
"Assalamualaikum bang. Bagaimana keadaan abang sekarang?". Tanya Gita.
Ternyata ibunya tadi menelfon ayahnya untuk mengabarkan kalau Guntur akan di pindah rusngan.
Sekarang mereka masih di ruang igd khusus. Di sebuah kamar yang di jaga ketat oleh beberapa polisi di depannya.
Dan Guntur minta berbicara dengan istrinya, dia ingin mengabarkan kalau dia tidak apa-apa pada istrinya, yang pasti cemas.
Takut kejadian seperti almarhum suaminya dulu kecelakaan.
"Alhamdulillah sayang, abang tidak apa-apa. bahu kanan abang yang bergeser. Lalu pegelangan juga terkilir.
Mungkin saat jatuh tangan abang menahan terlalu keras". Jelas Guntur.
Ya, Guntur hanya cedera dan beberapa persendian terkilir.
"Aku akan kesana...".
"Jangan dulu. Menurut pantauan teman abang mereka masih menunggu kamu.
Mereka masih berada di sekitar sini".potong Guntur.
"Terus abang bagaimana?". Tanya Gita.
Takut suaminya akan dicelakai lagi.
"Papa disini punya rencana ekrtim sayang. Membuat berita kalau aku cedera parah dan harus masuk ruang intensif.
Kita akan lihat reaksi mereka yang sedang berencana jahat pada kita.
Kamu pasti akan dapat telfon dari mereka, bisa saja meberor kamu.
Tapi kamu hangan panik ya sayang, semua adalah pancingan untuk menangkap mereka yang berbuat". Jelas Guntur.
"Baik bang. Tapinalu ingin menemui abang". Jawab Gita.
"Sabar.
Abang akan masuk ruang intensif sekarang. Kamu tunggu saja kedatangan abang nanti.
Kejutan". Ujar Guntur.
Dia, paoa dan ayah mertua sudah punya rencana bersama rekan intelnya.
"Kamu pulang dulu. Diantar asisten kamu. Dan ayah akan kesini. Untuk buat sandiwara". Ujar Guntur.
"Baik bang". Jawab Gita.
Maka Gita pulang keapartemen diantar oleh asistennya. Dan ayahnya kembali ke rumah sakit.
"Ibu hati-hati ya. Walaupun selama ini apartemen ini aman, tidak berkemungkinan mereka tahu ibu di sini.
Di depan ada beberapa penjaga. Juga di parkiran lantai ini juga ada tiga orang untuk berjaga.
Selain orang tua dan aku yang minta ibu keluar, jangan pernah ladeni.
__ADS_1
Telfon terorpun jangan ibu layani". Pesan asisten Gita.
"Baik bang. Tapi setiap saat kabari aku ya. Aku khawatir". Ujar Gita.
"Baik bu". Ujar asistennga itu.
Maka tinggallah Gita sendirian di apartemennya, untuk menunggu kabar dari suaminya.
Walau suaminya katanya hanya cedera dan terkilir tidak, tapi dia masih khawatir, sebelum bertemu langsung.
Dia segera mandi, karena sebentar lagi azan magrib. Juga bisa saja dia akan di suruh kerumah sakit nanti malam.
Selesai sholat Gita harus makan, karena tadi ayahnya membawa makanan untuknya.
Walau dia tidak berselera, tapi dia tadi sudah diingatkan oleh suaminya untuk tidak menunda makan. Karena hamil muda butuh asupan.
Dia makan sambil melihat ponselnya sesekali, berharap ada telfon dari suami atau orangtua, juga mertuanya.
Selesai makan, dia duduk di ruang menonton. Walau televisi hidup, dan matanya memandang kayar tv, tapi fikiran Gita tidak kesana.
Tangannya sesekali melihat layar ponsel, berharap ada yang menelfon.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tapi tidak ada nama kontaknya. Nomor privasi.
Gita yakin. Sang penelfon pasti akan menerornya.
Beberapa kali dering ponsel itu Gita abaikan. Tapi tidak ada berhenti berbunyi seolah minta diangkat.
"Hallo...".
"Gita. Kamu tidak apa-apakan?". Ucap seseorang dari seberang sana.
"Maksudnya apa?". Tanya Gita.
"Suami kamu kan kecelakaan. Apa ada yang meneror kamu?.
Karena ada seseorang yang ingin kamu celaka juga. Tidak terima kalau suami kamu itu kecelakaan.
Dia mengira kalau kecelakaan itu disengaja. Dan mereka tidak terima.
Makanya aku minta kamu hati- hati saat kamu keluar sendirian". Ujarnya.
"Dari mana kamu tahu suamiku kecelakaan?". Tanya Gita.
"Aku tadi kebelulan lewat, tapi tidak bisa bantu. Karena aku berada sedikit jauh dari persimpangan tepat suami kamu kecelakaan". kilah Dika.
Ya. Yang menghubungi Gita adalah Dika.
Padahal dia baru saja selesai rapat dengan papanya di ruang direktur.
Walau hatinya mengkhawatirkan Gita selama rapat yang pasti sedih karena suaminya kecelakaan.
"Terima kasih atas perhatiannya". Jawab Gita.
"Gita?. ponsel kamu kok tidak bisa di ketahui keberadaannya?. Apa kamu masih di asrama polisi.
__ADS_1
Kalau masih di sana biar aku jemput. aku antar ke rumah sakit". Ujar Dika.
"Kamu memata-mataiku Dika?. Apa tujuanmu melacak keberadaanku hah". Ujar Gita kesal.
"Tidak ada tujuan, aku hanya ingin keberadaan kamu aman.
Karena mantan istri suami kamu ingin kamu juga celaka, karena dia tidak terima mantan suaminya kecelakaan yang dia yakin itu di sengaja.
Makanya aku menawarkan perlindungan untuk kamu. Biar dia tidak menemukan kamu.
Pasti dia akan menemui kamu". Jawab Dika.
"Terima kasih. Aku tidak butuh perlindungan dari kamu. Suamiku ada untuk melindungiku". Jawab Gita.
Dia kesal Dika yang mau ikut campur tentang rumah tangganya.
"Apa kamu tidak di rumah sakit?. Suami kamu itu sedang kritis. Malah dia tadi di bawa keruang intensif untuk dirawat lebih lanjut.
Bisa jadi.. Maaf. Suami kamu tidak selamat. Dia terluka parah saat kecelakaan tadi.
Mungkin kepalanya terhempas ke aspal. Dia tidak sadarkan diri semenjak masuk rumah sakit tadi". Jelas Dika.
"Apa?. Kamu...".
"Sekarang kamu dimana. ikutlah denganku, agar kamu tidak dicelakai oleh mantan istri suami mu.
Aku jemput kamu ke asrama ya. Kamu tinggal di bagian mana di asrama polisi". Ujar Dika.
"Maaf. Terima kasih. Aku di rumah sakit. Aku mau melihat kondisi suamiku dulu". Ujar Gita.
Mematikan telfonnya. Dia menarik nafas pelan, menetralkan nafas karena dadanya bergemuruh.
Dia ingat dengan almarhum suaminya yang meninggal karena kecelakaan dulu.
"Apa benar bang Guntur cedera parah. Hingga tidak sadarkan Diri.
Tapi kan tadi dia menelfonku.
Apa..".
Gita ingat. Suaminya tadi bilang mau bersandiwara. Pasti semua keluarga di rumah sakit sekarang sedang menjalani sandiwara.
"Ooo. Jadi kamu mau menipuku ya. Aku tidak akan percaya kamu". Ujar Gita.
Dia yang taditerbawa emosi menarik nafas lega, karena tidak terpancing rencana Dika.
"Do'akan semoga ayah baik saja ya sayang!". Ujar Gita mengelus perutnya.
Dia harus bisa menjaga perasaan dan emosinya. Karena sedang gamil tidak boleh gegabah dalan berfikir dan bertindak.
Untuk nenenangkan fikiran, Gita mengambil buah untuk cemilan.
Dia membawa berbagai buah untuk memakannya sambil menenangkan fikiran.
.
__ADS_1
.