Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 158


__ADS_3

"Dimana rumah keluarga polisi itu bos?. Kok dari tadi kita tidak menemui rumah yang kita maksud". Tanya anak buah Indri.


Sudah lebih satu jam mereka mengendarai mobil. Sebelum nya memasuki persimpangan menuju sebuah kampung.


Tapi mereka belum juga sampai di rumah yang akan mereka tuju.


"Aku lupa. Rasanya waktu itu kami masuk persimpangan itu. Dan tidak ada belok lagi.


Tapi kok kita malah sampai persawahan begini?". Heran Indri.


"Nama kampungnya apa bos. Juga nama nenek atau kakeknya siapa?". Tanya anak buah Indri.


"Aku tidak tahu, aku ke rumah neneknya bang Guntur hanya sekali, waktu baru menikah dulu.


Acara perkenalan penganten baru kekeluarga kajek dan nenek.


Nama neneknya juga aku tidak tahu". Jawab Indri jujur.


Karena setelah dua tidak ada lagi kesini. pernikahannya keburu kandas.


Mereka berkeliling kampung itu, kampung asal mantan mama mertuanya. untuk mencari rumah nenek Guntur, mantan suaminya.


"Apa tidak ingat lokasi pastinya bos. Ini sudah lebih dua jam kita keliling.


Pusing, dan juga lapar". Keluh abak buah Indri.


Bagaimana tidak, sedari pukul setengah lima mereka mengendarai mobil dari rumah sakit kota D.


pergi kerumah mantan mertua bosnya, dan sekarang ke kampung asal mantan mertua bosnya itu.


Belum juga bertemu rumahnya.


Bahkan rumah warga yang sedang berkabungpun tidak ada mereka temui.


"Kita cari warung saja dulu Buat makan. Nanti kita coba bertanya di warung itu, dimana rumah orang yang sedang berkabung". Ujar Indri.


Mobil yang di kendarai anak buah Indri menepi di sebuah warung. Dalam mobil itu ada dua irang anak buahnya, dan bertiga dengan Indri.

__ADS_1


Anak buah yang lain bertugas untuk mencari keberadaan istri dari mantan suaminya. Gita.


Dia masih ingin membalas atas kematian Guntur. Orang yang dia percaya bisa melindungi dirinya yang sudah terlanjur masuk kr lembah hitam.


Karena keuangan yang minus setelah bercerai dari suaminya itu, juga sudah di berhentikan bekerja secara tidak hormat. Akibat kasus selingkuhnya yang viral.


"Buk tanya buk ya. Apa ada warga sini yang meninggal tadi subuh di rumah sakit di kota D?". Tanya salah satu anak buah Indri.


Pada ibu-ibu warung yang sedang meletakan minuman dan makanan yang mereka pesan.


"Warga sini?. Yang meninggal di rumah sakit kota D?". Ibu itu bertanya sambil berfikir.


"Ibu tidak ada mendengar yang meninggal di kampung ini dari tadi pagi. biasa kalau ada yang meninggal akan di kabarkan di mesjid sana.


Tapi ibu belum ada mendengar nya". Jawab ibu itu.


Gita dan anak buahnya saling pandang.


'Apa aku salah masuk tempat persimpangan kerumah neneknabang Guntur?'. Fikir Indri.


Pasti kalian dari kota D. bukan orang sini". Ujar ibu itu.


"Benar buk. Kami dari kota D. yang meninggal teman bu. Dia seorang polisi". Jawab Salah satu anak buah Indri.


"Rumah orang tuanya di daerah S bu. papanya juga seorang polisi. Disini kampung neneknya". tambah Indri.


"Setahu ibu tidak ada yang polisi yang berdinas di kota D daerah sekitaran sini nak.


Yang ada polisi yang berdinas di polsek sini saja". Jawab ibu itu.


"Ohya, siapa nama teman kamu nak. Juga nama irang tuanya?". Tambah ibu itu bertanya.


"Namanya.... Sedang papanya.. ".


Indri menyebut nama mantan suami juga mantan mertuanya.


"Tidak ada rasanya di kampung ini nak. Atau mungkin di kampung sebelah". Ujar ibu itu.

__ADS_1


Komonikasi mereka juga di dengar oleh orang suruhan Dika yang mengikuti mereka dari tadi.


Dua orang yang mengendarai motor membuntuti mereka, ingin mengetahuinya.


Lebih tepatnya, melindungi Gita, dari niat buruk mereka.


Mereka mengiringi dari jarak aman, juga seperti pengunjung warung pada umumnya.


"Apa nama kampung temanmu itu?. Kalau ini kampung tengah. Dan arah kedalam masih ada kampung juga dalam dan kampibg ujung.


Mungkin disana kampung temanmu itu". Ujar ibu itu.


Semua mengangguk saja. Mungkin perkataan ibu tadi jadi pertimbangan mereka.


"Apa kita salah masuk kampubg bos. Mungkin kampung polisi itu bukan di persimpangan tadi". Ujar anak buah Indri.


"Mungkin juga. Ah aku pusing". Gumam Indri.


Dia tidak berselera makan. Padahal kedua anak buahnya dengan lahap menikmati sarapan pagi merekabyang sudah telat. Sedah hampir waktu makan suang juga.


'Dimana gerangan bang Guntur di semayamkan'. pikir Indri.


Dia yang sedang banyak fikiran, karena orang yang akan dia jasikan tameng hidup tidak dapat dia gapai.


Belum didapat, tapi sudah pergi. Karena kecerobohannya yang bekerja sama dengan Dika.


Padahal mereka berencana untuk mendapatkan yang mereka inginkan, bukan mencelakai. Bahkan sampai cedera dan meninggal.


.


.


.


.


"

__ADS_1


__ADS_2