekat dan menikah". ocehnya.
"Siapa yang mau jadi sekretaris wakil direktur?. Jangan asal kamu ya.
"Siapa yang asal?!. Tuh lihat!. Tadi di letakan pak bos divisi kita.
Katanya kamu naik tingkat, jadi sekretaris pak wakil direktur". Tunjuknya pada amplop yang berada di atas meja kerja gita.
"Lah. Kan banyak yang lebih dari aku prestasi kerjanya. Sedangkan aku belum apa-apa. Masih karyawan biasa". Jawab gita heran.
Mengambil dan membaca isi amplop yang di tunjuk teman gita tadi.
"Kurang tahu juga sih. Mungkin kamu langsung di pilih pak wakil direktur". Jawabnya.
"Ish.. Dika bikin kesal saja". Gumam Gita setelah membacanya.
"Pak Andika namanya. Jangan salah panggil. Bisa kena skor kamu nanti". Ucap teman gita.
"Iya.. Pak Andika.
Kok dia tidak memilih sekretaris yang lebih berpengalama. Dari pada memilih aku". Ucap Gita.
"Angab rezeki kamu. Naik tingkat".
"Belum mau lah. Masih banyak yang lain. Kamu contohnya. Sudah biasa jadi sekretaris pak bos divisi kita".usul Gita.
"Boleh. Aku mau saja jika aku yang di pilih. Tapi mereka memilih kamu. Aku busa apa". Ucap teman gita kecewa.
"Aku usul nanti. Kamu yang jadi sekretaris wakil direktur". Jawab gita percaya diri.
"Eh tidak usah. Kamu saja jadi sekretaris wakil direktur. Sekalian pdkt". Ucapnya tersenyum nakal.
"Tidak ada pdktan. Malas". Ucap gita.
Melipat surat yang dia ambil dari amplop tadi. Dia kesal. Bisa-bisa nya minta dia jadi sekretaris.
'Awas kamu dika. Jika mau bikin masalah denganku. Cukup waktu itu saja kamu bikin aku malu dan kesal!'. Gumam gita meremas amplop tadi.
"Kok amplopnya di remas?!".
Gita menggeleng, tersenyum samar.
.
.
__ADS_1
"Kalau