
"Anna!!. bareng aku saja. kita searah kok!!". tawar hani.
"Tidak usah kak terima kasih. Aku minta antar mama saja, bang guntur juga ada kok!". jawab Anna.
Terdengar penolakan Ann pada Hani.
Aku tidak tahu. mengapa anna menolak ajakan Hani. padahal mereka kan sudah saling kenal.
Hani saja sudah hampir setahun tinggal disini. sedangkan aku belum satu bulan, anna sudah lengket denganku.
Aku mengemas berkas yang tadi berserakan. pelengkap aktingku yang seolah sibuk.
"Apa sih yang kamu bilang pada Anna?!. kok dia tidak mau nebeng denganku?!".
Tiba-tiba Hani berdiri di depan pintu kamar kosanku.
"Lah.. mana aku tahu!!. kan aku disini bekerja!". tunjukku pada berkas yang aku pegang.
"Pasti kamu larang dia. untuk tidak menerima tawaranku. dasar kurang ajar. tidak tahu malu!.
Aku sudah lama menunggu kesempatan untuk dekat dengan keluarganya. Eh datang pelakor genit yang mau jual diri menganggu!!". semprot hani judes.
Membuat telinggaku panas. dan hatiku sakit.
"Hei.. jangan mentang-mentang aku diam, kamu seenaknya berkata julit. itu mulut minta di tabok kulit durian. biar tahu sakit bagaimana tajamnya lidah kamu setajam kulit durian!". jawabku kesal.
"Kamu mau apa. kan memang kamu yang merampas bang guntur dariku!. hingga dia mau menerima kamu.
Apa kamu menjebaknya denga rencana kotormu, agar dinikahi.
Pelakor setara pe....ur!!". ucapnya bengis.
"Jaga mulut kamu!". ucapku emosi.
"Tidak perlu menutupi perangai kamu. Kamu pasti suka bekerja plus-plus dengan para bos, agar bisa membeli mobil mewah dan tas mahal.
Aku tahu kamu hanya karyawan biasa yang datang dari daerah. Dan untuk hidup di kota harus mencari tambahan menjual diri!". mulut pedasnya semakin tidak terkontrol.
"Oo.. jangan-jangan itu pekerjaan kamu yang kamu ucapkan. tapi berkilah menuduh orang.
Dasar wanita ular!". jawabku terpancing emosi.
Akibat suara Hani yang keras dari tadi marah dan menghina, banyak tetangga yang keluar melihat kehebohan pagi.
Padahal baru pukul tujuh pagi, masih banyak yang belum berangkat bekerja.
Juga teman kosan yang lain ikut keluar. Ibu dan bapak kos juga mendatangi kamarku.
"Ada apa ini?!". tanya ibu kos.
"Dia bu. usir saja dari sini. Sudah jelas baru tinggal disini, sudah merampas hak orang.
Aku tidak terima jika dia masih tinggal disini. Akan banyak laki-laki yang akan dia selingkuhi.
Dia itu pelakor bu!!". teriak Hani, seperti kesetanan.
__ADS_1
Aku saja sampai tergangga mendenga ucapan pedas dan julid nya dati tadi. padahal yang aku lihat, dia itu pendiam.
"Jaga mulut kamu hani!". ucap ibu kos marah.
"Tapi benar bu. kalau tidak pelakor bagaimana bang guntur mau saja dengan dia. pasti dia main kotor!.
Dan dia itu baru di sini. pasti dia ada main belakang untuk mengaet bang Guntur!". ucap Hani tidak mau kalah.
"Cukup. Apa kamu tidak malu!. pagi-pagi di tonton warga!". ucap ibu kos menunjuk sekitar.
Sudah ramai waga yang melihat. Ada yang melihat dari halaman mereka, juga teras mereka. bahkan juga mendekat ke rumah buk rt, sang ibu kos.
"Kok Hani jadi begitu?!". bisik mitha berdiri dekat ku.
Ada juga oliv dan Silvia yang akan berangkat bekerja.
"Tidak tahu!". jawabku.
"Awalnya bagaimana. kok bisa marah dan judes begitu!". tanya Silvia.
"Anna tidak mau ikut tebengan dengannya!". jawabku.
"Oooo...!". jawab mereka serentak.
Hingga ibu dan bapak kos melihat kearah kami.
"Kalian berangkat sana!. nanti telat!". ucap bapak kos.
"Baik pak!". jawab Mitha, Oliv dan Silvia.
"Iya pak!. agak telat berangkat!". ucapku.
"Sana bersiap!. nanti telat pergi!". ucap bapak kos.
"Sekalian usir dia dari kosan ini pak. kalau bisa keluar dari komplek ini!. agar warga tenang!". potong Hani.
"Kamu...!".
"Maaf kalau calon menantuku bikin masalah!". tiba-tiba mama Bang guntur datang memotong ucapan bu rt.
Membuat bisik-bisik dari tetangga yang mendengar.
"maksudnya apa buk?!". tanya salah satu warga yang ada di depan pagar.
"Gita adalah calon istri anakku Guntur. Mereka akan menikah minggu besok secara siri dulu. untuk menghindari ucapan jelek yang tidak bertanggung jawab.
Karena mereka akan sering pergi bersama. mengurus surat di instansi Guntur. Dan akan menikah secara negara bulan depan.
Makanya aku menitip Gita untuk kos disini dulu. tidak baik langsung kami ajak tinggal dirumah kami!". ucap mama bang Guntur menjabarkan.
Kok dia membelaku. apa...
"Tidak bisa bu. Bang Guntur itu milikku!. tidak boleh menikah dengan Gita!!". ucap keras Hani.
"Itu pilihan Guntur sendiri. Kami hanya menerima keputusannya!". jawab mama bang Guntur.
__ADS_1
"Akan Aku gagalkan!!". teriaknya emosi.
Bahkan sampai mengila, melempar semua yang ada dihadapannya.
Lalu dia menyerang dan melempar gita dengan sebuah pot bungga gantung milik buk kos.
Hingga mengenai kening Gita.
Untung pak kos cepat memegang Hani, dan membawanya masuk kerumah. dan juga di bantu Mitha, oliv, dan Silvia yang belum semoat berangkat bekerja .
Hani meronta minta di lepas dan berucap kotor dan judes.
Mama bang guntur dan beberapa ibu-ibu menolong Gita yang luka pelipisnya.
"Bawa ke dokter buk!". ucap salah satu warga.
Mama bang guntur melap darah yang mengalir di keningku dengan tisu.
"Biar aku panggil Rendra saja!". ucap buk kos.
Memanggil putranya yang juga dokter.
"Tidak usah bu. aku punya obat dan plaster!". ucapku.
Tapi tidak mendengar teriakannku.
"Bu. sebaiknya langsung ajak pindah kerumah ibu saja calon mantunya bu. Disini sepertinya tidak aman!". ucap salah satu tetangga.
"Benar bu!. Kan juga akan menikah beberapa hari lagi. Kami percaya ibu bisa menjaga calon menantu ibu!". tambah yang lain.
"Iya bu. kami setuju bu!. biar aman. Guntur pasti juga amanah menjaga anak gadis orang!". ucap yang lain.
Banyak yang setuju kalau aku di pindah ke rumah bang Guntur.
"Mana kunci mobil kamu. biar aku pindah ke rumah ibu mertua kamu!". ucap salah satu bapak yang memakai baju rapi, khas kantor.
"Tidak usah pak, bu. aku pindah minggu depan saja!". tolakku.
Risih untuk tinggal di rumah orang tua bang guntur yan mana kami belum ada ijatan status.
"Bu, selesai luka calon menantunya bantu berkemas saja. ada beberapa ibu yang lain akan bantu!". ucap bapak itu lagi.
"Siapa yang luka pak, bu!?". tanya Rendra datang dengan alat medis yan obat.
"Ini. nak...".
"Gita?!". Ucap Rendra.
Aku hanya diam, tak menangapi ucapan Rendra.
.
.
.
__ADS_1