Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
BAB 177


__ADS_3

"Aku akan layani kamu. Tapi izinkan aku memegang ponsel dan lindungi aku". Ujar Indri bernegosiasi.


Siang itu Seorang intel sedang mengunjungi sel Indri. Karena dia sedang melakukan misi.


"Tubuh bekas begitu mana menarik. walaupun aku suka jajan. Tapi aku pilih-pilih yang bersih dan steril.


Kamu sudah berapa ratus burung yang sudah mencatut sarangmu. Pasti sudah longgar". Ujar intel itu meremehkan Indri.


Telingga indri panas mendengarnya.


"Walaupun aku sering di pakai, tapi mereka selalu ketagihan. Hingga selalu minta ulang". Ujar Indri promosi.


Agar intel itu mau diajak bekerja sama.


Dia yang sudah beberapa malam di sel, preman datang tiap tengah malam untuk memperkosanya.


Walau hanya satu orang saja. Beda dengan tahanan kemaren yang di perkosa ramai-ramai. Karena dendam istri polisi.


Tapi waktu itu si polisi malah panik membawa wanita itu, yang ternyata dia kenal. Tapi Indri tidak tahu kabar dan keadaannya sekarang.


"Coba buktikan padaku. Tapi aku ingin kamu mandi dulu biar steril.


Nanti pukul tujuh aku akan datang menagih janjimu". Ujar intel itu.


Dia akan mencari info dari indri yang termasuk kaki tanggan sang gembong besar. Karena menurut rekan sesama kurir yang tertangkap.


Indri yang lebih tahu dan dekat dengan gembong besar itu. Juga Indri sudah beberapa kali pergi dengan gembong itu. Kerumah pribadi juga ke tempat rahasia.


Kemaren polisi merasa senang sudah menangkap gembong itu. Tapi ternyata bukan gembong sebebarnya yang di tangkap. Hanya orang dalam sebagai pengecoh. Dan gembong aslinya dapat kabur.


Makanya intel itu ingin mencari tahu secara mendalam dari indri.


Dengan bersemangat indri mandi, membersihkan diri di kamar mandi sel itu. Apalagi dia baru saja selesai di periksa dan dinterogasi. Gerah.


Dia bersemangat bukan akan melayani intel itu. Tapi embel- embel yang menguntungkan. Jika intel itu puas, dia bisa menggunakan ponsel. Dan minta perlindungan agar tidak ada penyusup tengah malam untuk memperkosanya.


Dan juga Indri bisa meneror Dika jika ponsel ada di tangannya. Memanfaatkan Dika untuk kepentingannya.


Sang intel yang memang maniak *** menunggu Indri yang katanya mau melayaninya. Gratis lagi. Hanya minta bisa membawa ponselnya ke sel.

__ADS_1


Intel itu pergi keluar meninggalkan indri yang sedang mandi. Menjemput ponsel ke mamanya Indri. Yang akan mengantarkan ke kantor polisi.


.


"Rasanya aku akan puas jika milik kamu tidak bisa bangun. biar tahu rasa". Ujar Gita memandang Dika.


Dika yang terlihat pucat dan mengigil. membayangkan pusaka kebanggaannya akan di bunuh.


Tidak bisa lagi melakukan yang enak-enak.


Lain Dika yang terlihat ketakutan mendengar ucapan Gita. Guntur malah tertawa di dalam hati. Melihat Dika yang tidak bisa berkata-kata.


Padahal dia dan istrinya akan menghukum Dika dengan cara bekerja tepat waktu, biar dia tahu bagaimana jadi anak buab yang selalu di oerintah dan dimarahi.


Guntur dan Gita sudah merencanakan Dika untuk mengurus proyek yang baru mereka sepakati. Tapi dengan waktu terbatas.


"Aku ingin kamu mengurus proyek yang baru saja di sepakati.


Kamu harus terjun langsung kesana dan jangan sampai kamu korupsi atau menyalahi aturan.


Waktu yang sudah kita sepakati di surat kontrak. selama delapan bulan dan itu harus selesai.


Jika kamu macam-macam tunggu saja penjara menantimu". Ujar Gita.


Dika yang semula senang akan turun langsung mengurus proyek di pulau k. Dengan begitu Indri tidak bisa menelfon atau menyuruh mama atau pengacaranya menemui dirinya.


Tapi mendengar kalau proyek itu harus selesai selama delapan bulan sangat mustahil.


Pembangunan tahap pertama saja lima bulan. Tidak mungkin tahap kedua selama tiga bulan.


Biasa pembangunan gedung lima lantai seperti yang akan di rencanakan memakan waktu satu setengah tahun atau lebih.


Tapi ini delapan bulan. pasti harus di kebut dan menurunkan banyak biaya dan tenaga kerja untuk pembangunannya.


"Apa tidak terlalu singkat waktu yang disepakati?. Kan pembangunan biasa lebih satu tahun hingga selesai". Tawar Dika.


Dia berusaha menawar.


"Kamu kerjakan saja.

__ADS_1


Tapi selama di sana kamu tidak boleh bertemu dengan siapapun. Juga tidak boleh memegang ponsel.


Asisten kamu juga akan datang sekali sebulan. Sebab kamu bekerja dibawah kendali perusahaan kami, dengan karyawanku". Ujar Gita.


Dika terdiam. Mendengar keterangan Gita


'Ini sama saja dengan di penjara. Tapi tidak apalah, dari pada di penjara beneran di kota ini. Pasti akan bertemu Indri.


Kalau di suruh bekerja di proyek pasti aku masih bisa enak-enak walau diawasi anak buah Gita'. Pikir Dika.


Ketika Dika berfikir yang enak- enak di sana. Asistennya masuk ruangan mengikuti asisten Gita.


"Kamu diskusikanlah dengan asistenmu juga pimpinan perusahaan kamu.


Kalau kamu setuju, besok siang kamu akan berangkat dengan tim dari perusahaanku.


Kalau kamu menolak, sore ini akan langsung diantar je kantor polisi". Ujar Gita mengancam.


Asisten Dika melihat bosnya. Tidak tahu maksud yang di ucapkan Gita.


Gita membantu Guntur untuk berdiri. Mereka berjalan menuju pintu keluar ruang rapat.


"Oh ya. Kalian bicarakan disini. Satu jam lagi keputusan sudah ada.


Dan serahkan semua kartu identitas kamu juga ponsel pada asistenku. Biar kamu tidak kabur". Ujar Gita sebelum keluar dari ruang itu.


Asisten Gita mendekat ke tempat Dika duduk dan mengarahkan tangannya.


Dengan berat hati Dima memberikan dompet dan juga ponselnya pada Asisten Gita.


"Periksa dulu, biar tahu apa saja yang ada. Nanti kamu bisa protes jika ada yang hilang. Kalau bisa foto, untuk bukti". Ujar asisten Gita.


Menyuruh asisten Dika memeriksa. Asisten Dika melihat domlet bosnya dengan hati-hati. Tidak tahu maksud semuanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2