
"Kamu nanti berangkat sendiri ya sayang. Hati-hati di jalannya". Ujar Guntur pada istrinya.
Pagi ini mereka sama-sama akan berangkat bekerja. Bedanya waktu berangkat saja.
Guntur berangkat pukul setengah tujuh, karena akan bekerja mengatur lalu lintas pagi di persimpangan.
Sedangkan Gita berangkat pukul setengah delapan lewat. Karena masuk kantor pukul delapan.
"Iya bang. Seminggu ini aku merasa tenang kok bawa mobil perrgi bekerja.
Lagian ke kantor cuma melewati dua kali persimpangan lampu merah saja". Jawab Gita.
"Kamu pun tetap harus waspada sayang". Ujar Guntur.
Mereka selesai sarapan buatan Gita pagi-pagi.
"Aku berangkat dulu ya sayang". Ujar Guntur.
Gita menyalami dan mencium tangan suaminya. Dan Guntur mencium kening istrinya.
Guntur berangkat bekerja mengunakan motor.
Setelah Guntur berangkat bekerja. Gita membereskan meja makan dan mencuci piring kotor bekas sarapan mereka.
Kemacetan pagi di persimpangan lampu merah menjelang gedung kantor Gita masih panjang. Kendaraan padat merayap melintasi persimpangan lampu merah.
Karena pukul setengah delapan sampai setengah sembilan pagi waktunya pekerja kantoran dan pegawai berangkat bekerja.
Gita yang tidak merasa telat menikmati saja kepadatan jalanan oleh kendaraan.
Gedung kantornya sudah terlihat dari lampu merah tempat dia berdiri sekarang.
Mobilnya berdiri tiga mobil dari depan hingga dia melihat beberapa polisi lalu lintas mengatur padatnya jalan raya.
Para polisi lalu lintas mengatur pengendara nakal yang sering menerobos lampu merah. Dengan alasan buru-buru dan sudah telat.
Dengan adanya beberapa polisi di persimpangan mengatur lalu lintas, membuat pengendara lebih teratur.
Gita tahu, diantara beberapa polisi lalu lintas di depan salah satunya adalah suaminya. Ada sekitar enam orang polisi lalu lintas di sana.
Ada ada dua di tengah jalan, juga ada berdiri di sisi jalan.
Suaminya Guntur sudah beberapa hari ini bertugas di persimpangan lampu merah ini, dan patroli sepanjang jalan ini.
Gita sedikit melirik kekiri dan kekanan, melihat polisi yang sedang bertugas. Melihat dimana gerangan suaminya berdiri.
Walau ada beberapa polisi masih memakai masker dan helm, Gita bisa menandai yang naba suaminya.
Guntur suaminya berdiri di disi kanan jalan. Berdua dengan rekan kerjanya.
Gita yakin, suaminya melihat kearahnya. Dan yakin sedang tersenyum padanya, walau tidak terlihat karena memakai masker.
__ADS_1
Karena arah pandangan suaminya menghadap ke mobil yang dia kendarai. Dan Gita melajukan mobilnya saat lampu berubah hijau.
Gitapun juga tersenyum di balik kaca yang dia yakin suaminya tahu itu. Mengiringi pandangan nya kearah mobil Gita.
Tadi sebelum berangkat bekerja suaminya Guntur mengirim pesan untuk berhati-hati mengemudikan mobil.
Beberapa saat Gita sampai di ruang kerjanya, pesan dari suaminya juga datang. bertanya kalau sudah sampai di kantor.
.
"Bos. Anak buahku sudah menemukan alamat rumah mantan mertua bu Gita". Ujar si asisten.
"Lambat. Tiga bulan baru dapat". Ujar Dika.
Ya. Sudah lebih tiga bulan semenjak mengiringi dan menguntit mobil Gita ke sebuah yayasan waktu itu.
Dikapun mengurangi pencarian Gita. Selain ibu pemilik yasasan mengatakan kalau dia sudah dapat kabar, dari orang yang Dika yakin kerabat Gita.
Walau tidak memberikan data dan alamat, tapi waktu mereka akan datang sudah di kabarkan. Membuat Dika menempatkan seseorang untuk mengawasi yayasan, jika mereka datang.
"Maaf bos. Sebenarnya sudah dari bulan lalu mereka dapatkan alamatnya. Tapi mereka masuk rumah sakit karena kecelakaan". Jelas si asisten.
"Terus, apa kamu sudah mendatangi rumahnya untuk bertanya?". Tanya Dika.
"Sudah bos. Tapi mereka sedang keluar kota. Kata anaknya mereka pulang akhir pekan ini". Jawab si asisten.
"Kenapa tidak tanya anaknya itu?. Pasti mereka tahu dimana rumah mertua abangnya". Ujar Dika.
Ini alamatnya". Ujar si asisten.
Memberikan selembar kertas pada Dika.
"Jalan ... Kampung.... .
Inikan kampung Wati?. Apa wati kenal dengan dian?". Gumam Dika.
"Siapa wati bos?". Tanya si asisten.
"Perempuan yang pernah jadi pemuasku, dan pernah hamil anakku". Jawab Dika.
"Kalau begitu bos bisa mencari informasi darinya". Usul Si asisten.
"Hhff... Tidak mungkin. Dia pasti tidak mau, dia pasti masih marah padaku. karena aku tidak mau bertanggung jawab atas anak yang dia kandung waktu itu". Ujar Dika.
"Setidaknya kita sudah dapat alamat orang tua bu Gita bos. Kita saja langsung kesana datang". Ujar si asisten.
"Iya, sebaiknya begitu.
Tapi. Takutnya warga di sana akan ingat denganku. bisa jadi orang tua Gita juga ada di antara mereka waktu itu". Ujar Dika meremas rambutnya.
"Kenapa?!". Tanya si asisten.
__ADS_1
"Karena aku dan wati di grebek warga waktu aku main di rumahnya". Jawab Dika.
"Hah!". Kaget si aaisten.
"Iya. Saat kuliah dulu dan waktu aku baru putus dari Gita. Aku sering main panas dengan teman atau junior kuliahku.
Salah satunya Wati ini. Dia teman juniorku yang sering aku pakai.
Dan aku sering main dengannya.
waktu itu aku diajak kerumahnya, katanya menjemput uang kuliah.
Dan waktu itu rumahnya hanya ada adiknya saja. maka dengan berani kami main siang hari di kamarnya.
Tapi, namanya rumah di kampung, tanpa pagar. bisa saja ada warga yang lewat di samping kamar wati mrndengar atau melihat kegiatan panas kami.
Dan kami langsung di grebek. Untung tidak dinikahkan langsung oleh warga. karena orang tuanya tidak dirumah.
Tapi kami harus membayar denda dan minta dinikahkan segera oleh orang tua kami". Jelas Dika.
Si asisten mengangguk paham. Ternyata bosnya memang tukang sebar benih.
"Sudah bayak juga anak bos kalau begitu. Tapi status masih perjaka di ktp". Ujat si asisten.
Asisten Dika memang sudah biasa berbicara santai. Karena hanya dia yang mau mengikuti keinginan Dika.
Asisten pertamanya sebelum ini tidak mau mengikuti Dika yang suka minta carikan wanita untuk...
"Apa bedanya dengan kamu. hanya saja belum ada yang mendatangi mengaku hamil". Ujar Dika.
"Aku selama ini main aman bos. Selalu memakai pengaman saat main. Kan aku tidak tahu juga nantinya. Bibit bos atau aku yang nempel.
Maklum, menikmati sisa bos juga ". Ujar si asisten.
"Bagaimana kalau mereka ingat dengan kelakuanku waktu itu ya. Pasti mereka akan keberatan jika aku melamar Gita". gumam Dika.
Dika melihat ke jendela kantornya. Memandang kota dari ketinggian.
Dia bingung. Jika Gita dan Wati bertetangga dari dulu. Tentu mereka saling kenal.
Bisa jadi saat pengrebekan ada orang tua atau kerabat Gita yang ikut. Dan tahu atau hafal wajahnya.
Dan ini membuat jalannya untuk melamar Gita terhalang.
"Bos masih punya senjata kok. Kan bu Gita hamil. Dan bos ingin bertanggung jawab atas kehamilan itu.
Pastilah mereka langsung menerimanya". Ujar si asisten.
Membuat Dika kembali bersemangat.
.
__ADS_1
.