Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Calon Gita?


__ADS_3

Gita mengemasi sekardus barangnya. Barang yang ada di meja kerjanya.


Seperti ucapan Guntur semalam. Dia di jemput oleh leo kerumah orang tua guntur. Dan ditunggu selama Gita ada dikantor.


Leo bukan menunggu di mobil, tapi di meja kerja Gita. Bahkan saat mengantar surat pengunduran kerja Gita, leo mengikutinya keruang asisten Dika.


"Siapa gita?". Tanya rekan kerja satu ruangannya.


"Saudara". Jawab Gita.


"Kok ditemani bekerja?". Tanya yang lain.


"Jangan bilang kalau kamu mau menikah lagi dengan dia, Ganteng begitu dianya". tambah teman yang lain.


Semua melihat kearah gita dan leo. Bagaimana tidak, leo yang ganteng, Tinggi. Idaman wanita.


walau kulitnya agak sedikit gelap. tapi itu daya tarik tersendiri. Mungkin polisi juga seperti Guntur.


Leo menang ganteng, tapi mereka belum melihat guntur yang lebih ganteng dari Leo.


Guntur lebih sering memakai masker saat bertugas di jalan raya, karena dia polantas.


Jadi jarang orang umum melihat wajah Guntur saat di jalan raya atau sedang bertugas.


Tapi saat di kantor atau sedang di posko baru dia lepas masker.


Makanya saat gita bertemu yang kedua, saat Guntur menemuinya di rumah memberikan dompet dan ponsel almarhum suaminya. Gita tidak hafal wajahnya.


"Benar gita?.


Kalau cowoknya begini, cepat saja kalian menikah. Kan masa iddah kamu hampir habis". Ucap rekan gita.


"Sudah habis, Sekarang kan hari kamis. Hari ini terakhir masa iddah Gita kalau tidak salah.


Hari senin kamu bisa mengajukan surat ke pengadilan agama. Biar kalian bisa lekas menikah". Jelas yang lain.


Gita dan leo saling pandang. Sama-sama tidak enak, karena mereka baru dua kali bertemu. Itupun karena Guntur yang menyuruh.


"Maaf ya.


Sebenarnya aku kesini mau mengambil barangku. Karena aku mau resign. Mungkin hari ini hari terahkirku disini. Dan bang leo datang menemaniku, juga untuk membawa barang-barangku". Jawab Gita mengelak.


"Ah..?


"Apa?


"Berhenti?


"Kenapa?


Teman gita kaget. mendengar Gita akan keluar dan berhenti bekerja.


"Kenapa mendadak berhenti Gita?". Tanya bos divisi gita.


"Tidak mendadak kok. Sudah difikir dari waktu itu, juga aku diminta papaku bantu-bantu di tempatnya.


Juga ingin dekat dengan keluarga ". Jawab gita.


Dia memang bilang di surat pengunduran dirinya untuk dekat dengan keluarga.


"Ingin dekat dengan keluarga, dan juga akan menikah?". Tanya yang lain.


"Bukan..". Sangah gita.


"Tidak apa Gita. Kami setuju kalau kamu cepat move on. Kamu masih muda. Carilah penganti segera.

__ADS_1


Kami setuju kamu dengan dia". Tunjuk rekan kerja Gita.


"Aku...".


"Maaf, kami harus segera pergi. Terima kasih atas perhatiannya semua".potong Leo.


"Sama-sama.


Jika kalian menikah, undang kami ya". Pinta teman semua.


"Masih lama. Butuh beberapa bulan lagi untuk kesana". Jawab Gita.


Dia mengangkat kardus barangnya. Tapi diambil alih oleh Leo.


"Tidak lama itu. Pokoknya kabarkan kami". Tambah bos divisi Gita.


"Inshaa allah.


Aku pergi ya. Maaf jika aku ada salah selama ini". Ucap Gita menyalami semua yang ada dalam ruangan itu.


Dan mereka melepas Gita sedikit sedih. Karena mereka selama bekerja sudah seperti keluarga. Saling bantu. Dan tidak ada tindakan saling menjatuhkan.


Leo membantu Gita membawa sekardus barang pribadi gita. tidak banyak yang ada di meja kerja gita.


Tidak lupa gita titip salam dan permintaan maaf pada pak Hamidi, direktur perusahaan ini.


Gita dan leo keluar dari ruang kerjanya biasa. Dengan santai Gita berjalan diiringi leo menuju lif.


Dan mereka berdua masik lif langsung menuju basement gedung kantor.


Keluar dari gedung kantor, leo langsung menuju cafe depan kantor Gita.


Tapi tidak untuk mampir. Karena Guntur hanya menunggu di parkiran cafe.


Saat mobil yang dikendarai leo berhenti, guntur langsung membuka pintu depan. Dan menyuruh Gita untuk pindah kebelakang.


"Abang tidak bekerja?!". Tanya Gita.


Karena melihat Guntur masih memakai pakaian seragam polisi lengkap.


"Aku izin sebentar tadi pada teman. Kebetulan mau keliling saja". Jawab Guntur.


"Dilanjut saja bang. Biar aku pulang diatar bang leo". Ucap Gita.


"Aku mau ajak kamu besok, untuk menghadiri acara pesta teman. Dan mau ajak kamu kebutik buat beli baju, biar kita coupel". Ujar Guntur santai.


"Bajuku banyak bang, kita cocokan warna saja nanti". Elak Gita.


Karena malas untuk belanja. Juga Guntur masih dalam dinas.


"Susah nanti, kurang pas warna nanti tidak sip. Baiknya kita beli saja". Tambah Guntur.


Dan mobil yang dikendarai Leo memasuki butik. Seperti sudah direncanakan.


Gita melihat sekeliling. Disana banyak baju borkat berbagai jenis. Ada kebaya, tunik juga gamis.


Mulai dari yang mewah sampai yang biasa.


"Kamu suka warna apa?". Tanya Guntur.


Mereka berdiri di deretan pakaian coupel.


"Abang mau warna apa. Aku ikut saja". Jawab gita.


Karena dia tahu, pria kebanyakan tidak mau memakai warna tertentu.

__ADS_1


"Kamu saja pilih. Aku suka kok pakai warna apa saja. Kalau kamu pilih warna pink juga aku tidak apa". Jawab Guntur.


Dia sudah paham keraguan gita. Takut dia tidak mau pajai warna terang.


Gita mengangguk paham.


"Kalau ini bagaimana?". Tanya Gita.


Menunjuk gamis warna hijau muda dan putih tulang. Tapi baju warna sage itu, jas untuk pria terlihat mewah. Seperti untuk menikah.


Gita takut Guntur berfikir yang tidak-tidak nantinya. Padahal gamisnya Gita suka.


"Kalau putih kurang sip untuk menghadiri pesta. Nanti...".


"Kalau kamu suka putih, kamu ambil yang tidak terlalu putih. putih tulang atau atau putih gading". Potong Guntur.


Dia sebenarnya ingin warna putih, karena...


"Ok. ini saja". Ucap Gita memutus khayalan Guntur.


Mengambil gamis warna putih gading, simpel. Yang tidak banyak memakai memakai payet atau acesoris.


Walau sederhana tapi terlihat anggun.


Begitu juga baju buat prianya. Gita memilihnya karena jas putih tulang simpel.


"Wana hijau?!". Tanya Guntur.


"Terlalu mewah untuk tamu".


"Kamu suka?".


"Lumayan. Tapi Jasnya untuk orang nikahan. Kurang tepat". Jawab Gita.


Guntur hanya mengangguk. Paham.


Maka...


"Kamu mau coba?". Tanya guntur.


"Tidak. Nanti abang telat balik untuk bekerja". Jawab Gita.


"Ok. Aku pergi bekerja saja, di jemput temanku. Kamu coba saja bajunya. Bawa saja bajunya sekalian. Aku yakin, jas untuk aku pasti pas. Karena ...


Nanti pulang diantar Leo. Aku bayar dulu bajunya". Ujar Guntur akan pergi dari dekat Gita.


Takut. katahuan oleh Gita, karena dia kemaren sudah datang dan mencoba jas disini. Dan sudah di catat ukurannya oleh pemilik butik.


Pasti nanti akan memberikan jas ukurannya pada gita untuk dibawa pulang.


"Ok. Tapi bajuku aku yang bayar". ucap Gita.


"Aku saja. Tapi kalau kamu ambil dua atau lebih, baru kamu yang bayar". Ujar guntur berlalu dari depan Gita yang akan mencoba bajunya.


Guntur pergi kekasir untuk membayar pakaian mereka. Juga berpesan pada kasir, agar...


"Baik pak. Nanti kami siapkan ukuran yang cocok buat bapak dan ibuk". Ucap sang kasir.


Guntur keluar Butik setelah ditunggu temannya.


Padahal yang menunggu anak buahnya. Bukan fi tunggu, tapi diiringi dari tadi, saat di cafe.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2