
"Siapa gita?". Tanya seseorang yang duduk bersama Gita.
Gita sedang duduk dengan seorang laki-laki yang usianya datas gita. Dan seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Gita.
"Mantan bos ku pak Win. Dia wakil direktur baru yang aku ceritakan tadi". Jawab Gita.
"Oo. Pantas dia ingin kamu menemuinya, mungkin ingin menanyakan, kenapa kamu resign dari kantornya". Jawab yang di angil pak Win oleh Gita.
"Aku malas untuk menemuinya. Pasti dia akan memaksaku untuk balik. Dia itu orangnya pemaksa. Makanya aku langsung keluar dari perusahaan itu". Jawab Gita.
Dia tidak mungkin bilang tentang pelecehan itu. Karena itu aib untuk dirinya.
"Lagipula kamu kan sudah disuruh papa kamu untuk memimpin perusahaan cabang disini.
Tidak ada alasan dia minta untuk balik bekerja di perusahaannya". ujar pak Win.
"Iya. Kedudukan kamu juga akan menjadi pimpinan di perusahaan cabang". Tambah yang wanita.
"Kenapa kamu tadi tidak langsung ke kantor saja. Kita bisa bicara lebih leluasa di kantor". Ucap pak Win.
"Aku tadi ingin kekantor. Tapi waktu aku menelfon ke kantor kata bu Fitri bapak ada rapat saat makan siang.
Makanya aku ingin kita bertemu disini biar sedikit santai. Dan juga kebetulan aku mau makan siang". Jawab Gita.
"Ya terserah kamu sajalah. yang penting kamu mau memimpin perusahaan cabang. Seperti pesan papamu". Ujar pak win.
"Itu yang ingin aku bicarakan dengan bapak.
Aku jangan langsung jadi pimpinan di perusahaan cabang pak. Aku masih butuh belajar.
Biar seperti biasa, bapak yang memimpin". Ujar Gita.
"Tidak bisa Gita. Bapak akan mengantikan pimpinan cabang di kota d. Sekarang perusahaan cabang disana sedang butuh bapak.
Perusahaan disana sedang ada masalah. Dan bapak ditarik papa kamu kesana. Dan kamu yang memimpin kantor cabang disini". Jelas pak Win.
"Alu masih butuh bimbingan pak. Tidak bisa langsung memimpin". Jawab Gita.
"Kamu akan langsung di bimbing Fitri. Dan sekretaris bapak juga bisa membantu kamu untuk sementara". Jawab pak Win.
"Baik pak. Terima kasih.
Tapi sebelum bapak pindah ke kantor cabang, aku mau bapak ikut membimbingnku". Ujar Gita.
"Itu pasti. Karena aku akan pindah bulan depan. Dan selama sebulan ini akan aku usahakan membimbingmu.
Besok langsung saja datang ke kantor. Biar semua tahu kalau kamu yang akan memimpin oerusahaan cabang disini". Jelas ak Win.
__ADS_1
"Baik pak". Jawab Gita.
"Kalau begitu kami balik kekantor dulu". Ujap pak Win.
"Aku sekalian pulang saja pak". Jawab Gita.
Ikut menghabiskan minumannya.
Sementara itu, Dika yang sedang rapat melihat Gita dari kejauhan.
Obrolan dengan kliennya membuat dia sesekali melihat kearah meja dimana Gita duduk.
Untung sang asisten siap siaga saat klien rapat bertanya.
Untung klien itu yang mau bekerja sama dengan perusahaan Dika. Kalau tidak, pasti mereka akan membatalkan kerja samanya.
Melihat Dika yang tidak dapat untuk konsentrasi rapat.
"Terima kasihatas waktu yang diberikanpada kami" ujar klien bisnis Dika.
"Terima kasih kembali pak. Kami akan mempelajari berkas dari perusahaan bapak". Jawab sang asisten.
"Semoga kita dapat bekerja sama kedepannya". tambahnya lagi.
Sementara sang asisten sedang berbicara dengan klien. Dika makah tidak lepas pandangannya dari Gita.
Dia langsung berjalan menuju tempat Gita duduk. Karena melihat Gita akan berdiri dan akan pergi.
"Gita kita bicara dulu. Duduklah". Ucap Dika.
Dia menarik tangan Gita agar duduk kembali.
"Maaf pak. Saya harus...".
"Sebentar Gita. Aku mau bertanya padamu". Potong Dika.
"Ok. Lima menit. Aku sedang buru-buru". Ucap Gita melepaskan pegangan tangan Dika.
Dia masih kesal dengan perbuatan Dika dua minggu yang lalu. Berusaha lagi untuk melecehkannya lagi.
Untung ada ob yang membatunya dari perbuatan keji Dika.
Lalu Gita duduk di seberang meja tempat Dika duduk.
"Mau bicara apa?". Tanya gita tanpa basa basi.
Mereka duduk berhadapan. Dan saling melihat.
__ADS_1
"Kenapa kamu resign. kan sudah aku bilang, kalau kamu itu akan jadi sekretarisku". Ucap Dika.
"Aku resign karena ingin membantu usaha orang tuaku. Bukan karena apa. Memang sudah waktunya aku untuk mengundurkan diri dari pekerjaan". Jawab Gita.
"Apa kamu yakin untuk resign?. Aku akan menerimamu kembali di perusahaanku. Dan jadi sekretarisku". Tawar Dika.
"Aku tidak bisa. Aku sudah...".
"Jangan menolakku. Apa kamu tidak takut. Aku bisa menyebar vidio kita sedang...
Ah... Kamu pasti mengerang nikmat saat itu". ujar Dika pelan.
Mencondongkan wajahnya ke arah Gita. Dia juga mengucapkan sambil menyengir kearah Gita.
"Jangan terlalu percaya diri pak. Apa bapak yakin punya vidio itu.
Dan juga, apa pak Dika yang terhormat yakin jika aku yang bapak kungkung hari itu.
Karena aku tidak merasa melayani bapak". Ucap Gita menantang.
"Sangat yakin. Karena kamu meminum teh yang aku beri obat perangsang. Dan aku yakin itu.
Ruanganku yang jadi saksinya. Banyak tumpahan perbuatan cinta kita.
Tentu ada bukti vidio yang akan aku pakai untuk menarikmu untuk kembali keperusahaanku". Jawab Dika santai.
"Oo silahkan. Ada atau tidak vidio tersebut. Aku tidak akan kembali. apalagi jika pak Dika juga bekerja disana.
Tambah tidak ada keinginanku untuk kembali bekerja disana". Jawab Gita menantang.
"Jangan terlalu percaya diri. Sebelum vidio itu beredar. Sebaiknya...".
"Maaf. Tidak berminat". Jawab Gita berdiri dari duduknya.
Dia akan pergi dari sana. Karena sudah malas melayani Dika. Sang bos mesum.
"Aku beri waktu samai malam ini. Dan aku tunggu di kantor besok.
Kalau tidak...".
"Terserah. Aku tidak takut". Jawab Gita.
Berlalu dari cafe itu.
Dika hanya tertegun dengan sikap Gita. Yang merasa tidak takut dengan apa yang dia ucapkan tadi.
.
__ADS_1
.