
Tanpa sepengetahuan Gita. Ternyata Guntur sang suami memberi pengawalan tanpa terlihat untuk istrinya.
Menjaga dari jarak aman.
Tadi pagi saat Guntur berangkat bertugas, dia sudah menyuruh rekan kerjanya untuk menjaga istrinya.
Tidak hanya sekarang. Semenjak kejadian di kosan waktu itu, guntur sudah memberi penjagaan buat Gita.
Gita pergi menjauh dari meja Gita dan Dika duduk. dan keluar dari cafe tersebut.
Sedangkan Dika hanya termenung melihat Gita pergi tanpa ada rasa takut dengan ancamannya tadi.
Bahkan Gita menantang Dika. Mengatakan kalau bukan dia yang..
'Kenapa dia berkata begitu?. Aku saja masih merasakan bagaimana nikmatnya pergulatan panas sore itu.
Dan juga, ruang kerjaku yang berantakan dan banyaknya cairan sp... Berceceran'. Guman Dika.
"Tidak mungkin. Aku yakin kalaudua yang...".
"Pak Dika.
Apa kita balik ke kantor atau pulang saja". Ujar sang asisten.
Mengejutkan Dika yang sedang memikirkan ucapa Gita.
"Kita balik kekantor saja. Aku ingin melihat rekaman cctv hari itu". Jawab Dika.
Dia langsung berdiri dan menuju keluar cafe.
Sang asisten sedikit pucat. Karena bosnya akan melihat rekaman cctv yang bernasalah tadi.
Dengan sedikit galau sang asisten mengemas semua berkas rapat tadi dengan klien.
Lalu menyusul bosnya menuju mobil yang terparkir di depan cafe.
Dia membawa mobil menuju kantor lebih banyak dian. Sambil berfikir bagaimana caranya memberi tahu si bos tentang kesalahannya tadi.
Begitu juga sang bos. Dika masih memikirkan Gita yang tidak ada rasa cemas dan takut sedikitpun.
Malah menantang.
Sunyi suasana di dalam mobil sampai di depan gedung kantor. Larut dalam fikiran masing- masing.
"Segera ke ruangku dan bawa rekaman cctv yang kamu ambil tadi". Ujar Dika.
"Baik pak". Jawab sang asisten pelan.
Sampai di loby kantor, Dika langsung turun dari mobil. Dan menyuruh sang asisten mengikutinya.
Dengan sedikit cemas sang asisten mengikuti bosnya. Menuju ruang kerja si bos.
"Kenapa Gita tidak takut waktu aku mengancamnya". Ujar Dika.
__ADS_1
Mereka baru saja memasuki ruang kerja Dika. Dika langsung duduk di sifa ruang kerjanya. Di ikuti sang asisten duduk di sofa depan bosnya itu.
"Mana rekaman cctv itu. Apa sudah kamu ambil vidionya?". Tanya Dika.
"Sudah pak. Tapi..
Tidak ada vidio saat...".
"Kenapa tidak ada?". Tanya Dika.
"Maaf.
Begini pak. vidio itu sudah lebih sepuluh hari. Dan tadi sedikit lama untuk mencarinya.
Karena ada puluhan cctv yang ada dikantor ini.
Tadi saya sempat memvidiokan saat gita dari ruangannya menuju ruang bapak. Dan..
Maaf pak. Ponsel saya terjatuh di atas keyboard tadi.
Dan..
Semua vidio cctv hilang". Ujar sang asisten pelan.
Takut si bos marah.
"Apa?! Hilang??". Ujar Dika.
"Kan bisa di ambil di file terhapus?". tanya Dika.
"Alat keamanan cctv kantor kita sedang rusak pak. dan semua..".
"Kenapa tidak panggil yang ahli?. Atau pasang yang baru". Ujar Dika.
"Kata yang menjaga ruang cctv alatnya sudah dipesan bulan lalu, dan sedang di kerjakan oleh pabrik.
Dan awal bulan dipasang". Jelas sang asisten.
"Aku perlunya sekarang!. Kamu panggil mekanik yang ahli untuk mencari vidio yang hilang". perintah Dika.
"Baik pak. Akan aku panggil mekanik dari toko cctv". Ujarnya
"Aku mau lihat keruang cctv itu". Ujar Dika berdiri.
"Tapi bapak lihat yang aku vidiokan tadi melalui ponsel saya.
Mungkin bapak ada dapat petunjuk, walau hanya sedikit". Ucap sang asisten.
Memberikan ponselnya pada Dika.
Dika kembali duduk dan menerima ponsel asistennya itu.
Dika memperhatikan vidio yang cukup lama di rekam sang asisten.
__ADS_1
Mulai dari saat gita menerima telfon agar guta menuju ruang Gita yang berjalan menuju ruang Dika, wakil direktur.
Sampai gita memasuki ruang kerja Dika.
Dan vidio kosong di percepat. Sampai Gita keluar ruangan Dika. Dan vidio terputus saat Gita baru saja membuka pintu ruang kerja Dika.
Dengan gambar yang kurang jelas kalau Gita yang keluar, karena vidio di ponsel sang asisten langsung menghadap langit-langit ruang cctv.
Hanya terdengar kehebohan sang asisten yang terkejut karena ponselnya jatuh.
Juga terdengar penjelasan karyawan penjaga ruang cctv. Yang sama dengan penjelasansang asisten tadi.
"Dasar ceroboh kamu.
Aku ingin menggunakan vidio itu untuk mengancam Gita agar mau kembali keperusahaan ini.
Padahal dengan melihat keadaan Gita yang aku yakin berantakan saat keluar ruangan, dapat dibukti kan kalau dia sudah aku kuasai beberapa jam.
Buktinya saja ruanganku penuh bekas pertempuran panas. Dan...". Dika tidak menyambung ucapannya.
Mereka sama-sama merenung. Memikirkan apa yang akan dilakukan.
"Apa tadi bos mengatakan pada bu Gita? Dan bagaimana reaksi bu gita itu". Tanya sang asisten.
"Itulah yang aku heran. Dia malah tidak merasa sudah melayani aku. Dan nengatakan semua ucapanku bohong". Ujar Dika.
"Tapi kan kata bapak bu Gita sudah di beri obat perangsang. Bisa jadi dia tidak ingat apa-apa saat bapak gerayangi. Dan dia mengelak seolah tidak terjadi apa- apa". Tebak sang asisten.
"Iya juga. Bisa jadi Dia malu mengakuinya, karena sudah ternoda.
Aku yakin. Dengan keganasanku dia bakalan hamil. Karena sudah pernah menghamili". Ujar Dija percaya diri.
"Bagus itu pak.
Jika bu Gita hamil, pasti dia ajan datang menemui pak bos untuk minta pertanggung jawaban.
Tidak perlu mencari dan menemuinya untuk saat ini. Tunggu saja bulan depan atau saat perut dia membesar". Ucap sang asisten.
Menyenangkan hati bosnya yang sedang galau. Dan kacau.
"Iya. Aku setuju.
Kamu coba selidiki dimana dia bekerja dan dinana dia tinggal". Ucap Dika.
"Baik bos". Jawabnya.
Padahal sudah hampir dua minggu sang asisten mencoba menyelidiki Gita. Tapi belum ada kemajuan. Tidak menemukan Gita tinggal dimana.
'Untuk saat ini si bos tidak marah. Besok akan aku kerahkan anak buah ku. Atau aku sewa saja mata-mata, agar bisa dengan cepat mengetahui semua tentabg bu Gita!'. guman sang asisten dalam hati.
.
.
__ADS_1