Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Mungkin


__ADS_3

"Apa bos yakin akan mengadopsi anak bu gita?". Tanya sang asisten.


Mereka baru saja meninggalkan yayasan yang berada di kampung pinggiran dekat pasar.


"Aku akan berusaha menikahi Gita sebelum bayi itu lahir. Tadi ibu di panti itu berjanji, jika mereka menemukan alamat yang akan menyerahkan bayi itu. Mereka akan segera menghubungiku.


Dengan begitu aku yakin. Akan segera bertemu dengan Gita". Jawab Dika.


"Aku tidak habis fikir bos. Kenapa bos tidak melanjutkan untuk mencari tahu alamat orang tua Bu gita saja". Ujar Si asisten.


"Anak buah kamu yang belum mendapatkannya". Jawab Dika.


"Mereka kurang informasi bos. Kota sebesar ini kemana akan mereka cari.


Lagi pula kata bos akan bertanya pada mantan mertuanya bu....".


"Iya. Aku lupa. Coba anak buah kamu bertanya pada Dian, dimana rumah mantan mertuanya Gita itu, agar kita bisa bertanya dimana rumah orang tua Gita". potong Dika.


"Kenapa tidak bos saja mendatangi Dian. Kan bos sudah biasa main dengan Gita". Ujar Sang asisten.


"tidak diberikan Dian. Sudah tiap hari aku kerumahnya lebih dari seminggu. sudah banyak uang, waktu dan tenagaku habis u tuk melayani dia.


Tapi dia malah sibuk melayani pelangannya di rumahnya. Dan mengatakan kalau aku sabar. Dia juga sedang mencari tahu dimana rumah mantan nertua Gita". Jelas Dika.


"Jadi dia tidak tahu juga?". Kaget Si asisten.


"Entahlah. Dia sibuk mengurus ************ saja untuk mendapatjan uang". Kesal Dika.

__ADS_1


"Hmm.. Bahaimana kalau pakai kekerasan bos". Ucap si asisten.


"Terserah kamu dan anak buah kamu. Yang penting Gita aku temukan". Jawab Dika.


Si asisten mengangguk paham. Dan..


"Bos. Kenapa kita tidak tanya security komplek atau tetangga bu Gita di perumahan itu. Pasti mereka kenal dengan mertua bu Gita". Ujar si asisten tiba-tiba.


"Ide bagus. perintahkanlah anak buahmu segera". Ucap Dika.


Tanpa di perintah, si aisten segera menelfon anak buahnya. Memerintah untuk mencati tahu.


"Tumben kamu pintar". Ucap Dika pada si asisten.


"Karena kemaren-kemaren aku sibuk mengurus ************ bos. Kan mubazir yang sudah bos bayar tidak aku manfaatkan". Jawab sibasisten santai.


"He.. He...". Cengirnya.


Dia mebgemudikan mobilnya menuju kantor.


"Aku mau pulang saja". Ijar Dika.


Melihat arah mobil yang dikemudi kan si asisten.


"Jangan pulang bos. Pak direktur sedang dikantor. Tadi aku bilang pada sekretaris kalau kita balik lagi ke kantor.


Masih satu jam lagi jam pulang kerja. Dan gedung kantor juga sudah kelihatan". Ujar si asisten.

__ADS_1


"Terserah kamu lah. Aku sudah tidak mood untuk bekerja". Jawab Dika.


"Paling tidak bos pulang tepat waktu. Dan itu harus bos nampakkan pada karyawan. Agar mereka tidak bisik-bisik di belakang". Ujar Si asisten.


Membelokan mobil yang di kendarainya ke perusahaan tempat dia bekerja.


Dika tidak menjawab ucapan si asisten. Dia memang serong datang telat. Dan juga pulang cepat.


Dia juga tidak ingin di tegur lagi oleh pimpinan perusahaan. Papanya. Malu juga rasanya pada karyawan yang lain.


"Kalau boleh bos sekarang harus rajin datang kekantor. Mana tahu dengan kita berangkat pagi. Kita bisa saja bertemu dengan bu Gita di peejalanan.


Bisa saja bu Gita bekerja di perusahaan di kota ini juga. Kan bos tidak sulit untuk mencarinya. Tinggal ikuti saja". Ujar Si asisten.


Mereka baru saja sampai di basemant kantor Dika. Dan bersiap untuk turun.


"Bilang saja anak buahmu tidak bisa menemukannya. Dasar malas". Oceh Dika keluar dari mobil.


Si asisten hanya geleng-geleng kepala. Dia sebenarnya juga bingung. mencari Gita dengan informasi yang tidak lengkap.


'Dasar bos edan. Katanya mantan pacar. Tapi rumah dan keluarga pacar saja tidak tahu.


Begitulah pacaran yang hanya sebatas jalan. Tidak mengetahui latar belakang pacar.


Apa dia dari keluarga baik atau tidak'. Gumam si asisten.


Karena dia ditinggal oleh si bos berjalan duluan memasuki lift kantor menuju lantai atas keruang kerjanya..

__ADS_1


.


__ADS_2