
Kenapa beda cerita ya. apa yang diceritajan Silvia bukan abang Anna yang bernama Guntur. kan kata anna abangnya ada juga yang kembar.
"Kamu pasti belum pernah bertemu dengan abangnya itu. Kamu kan baru dua minggu kos disini ya Gita.
Dia itu sudah hampir setahun tinggal disini. katanya dia bercerai dengan istrinya. dan dia bawa anak bayinya. kurang tahu juga apa masalahnya!". ucap silvia.
"Kamu tahu tidak. padahal aku sudah beberapa kali menyapanya, modus ingin kenalan. eh dia cuek dan diam saja.
Beberapa bulan dia tinggal disini. aku beranikan nembak dia.
Aku juga sudah terang-terangan mencari info tentangnya melalui ibu rt, agar bisa bicara nyambung dengannya. eh malah dapat tatapan dingin darinya yang membuat aku sangat penasaran!". cerita Silvia lagi.
"Abang Anna berapa orang sih Sil?!". tanyaku.
Padahal anna sudah cerita semalam tentang keluarganya.
"Tiga orang. yang besar polisi. Bang guntur namanya. dinas di polres kota sebelah.
Juga ada si kembar yang sedang kuliah atau atau sudah bekerja ak tidak tahu!". jelasnya.
"Oh iya. kamu kok bisa kenal dengan Anna. aku sering lihat dia datang ke kamar kamu tiap pagi!.
Padahal aku yang hampir dua tahun kos disini sangat susah untuk berkenalan dengannya dan keluarganya.
karena mereka sangat pendiam, walau ibunya ramah jika di sapa!". tambah Silvia bertanya.
"Aku kenal waktu itu saat dia berjalan di depan menuju gerbang perumahan. katanya dia di tinggal abangnya saat akan berangkat sekokah.
makanya aku tawarkan untuk nebeng mobilku. Dan malah keterusan. karena waktu berangkat kami bersamaan!". jelasku.
"Hati-hati saja. bisa jadi kamu dimanfaatkan saja karena ingin nebeng!". ingat silvia.
"Tidak masalah kok sil. kan aku juga sambil lewat juga!". jawabku.
Kami terdiam sebentar, karena Silvia menyelesaikan sarapannya.
"Kamu kerja dimana Gita?!". tanya silvia saat selesai sarspan.
"Di perusahaan central media!". jawabku. "Kamu!?". tanyaku pada silvia.
"Aku bekerja di hotel Pasific inn. Di bagian marketingnya. makanya aku sering keluar kota untuk acara.
Dan aku kos di sini semenjak baru bekerja di sana. Aku sangat betah tinggal di sini, selain lingkungan juga ibu rt sangat baik!". jawabnya jelas.
Aku mengangguk paham.
__ADS_1
"Makanya waktu abang Anna pindah kesini aku tahu. dan juga tahu cerita dia saat ibunya anna bercerita pada buk rt tentang kembalinya dia tinggal disini.
Tapi sudah hampir setahun carper sama pak polisi malah belum dapat apa-apa. Sangat sulit untuk di taklukan.
Padahal aku berharap bisa mengaet abang polisi ganteng menjadi imamku, walau statusnya duda. tidak masalah buatku!". Silvia menopang dagunya seperti membayangkan yang jauh.
"Kamu jangan sampai bertemu dengannya ya gita. kalau kamu bertrmu dengannya aku bisa kalah saing denganmu.
Secara pasti dia pasti memilih kamu jika sempat bertemu dengannya.
Kalau bisa kamu jangan tebar pesona jika kebetulan bertemu denggnnya!".ucap Silvia.
"Pak polisi.. pak polisi.. halalin adek bang. adek tidak bisa tidur, selalu ingat abang.
Tidak enak makan selalu ingat abang. tubuhku kurus karena selalu ingat abang!". ucap Silvia berdendang sumbang.
Aku tersenyum saja melihatnya. tidak tahu mau bicara apa. Cukup menghibur juga melihat orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
Sedang senyum sendiri melihat Silvia galau. datang dua penghuni kos bergabung untuk sarapan.
Mungkin karena hari minggu jadi telat bangun, juga telat untuk sarapan.
"Kenapa?!. galau lagi!. dicuek kan pak polisi!". ucap Oliv.
Juga ada hani yang paling pendiam diantara semua. Satu lagi ada Mitha. belum turun sepertinya.
Aku hanya tersenyum menanggapi mereka.
"Sudah sarapan gita?!". tanya mereka.
"sudah!". jawabku.
Diantara semua mereka memanggil namaku aku tidak masalah juga. bisa jadi kami seumuran semua.
"Sudah jadi pemandangan biasa itu gita. galau dengan pak polisi ganteng yang berada di rumah depan.
Mungkin tadi lagi carper, eh masih di cuekin doi!". ucapnya.
"Aku masih berjuang Oliv, sebelum janur kuning melengkung di depan rumah polisi pujaanku. aku masih bisa berharap bisa menaklukan dingin dan datarnya pak polisiku ".ucapnya bersemangat.
"Semoga. tapi jangan sampai patah hati jika sang polisi ganteng lebih memilih diantara kami!". tiba-tiba mitha duduk bergabung di meja makan.
"Ish. jangan curang. kan aku yang duluan yang naksir pak polisi itu. karena paling lama menjaganya dan mendo'a kannya!". ucap silvia.
"Lama atau tidaknya kenal tidak jadi jaminan untuk bersama. jadi jangan kamu halangi juga yang sedang naksir diam-diam!". ucap mitha.
__ADS_1
"Siapa yang naksir polisi gantengku dengan diam-diam?!". tanya Silvia.
Mitha dan Oliv menunjuk Hani bersamaan dengan sendok nasi gorengnya.
Aku tersenyum melihat kehebohan mereka berebut sang polisi, yang diakui dingin, datar dan cuek. menjadi rebutan.
Mungkin jika dia tahu kalau sedang di perebutkan, pasti akan sombong bergaya. Apa dia akan tersenyum usil juga.
Secara kata mereka sang polisi tidak pernah tersenyum. pasti akan jadi kejadian langka melihatnya.
"Ah Hani. kok kamu juga naksir polisi gantengku?!". rajuk Silvia.
"Cinta datang tanpa di undang Sil. Dan Hani sering mencuri waktu untuk melihat sang polisi saat lewat.
Walau kadang pura-pura kewarung untuk sekedar melihat sang polisi yang sedang berada di halaman nya!". ujar mitha.
Membuat wajah Hani memerah. Malu.
Karena sibuk saling debat tentang polisi idaman mereka, tiba-tiba buk kos memanggil.
"Gita.. ada yang mencari!". ucapnya dari depan.
Aku berniat berdiri.
Dan
"Gita sayang... calon istriku!".
Terdengar dari teras samping. tepatnya di depan paviliun, kamar kosan ku.
Semua memandang pintu samping, arah kamarku.
"Bang guntur!!".
"Polisi gantengku!"
Bang guntur yang mendengar namanya di sebut. memasuki ruang makan tempat semua sedang sarapan. melihatku dengan tenang dan sedikit senyum penuh arti.
Dan
Mereka berempat memandangku bersamaan.
"Gita... kamu!!!!".
Kaget mereka, saat bang guntur langsung mengengam jemariku erat.
__ADS_1
"Kenalkan. aku calon imam Gita. bulan depan kami akan menikah. Do'akan kami agar lancar sampai hari H.