Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Tidak Ada Disini


__ADS_3

Dika sarapan pagi di warung kampung. Karena lapar mereka makan dengan lahap.


Walaupun warung sederhana di perumahan kampung, tapi makanannya sangat lezat dan enak.


Dika melihat jam di pegelangan tangannya. Sudah lewat setengah tujuh. Dan dia menyelesaikan sarapannya. Karena ingat tujuan utama mereka kekampung ini.


"Ohya buk. Apa ibu kenal dengan yang namanya Gita. Dia kemaren tinggal di kota b, dan kabarnya dia asal kampung sini". Ujar si asisten Dika.


"Nama orang tuanya siapa pak?". Tanya si ibu warung.


"Siapa bos, nama orang tua bu gita?". Tanya si asisten.


"Siapa ya?. Aku lupa". Ujar Dika.


Si asisten hanya mengeleng. 'bagaimana bisa menemukannya. Informasi saja tidak lengkap'. Gerutunya.


"Informasi dan data kurang lengkap bos, agak susah.


Pantas sulit anak buahku mencari info tentang bu gita". Bisik si asisten.


Dika melotot melihat asistennya. Dia paham. Pastas lama mereka mencari alamat Gita.


"Terus, bagaimana cara...".


"Suaminya meninggal kecelakaan buk. Belum satu tahun ini". Ujar si asisten.


Dika mengangguk. Ternyata asistenya cerdas juga. Bisa menggunakan info di luar fikirannya.


"Disini yang suaminya kecelakaan dalam belakangan ini ada beberapa pak.


Si may, si nur juga mira. Di kampung sebelah juga ada. Tapi yang aku tahu tidak ada yang bernama Gita". Jawab ibu itu.


"Dia mungkin jarang tinggal di sini bu. Sebab setahuku dia tinggal di kota b semenjak sekolah". Ujar Dika.


"lihatkan foto bu gita bos". Ujar si asisten mengingatkan.


"Oh iya. Ini fotonya bu. Tapi ini foto beberapa tahun yang lalu. Sewaktu dia kuliah". Ujar Dika.


Karena dia masih menyimpan foto Gita saat mereka kuliah dulu.

__ADS_1


Ibu itu meneliti foto yang terpampang di layar ponsel. Melihat agak lama.


"Aku belum pernah lihat wajah ini pak. Entah karena aku sibuk di warung jadi kurang tahu.


Juga, Aku sudah lebih sepuluh tahun tinggal disini tidak pernah bertemu wanita ini pak.


Mungkin saja keluarganya sudah pindah dari sini. Atau bukan warga sini". Ujar ibu itu.


"Tapi teman saya bilang orang tua Gita tinggal disini bu. Karena beberapa bulan yang lalu mereka pernah melihat mobil yang biasa Gita pakai ada di kampung ini". Jawab si asisten.


"Wah, kalau mobil sih bisa saja itu mobil rental pak. Atau bisa saja mobilnya dipakai teman untuk mengunjungi saudaranya". Ujar ibu itu.


"Benar juga ya. Mobil itu belum tentu mobil Gita". Ujar Dika.


"Tapi anak buahku bilang mengiringi bu Gita ke kampung ini bos!. Dia bilang bu gita masuk kampung ini.


Tapi mereka kehilangan jejak saat menunggu mobil bu Gita di depan mesjid sana". Ujar asisten Dika.


"Mungkin saja mobil itu ke kampung dalam pak. Jalan di samping mesjid itu menuju kampung dalam. Sekitar satu jam ke sana". Ujar ibu warung.


"Oh. Masih ada kampung ya.


Makanya mereka tidak melihat mobil itu sampai pagi. bahkan beberapa hari mereka berjaga di persimpangan depan menuju kampung ini". Ujar si asisten.


"Bisa jadi pak. Di kampung dalam memang banyak anak dan keluarga yang merantau". Tambah Ibu itu.


Dika melihat si asisten. Dan sang asisten mengangkat bahunya. Tidak tahu yang akan dilakukan. Karena dia juga tidak punya info lebih tentang Gita.


"Kita harus balik kekantor bos. Mungkin kita hentikan dulu mencari bu Gita. Kita tunggu info dari ibu yayasan saja beberapa minggu kedepan". Ujar si asisten.


Dika hanya diam. Karena dia juga tidak tahu tentang Gita dan keluarganya.


"Harus bagaimana lagi bos. Kita minim info". tambah si asisten.


Akhirnya dengan berat hati Dika kembali ke kota untuk bekerja.


"Eh berhenti di bawah pohon sana sebentar". Ujar Dika.


Saat melihat rumah wati. Rumah dimana dia pernah di grebek warga.

__ADS_1


"Itu rumah Wati.


Apa mungkin wati kenal dengan Gita?". Ujar Dika.


"Apa bos ingin turun?". Tanya si asisten.


"Tidak. Kamu suruh anak buah kamu untuk mencari tahu dari wati". Ujar Dika.


"Ok!". Ucap si asisten kembali melajukan mobilnya.


"Kita coba lewat jalan yang kearah kanan. Biar tidak lewat pasar dan terminal. Pasti sekarang macet". ujar Dika.


Karena pukul tujuh pasti jalanan pasar atau terminal ramai lalu lintas dan kesibukan pagi.


Si asisten mengikuti arahan bosnya. Melewati jalan yang agak besar dan bagus.


Juga melewati kawasan rapi dan teratur, walau bukan daerah kantor atau sekolah.


Wilayah yang banyak rumah- rumah di jalan ini lebih tertata rapi dan juga sudah sedikit mewah dan modern. Juga berhalaman luas.


"Mungkin di sini perumahan pengusaha atau pejabat bos. Perumahan elit yang ada di sini". Ujar si asisten sangat takjup dengan rumah yang ada di jalan ini.


"Iya. Tapi sepertinya bukan perumahan dari pengembang. Model dan besar rumah juga berbeda". Ujar Dika.


Karena deretan rumah yang mereka lalui memang tidak memasuki perumahan. Tapi di jalan utama kampung menuju jalan besar kearah kota.


"Tadi sepertinya kita tidak melewati sini bos!". Ujar si asisten.


"Bukan. Tadi kita melewati jalan menuju terminal dan pasar. waktu itu aku lewat sana, dan ini mungkin jalan baru.


Tidak ramai dan padat kendaraan yang lewat sini". Jawab Dika.


Tidak ada angkutan umun yang lewat mereka lihat.


Tanpa mereka tahu, kalau rumah orang tua Gita salah satu dari rumah yang mereka lewati.


.


.

__ADS_1


__ADS_2