
"Apa sudah di kerjakan?!". Tanya Andika pada orang yang membawa mobilnya tadi.
"Beres. Sudah di pasang". Jawabnya.
"Ok. Ini bayaranmu". Ucap Andika memberikan amplop pada orang itu.
"Alatnya langsung terhubung dengan ponselmu. Kamu download aplikasinya. Dan ini kode alat pelacak tang terasang pada mobil itu". Ucap orang itu memberikan kertas bertulis kode.
"Ok. Terima kasih atas kerja samanya".ucal dika.
Setelah orang itu pergi, andika memasukan nomor kode tadi ke ponselnya.
Dan.
'Kok belum terbaca ya?'. Gumam Andika.
'Ah. Mungkin sebentar lagi'. Pikirnya. Lalu dia pun pergi menuju mobilnya.
"tidak sholat dulu kamu dika?". Tanya seorang perempuan yang sudah memakai mukena.
"Nanti saja bi. Mau jalan dulu". Jawabnya.
"Tidak baik berjalan saat azan berkumandang. Sebaiknya shokat dulu. Mumpung sedang dekat mesjid". Ucap perempuan itu.
"Ah bibi. Aku mau..".
"Shilat dulu. Yuk bareng om kemesjidnya". Tiba-tiba seoramg pria paruh baya keluar kamar.
"Om saja kemesjid. Aku mau sholat disini saja". Jawab dika.
"Ok. Yang penting kamu itu harus sholat. Sudahi petualangan kamu bermain wanita.
Bagaimana kamu mau membimbing istri dan anakmu menuju jalan allah. Jika kamu masih suka masih suka celap- celup jesana kenari". Omel pria itu.
"Bibi lihat wanita tadi sangat baik. Pakaian tertutup, tidak seoeeti wanita yang sering kamu bawa". Ucap wanita yang di pangil dika bibi.
"Kamu pernah membawa wanita malam kesini?!". Tanya om dika.
"Tidak om. Aku tidak pernah bawa wanita malam kesini. Tidak...".
"Tapisering ke apartemenmu". Potong sang bibi.
"Kamu harus sadar dika. Kalau masih seperti ini. Akan berapa banyak anakmu lahir dari wanita tidak jelas. Hingga status anakmu juga di pertanyakan". Ucap om dika.
"Aku sedah nenemukan yang tepat om. Maka tadi aku berani bawa kesini". Ucap Andika.
"Semoga ini yang terakhir. Papa kamu sudah capek melihat perangai kamu.
Padahal keluarga dan kita tidak ada yang suka jajan. Dan semua punya anak yang jelas status mereka.
Kamu malah anakmu sudah tiga, tanpa status. Malu sama umur dan anakmu!. Kamu.."
"Ayo bi. Azan magrib hampir selesai". Potong sang istri.
"Belajarlah serius dengan perempuan. Biar kamu menikah dan ada pendamping.
Sholat dulu baru pergi". Ucap om Dika sambil keluar rumah. Menuju mesjid samping.
__ADS_1
Andika hanya mengangguk, saat om dan bibinya keluar mesjid.
Setelah terdengar imam mesjid membaca takbir untuk sholat, Dika pergi dari rumah itu. Tanpa melaksanakan sholat.
.
"Selesai bos".
Teriak sang mekanik dari bawah. Memperlihatkan kotak seperti ponsel. Dan juga beberapa kabel.
"Terima kasih!. Besok aku mampir kesana!". Jawab bang Guntur.
"Sip". Jawabnya.
Lalu para mekanik itu pergi dengan motor.
"Kamu percaya kan?". Ucap bang guntur.
Aku mengangguk.
"Siapa yang menyuruh memasang nya ya?". Gumamku.
"Kamu tadi pergi ke mesjid itu dengan siapa?. Bisa saja yang membawa kamu yang menyuruh". Tebak bang Guntur.
"Dika?". Gumamku.
"Siapa Dika?. Kenapa kamu bisa pergi kemesjid itu dengannya?". Tanya bang Guntur melihat kearahku.
"Dia wakil direktur baru. Baru hari ini masuk. Dia ingin aku menjadi sekretarisnya, tapi aku menolak.
Dia marah karena aku nenokak. Tadi dia juga mengajakku dengan kasar menggunakan mobilnya. Dan menyuruh seseorang membawa mobilku".
"Ti.. Tidak. Aku hanya diancam saja. Kalau aku tidak mau menjadi sekretarisnya, aku akan...".
"Berhenti saja bekerja. Aku tidak mau kamu dapat kekerasan. Atau sampai dilecehkan". Ucap bang Guntur.
"Iya.. Tadi aku sudah kepikiran untuk resign saja akhir bulan ini. Sebab aku sedang menyelesaikan lapiran bulanan". Ucapku.
"Akan bahaya Gita jika kamu masih di kantor itu. Aku cemas dia akan berulah!". Ucap bang Guntur.
"Inshaa Allah tidak bang. Aku bisa jaga diri". Ucapku.
"Tapi sepertinya atasanmu itu nekat. Lihat saja sekarang. Dia sudah berani memasang alat di mobil kamu". Ucap bang Guntur.
"Aku bertahan sampai akhir bulan bang. Dan akan cari kerja..".
"Kamu jadi ibu rumah tangga saja. Aku ingin kamu dirumah untuk menyambutku pulang bekerja". potong bang Guntur melihatku lembut.
"Aku.. Aku kan masih..".
"Kita menikah sehabis masa iddah mu.kamu tidak lupa kan?". Ucapnya.
"Aku tidak lupa. Tapi kan belum bang". Ucapku.
"Aku tahu itu. Kita menikah setelah massa iddahmu selesai.
Dan setelah menikah, aku ingin kamu fokus dirumah saja menjaga anak kita nanti.
__ADS_1
Kamu boleh bekerja dari rumah. Banyak pekerjaan yang bisa di kerjakan dari rumah". Ucap bang Guntur.
"Bang. Mikirnya kejauhan. Menikah saja belum sudah berbicara tentang anak". Ucapku kesal.
"Bismillah Gita. Inshaa allah kita akan di beri ananah anak oleh allah!". Ucapnya.
"Tapi bang. Aku takut abang kecewa. Aku kemaren dua tahun menikah. Tapi belum di karuniai anak.
Aku..".
Tiba-tiba bang Guntur memelukku dengan erat. Aku kaget di peluk bang guntur.
"Ak tidak akan masalah jika kita belum di karuniai anak. Apapun yang terjadi kedepan, aku ikhlas hidup denganmu". Bisiknya.
Aku jadi tersentuh, dengan ucapannya.
"Abang belum tahu aku bagaimana, dan sifatku seperti apa. bagaimana abang yakin kita menikah dan hidup bersama". Ucapku.
Berusaha mendorongnya. Dan melepas pelukannya.
Aku masih sedikit gamang untuk kelanjutan hubungan kami. banyak tentang aku yang belum dia tahu. Karena aku baru kenal dengannya beberapa bulan yang lalu, dan baru beberapa kali bertemu.
"Iya. Aku tidak tahu ribadi kamu, dan jamu juga begitu. Tapi tidak memungkiri untuk kita tidak bisa bersama. Aggab saja kita sedqng taatuf. Dan dijodohkan. pasti kita bisa saling menerima.
Kamu maukan menjadi pendampingku. Aku tahu kamu mungkin masih ragu. Karena aku pernah gagal berumah tangga.
Sekarang aku yakinkan ingin menua denganmu". Ucap bang guntur mengenggan kedua jemari tangganku.
"Sebelum kita menikah. Aku ingin kita bicara tentang diri kita sendiri. mungkin banyak rahasia tentang rumah tanggaku yang lalu. Aku tidak ingin abang tahu dari luar". Ucapku.
"Baik. kita harus terbuka dengan masa lalu kita. Mingkin ini bisa jadi pelajaran untuk masa depan rumah tangga kita kedepannya".jawab bang guntur.
Aku mengangguk. karena aku juga tidak ingin ada masalah kedepan, akan membuat pertengkaran.
"Kapan kita bicara bang?. hari ini sepertinya tidak mungkin. Aku sudah telat pulang". tanyaku.
"Selesai kta nenikah saja. Akan lebih leluasa bercerita". Jawab bang guntur.
"Masih lama bang. Aku...".
"Pokoknya kamu harus selalu siap kapan waktu itu tiba. Aku tidak ingin lama-lama untuk kita menikah.
Yang penting kita sah dulu secara agama. Dan yang lainnya bisa menyusul". Ucapnya tegas.
Kami saling pandang.
"Sholat dulu yuk. Azan sudah dari tadi". Ajaknya membimbing tanganku menuju ruang bos restoran.
"Kita sholat di musholla ruang bos saja. Di musholla pasti ramai". Tambahnya.
"Di musholla saja bang. biar...".
"Tidak apa. Tidak akan ada yang marah kok". Ucapnya santai.
Aku akhirnya aku mengikuti saja.
.
__ADS_1
.