
"Terima kasih bro. Kamu sudah bantu kami. Kalau mereka itu suruhan Indri tentu tahulah kenalannya sebatas apa.
Tidak mungkin dia menggunakan jasa mata-mata yang profesional. Dia itu tidak secerdik yang terlihat.
Hanya dia merasa lebih pintar karena katanya dia bergaul dengan pengusaha dan para kaum muda yang elit". Jawab Guntur.
Dia dan isrinya baru saja sampai di apartemen mereka. Dengan lancar mereka di perjalanan.
Tidak ada yang nengikuti mereka.
"Iya bang Guntur.
Tapi abang dan istri sepertinya harus tetap jaga-jaga. Mereka itu baru mata-mata suruhan Indri.
Kalau pengusaha itu juga me mata-matai abang dan istri, bisa jadi dia memakai jasa intel atau detektif swasta.
Bisa saja kelas keintelannya setara dengan kepolisian. Katrna detektif swasta juga ada bekingan dari polisi". Ujar Teman Guntur.
"Iya.
Aku juga akan minta pengawalan dari detektif, agar mereka tidak salah info.
Sekarang sih aku baru minta pada intel bawahan grup z". Ujar Guntur.
Dia yakin. Tidak semua polisi dan detektif bekerja pada orang yang benar untuk menjaga keamanan.
Bisa juga bekerja untuk mencelakai orang yang di suruh pembayar mereka.
"Iya bang.
Kami semua pasti juga akan ikut membantu melindungi abang dan istri.
Kan sudahbada beberapa yang menjaga". Ujarnya.
"Terima kasih. Atas kebaikan semua. Sampaikan pada semua ya.
Kapan-kapan kita kumpul di asrama, sambil syukuran istriku hamil.
Tapi jangan beri tahu yang lain dulu. Baru jamu dan bang adi yang tahu istriku hamil". Uhar Gintur.
"Baik bang". Ujarnya.
__ADS_1
Guntur menyelesaijan telfonannya dengan temannya itu. Karena akan sholat magrib.
"Sudah sayang. Abang berwudhu dulu ya". Uharnya pada istrinya.
Gita baru saja keluar dari kamar mandi untuk berwudhu. Dan mengelar sajadah, intuk mereja sholat magrib berjamaah.
Azan sudah dari tadi, saat mereka sedang di lerjalanan pulang tadi.
Dan saat baru sampai dia dapat telfon dari teman yang tadi. info tentang orang yang mengikuti mereka adalah orang suruhan Indri.
.
"Kata anak buahku mereka sedang menuju Mall. Katanya bang Guntur dan istrinya tadi berbelanja dan menitipkan belanjaan di tempat penitipan.
Tapi mereka pulang tanpa mengambil belanjaan itu. Karena buru-buru pulang dengan taksol.
Bisa jadi mereka akan kembali kesana". Ujar Indri.
Dika yang sedang kesal pada Indri yang mengatakan Gita janda gatel dan mandul. Sedangkan Gita adalah wanita idaman Dika.
Maka Dika pun bergegas untuk keluar dari apartemen Indri, untuk pergi kembali ke mall tadi. Untuk berharap bertemu dengan Gita.
"Tidak usah ikut. Aku akan menemui Gita. Kamu bikin aku kesal saja. Bilang gita janda Gatel dan mandul". Ujar Dika.
"Alah kamu. Gitu saja kesal.
Kan kamu yang bilang kalau janda itu tidak punya anak. padahal sudah menikah dua tahun". Ujar Indri.
"Iya. Tapi tidak menghinanya juga padaku. dia adalah wanita yang aku ingini selama ini.
Tahu tidak kamu". Ujar Dika.
Dika tahu, dia yang memberitahu kalau Gita itu janda yang di tinggal mati oleh suaminya. Dan belum hamil walau sudah menikah dua tahun.
Mereka beriringan berjalan di koridor apartemen indri.
"Kalau aku yang bilang mantan suami kamu itu bodoh. Karena percaya dengan kamu yang ular. Mudah ditipu.
Apa kamu tidak marah?!". Tanya Dika pada Indri.
"Tidak. Memang dia yang bodoh.
__ADS_1
Dia percaya padaku karena sangat cinta mati padaku dan anakku. Makanya di menerima saja". Ujar Dika.
"Sekarang dia sudah tahu siapa kamu. Pasti tidak bodoh lagi seperti pikiranmu sekarang". Ujar Dika.
"Masih bodoh dia. Mau menikahi wanita yang sudah jelas tidak bisa hamil.
Sama seperti kamu. Mengejar wanita yang tidak sempurna". Ejek Indri.
Dika yang kesal semakin kesal mendengarnya.
"Sekali lagi kamu menghina Gita, aku tidak akan lagi mau bekerja sama dengan kamu". Ancam Dika.
"Baik. Sekarang juga aku tidak akan mau lagi bekerjasama dengan kamu.
Kita jalan sendiri-sendiri untuk tujuan kita masing-masing.
Aku juga tidak mau minta tolong pada kamu yang tidak mau bertanggung jawab pada darah daging kamu". Tantang Indri.
"Darah dagingku?. Apa kamu tidak sadar dengan kelakuanmu. Melayani banyak laki-laki. dan juga berbeda tiap hari.
Dari mana kamu yakin anakku yang kamu kandung.
Gila". Kesal Dika.
Karena Indri masih mengungkit perihal anak yang katanya anaknya. Dan bukan anak kandung suaminya.
Sekarangpun mereka sedang berada di depan lift yang belum sampai di lantai tempat mereka berdiri.
Juga ada sepasang muda-mudi yang sedang ikut menunggu lift.
Tapi mereka masih bertengkar tanpa malu terdengar orang lain.
"Jangan kalian masuk. Aku ingin sendiri!". Ujar dika.
Dia melarang Indri dan orang yang sedang menunggu lift bersamaan dengannya memasuki lift.
Malas untuk bersama dalam satu lift. Apalagi bersama Indri.
.
.
__ADS_1