
Dari pagi sampai istirahat siang Gita bekerja seperti biasa. Tidak ada gangguan.
"Semangat sekali kamu bekerja Gita. Pantas di tarik jadi sekretaris wakil direktur". Ucap salah satu rekan kerja gita yang duduk di ujung ruangan.
"Biasa saja kok. Aku hari ini sedang happy. Makanya aku bersemangat menyelesaikan pekerjaanku". Jawab Gita.
Tidak mungkin dia bilang akan resign pada rekan kerjanya.
"Kalau kak Gita tidak mau jadi sekretaris wakil direktur, usul namaku kak. Aku ingin naik kelas hehe... ". Ucap vivi salah satu rekan kerja gita. Yang duduk di depan Gita.
"Boleh kok Vi. Kamu datangi pak hamidi. kamu bisa ikut tesnya". Ucap Gita.
"Kok tes?. Kak Gita malah ditawar kan". Ucapnya.
"Itu aku kurang tahu sih. Mungkin karena aku sering bantu pak bos divisi kita". Jawab Gita.
"Kenapa tidak mbak jenny yang di tawarkan untuk sekretaris wakil direktur?. Kan mbak jenny sudah biasa jadi sekretaris pak bos divisi kita". Ucap vivi.
Gita menopang dagunya. Berfikir. Jawaban apa yang akan di jawab. Kenapa dia yang ditawarkan untuk jadi sekretaris wakil direktur itu.
Tidak mungkin juga bilang Andika sang wakil direktur itu adalah mantan pacar yang brengsek. Atau dia yang minta pada papanya. Tidak mungkin.
"Bisa jadi mbak Jenny sudah di rencanakan untuk mengantikan pak bos. Makanya aku yang di usulkan". Ucapku menebak.
Vivi mengangguk. Mingkin paham. Aku lalu melanjutkan pekerjaanku. Agar cepat selesai.
Tapi lewat pukul tiga siang menjelang sore. gita malah di panggil keruang wakil direktur.
"Kok aku dipangil lagi sih. Kan aku sudah menolaknya!". Gumam gita kesal.
'Akan ku coba usulkan vivi saja nanti, Sepertinya dia tertarik untuk jadi sekretaris wakil ditektur'. Gumam gita.
Dengan engan Gita menuju ruang wakil direktur. Karena dia sangat berat untuk memasuki ruangan itu.
"Eh maaf". Ucap Gita saat tanpa sengaja menabrak seorang ob.
Yang sedang membawa minuman dengan nampan. Hingga hampir tumpah gelas kopinya. Untung sudah kosong isi gelasnya. Tapi tutup gelasnya jatuh.
"Eh iya. Saya yang minta maaf mbak. Saya sedang tidak fokus berjalan". Jawab sang ob sedikit gugup.
"Tidak apa-apa, kita sama-sama tidak fokus". Jawab marni.
membantu mengambil tutup gelas yang jatuh, bersamaan dia mengambil.
__ADS_1
"Bersikap santai mbak cctv mengintai. Jangan minum apapun dalam ruang pak dika nanti". Bisik sang ob cepat saat mereka sama-sama menunduk.
"Eh!". Ucap Gita kaget.
"Maaf mbak. Hanya memberi tahu mbak". Ucapnya pelan sambil menunduk.
"Tidak apa-apa. Terima kasih". Jawab sang ob.
Sang ob menunduk santun sambil mengerjapkan beberapa kali matanya yang tertutup topi.
Lalu berlalu dari depan Gita. Gita berusaha bersikap santai, seperti ucapan ob tadi. Berjalan menuju ruang sang direktur.
Tapi dia masih kepikiran ucapan sang ob. Harus hati-hati, dan jangan minum di ruang wakil direktur.
'Ada apa?. Apa Dika menyuruh ob menaruh racun diminuman atau... Ah.. Mungkin obat perangsang.
Oh brengsek dika. Awas saja jika itu terjadi. Aku usahajan untuk tidak minum'. Gumam Gita.
"Sikahkan bu". Sambut sang Asisten Dika menyambut Gita.
"Terima kasih". Jawab Gita.
Mereka masuk bersama-sama. Dika sedang duduk di kursi kebesarannya, menghadap Gita yang baru masuk.
Tinggallah mereka berdua setelah sang asisten keluar ruang wakil direktur.
Gita masih berdiri di depan mrja kerja sang bos. Karena dia risih berdua di ruang itu.
"Silahkan duduk. Aku ingin bicara serius dengan kamu". Ucap Dika menunjuk sofa yang ada di ruang kerja wakil direktur.
Lalu dika berpindah duduk ke sofa singel besar. Dia membawa sebuah berkas tebal. Dan meletakan diatas meja.
Gitapun duduk di sofa singel seberang Dika duduk.
"Pindahlah kesini. Aku tidak memakan orang kok. tapi kalau kamu mau aku makan. Aku tidak menolak". Ucapnya.
"Saya di sini saja pak". Tolak Gita. Memanggil pak pada Dika untuk menghormati.
"Jangan cangung begitu. Seperti pada siapa saja. Ayo sini duduk". Ucap Dika menyuruh Guta duduk di sifa panjang samping dia duduk.
"Di sini saja pak. Aku masih ada kerjaan yang belum selesai. Ada apa ya aku disuruh datang kesini?". Ucap Gita tanpa basa basi.
"Biar saja pekerjaan itu, serahkan saja pada yang mengantikan kamu. Aku mau kamu segera jadi sekretarisku mulai senin besok.
__ADS_1
Ini berkas yang akan kaku dalami sebagai sekretarisku.
Dan...".
"Permisi pak. Minumannya!". Ucap seorang setelah nengetuk ointu ruangan wakil direktur.
Ob yang tadi bertemu dengan gita yang sekarang membawa dua cangkir teh.
"Silahkan pak.
Silahkan buk". Ucap ob itu.
"Terima kasih". Jawab gita.
Sang ob sengaja memandang mata Gita saat meletakan tehnya di meja depan Gita. Terlihat matanya memandang Gita lembut, dengan mata sedikit di sipitkan.
Gita paham. Mungkin dia kembali mengingatkan. 'jangan minum'.
Gita hanya mengangguk. tanda dia mengerti kode sang ob.
Setelah ob tadi keluar. Dika pindah duduk ke sofa panjang dekat Gita. Dia memberikan berkas yang dia bawa tadi.
"Silahkan diminum dulu. Biar kita bicara santai". ajak Dika.
Menyuruh Gita minum. Dan dia minum terlebih dahulu. Teh yang dihidang sang ob tadi.
Gita pura-pura sibuk membaca berkas yang Dika berikan. Tidak mau minum, takut...
"Gita. Bacanya bisa nanti. Santai saja". ucapnya Masih terus menyeruput tehnya.
"Minumlah!" ucapnya meletakan cangkir di meja.
"Baik". Ucap Gita.
Dengan Ragu Gita memajukan tubuhnya. Untuk mengambil cangkir...
Dan tiba-tiba ponsel Dika berbunyi di meja kerjanya. Bergegas dika menuju meja kerjanya.
.
.
.
__ADS_1