Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Fitnah


__ADS_3

Saat semua makan dengan tenang, aku semakin tidak tenang. Aku harus memastikan.


"Sebentar pak, bu, semua. aku lupa kemaren aku membawa kerupuk dari rumah ibu.


Aku ambil sebentar ya!!". ucapku.


Lalu menuju pintu samping, menuju kamarku.


Aku memeriksa teras depan kamarku. kulihat kaca jendela ku terbuka sedikit, dan kain tile yang tersingkap. padahal tadi rapi dan jendela tertutup.


Kubuka kunci pintu, dan memegang handel pintu. kok..


Rasanya handel pintu berminyak. Ku ambil kain usang yang biasa untuk pel lantai, dan melap tanganku juga handel pintu.


Lalu aku masuk kedalam kamar, melihat ke kain tile jendela yang tersingkap.


Terletak sebuah kantong kresek merah. kubuka ternyata di dalamnya juga terdapat tas wanita.


Aku tidak mau membuka tas itu.


lalu di depannya juga ada sebuah kantong hitam. aku bawa ke dekat pintu dan merapikan kain tile jendela.


Lalu kubuka kantong hitam itu.


"Astaghfirullah!". seekor bangkai tikus.


Kututup kembali.


Aku mencuci tanganku. dan mengambil kerupuk yang seperti kerupuk kemplang.


Aku membawanya semuanya keluar, kantong merah, kantong hitam dan juga satu kantong kerupuk kemplang.


Aku pergi kedepan pagar untuk membuang kantong hitam di tempat sampah. juga aku gantung kantong merah di dekat dinding teras. tempat biasa mengantung perkakas.


Lalu aku memasuki rumah utama, melalui pintu samping lagi.


"Ini kerupuknya!". ucapku meletakan di atas meja.


Aku menuju wastafel dekat meja makan, mencuci tanganku yang tadi memegang kantong hitam. Menyabuni dengan sabun pencuci piring.


Lalu kembali menuju meja makan. tempat aku duduk tadi. pura-pura tidak terjadi apa-apa. aku akan menyelidikinya. dan membuat orang yang ingin mencelakaiku bungkam.


"Tidak mau tambah gita?!". tanya ibu kos.


Saat melihat aku menyingkirkan piring bekas makanku. karena aku melihat ada tulang ikan di piringku. padahal tadi aku tidak memakan ikan. dan nasiku juga masih ada sepertiga lagi. tapi aku ragu untuk memakannya lagi.


"Tidak bu. aku ingin makan kerupuk dengan kuah gulai itu!". ucapku.


Menunjuk kuah gulai ayam yang ada di meja makan.


Mitha memberikan piring baru padaku. dan ibu kos memberikan kerupuk yangvsudah dibukanya.


lalu aku menuang kuah gulai kepiringku, makan kerupuk drngan mencocolnya.


Apakah ada diantara mereka yang ingin aku celaka. yang menabuh genderang perang tadi sudah jelas Hani. tapi aku tidak bisa menuduh tanpa bukti.

__ADS_1


Juga, aku tidak tahu siapa yang tidak senang denganku. Karena aku belum dua minggu tinggal disini.


"eh aneh tidak. Masa si gita baru kenal dengan bang guntur sudah mau nikah saja!. itu namanya perempuan ganjen!. kegatelan". ucap Hani tiba-tiba.


Semua memandangku, tapi aku santai saja. tidak menanggapi.


"Kan kemaren bang guntur juga sudah bilang, kalau mereka akan menikah!". jawab oliv.


"Tapi kan itu namanya tukang tikung alias merampas rezeki orang!". ucap Hani bertambah semangat.


"Memangnya bang guntur itu milik siapa?. apa diantara kalian ada yang pacarnya Guntur?!". tanya ibu kos.


Semua saling pandang, dan melihat kearahku.


"Kan sudah lama aku menunggu kesempatan untuk dekat dengan bang Guntur bu!". ucap Hani.


"Berusaha dekat. tapi bukan pacar kan?!". tanya ibu kos.


"Semua pasti berharap bu!". ucap Hana gigih.


"Berarti bukan jodoh kalian.


Kalau Guntur dan gita menikah, tidak salah. walau mereka baru kenal. itu jodoh mereka!". jelas ibu kos.


"Aku tidak terima bu!


Dia curang!. dia mendekati Hannah untuk melancarkan niat nya mengaet bang guntur.


Padahal aku juga pernah menawar tebengan pada hannah, dan dia tidak mau". ujar Hani.


"Itu kareba kamu menawarkan pada anna perginya kepagian!". ujar mitha.


"Aku sedih.. hik.. hik...!. bang gunturku berpaling! hik..". jawab silvia tiba-tiba.


Puk...


"Aduh!!". jerit Silvia.


Tiba-tiba mitha menepuk punggung silvia, yang kebetulan mereka duduk berdampingan.


"Terus, pacar kamu mau kamu kantongin?!". ucap mitha.


"Kalau bang Guntur mau sama aku. aku kasih kamu saja!". ucap Silvia.


"Tidak mau!. aku setia sama pacar aku!". jawab mitha.


Mereka malah berdebat berdua. Aku masih tetap diam.


"Sudah-sudah!. kita tidak boleh menganggu milik orang lain. jaga saja milik kita sendiri!". ucap bapak kos.


"Dia yang ganggu milikku pak. jelas bang Guntur gebetanku, eh malah dia rampas paksa. pakai langsung menikah puka!". ujar Hani merasa di bela.


"Itu beda hani!!.


Guntur bukan pacar kamu!. bukan suami kamu!. baru sekedar kenal atau calon kenalan. jadi tidak bisa kamu mengatakan Gita mengaet.

__ADS_1


lagi pula sebelum janur kuning melengkung dan kata sah di depan penghulu, masih ada kesempatan. bisa dikatakan punya hak untuk berharap!.


itu kalau pihak sana tertarik!". jelas bapak kos.


"Aku masih punya kesempatan untuk mendekati bang Guntur!. kata Hanna pernikahan mereka dua bulan lagi!". ucap Hani bersemangat.


"Itu yang dinamakan Pelakor!. mereka sudah punya rencana menikah. bahkan waktunya juga sudah ada!". Sewot Mitha.


"Kan janur kuning belum melengkung!!.


Masih ada kesempatan buatku. Tunggu aku bang Guntur!". jawab Hani.


Dia langsung berdiri, dan pergi dari meja makan menuju kamarnya dilantai atas.


"Benar kamu dan Guntur menikah Gita??". tanya ibu kos.


Hhffff


"Inshaa allah bu!". jawabku.


"Kok bisa gita?!. kamu kan baru bertemu dan baru kenal dia!". tanya Silvia.


"Aku kenal dia beberapa bulan yang lalu.


kalau soal anna, aku tidak tahu kalau anna adik bang guntur. Baru tahu kemaren waktu aku joging.


Itupun tidak sengaja. karena aku membawa motor anna, dan bang guntur bilang itu motor adiknya!". jelasku.


"Terus, waktu semalam kamu menginap di rumah anna kamu tidak bertemu Guntur?!". tanya ibu kos.


"Gita menginap di rumah anna??!". tanya teman kosanku yang lain serentak. juga bapak kos.


"Iya. sabtu malam waktu anna ikut makan malam di sini, dia minta izin untuk mengajak gita menemaninya di rumah karena dia sendirian!". jelas ibu kos.


"Kamu bertemu Guntur?!". tanya baoak kos.


"Tidak pak. kami kerumahnya setelah dia berangkat dinas malam. paginya juga kami berangkat joging.


Dan aku bertemu saat di taman waktu mau pulang.dan aku memakai motor anna. sebab anna pergi kerumah sakit melihat temannya.


Disana dia bilang kalau anna adiknya!". jelasku.


"Terus, siangnya dia datang kesini dan mengatakan kamu calon istrinya.


Berarti kamu dan dia sudah berencana sebelum kamu tinggal disini.


Itu bukan merampas namanya. karrna sudah kenal sebelum kesini!". jawab Silvia berpendapat.


Aku tidak mau menjawab. biar tidak ada perselisihan lagi.


"Betul!". jawab mitha dan oliv.


"Aku sedih... hik.. hik....!". ucap Silvia tiba-tiba.


"Drama kamu!!". ucap mitha dan oliv bersamaan.

__ADS_1


.


..


__ADS_2