
Pertemuan perusahaan Dika akan dilaksanakan siang nanti. Di perusahaan milik Gita. Yang mereka tahu itu perusahaan cabang pak Burhan.
Asisten Dika menyiapkan berkas yang akan dibawa bersama sekretarisnya. Mereka harus mempersiapkan semua yang dibutuhkan. Agar kerja sama bisa terlaksana.
"Sudah periksa ulang berkas yang akan dibawa?". Tanya Dika pada asistennya.
"Sudah bos. Semua sudah di periksa dan di siapkan.
Nanti bos akan persentasikan rencana kerja proyek yang akan di kerjakan bersama". Jawab asistennya.
"Jika proyek itu lolos, aku akan turun tangan langsung ke pulau K. biar bisa menjauh dulu dari Indri.
Akan kacau jika aku terus berada disini. pasti akan terus di terornya.
Aku tidak mau dipenjara di seret olehnya". Ujar Dika.
Asisten Dika setuju. Dia juga cemas kalau bosnya itu akan terseret oleh Indri.
Walau bukan ikut dalam dunia perkuriran Indri. Tapi pernah kerja sama untuk mencelakai seseorang yang ternyata masih hidup.
Dan orang yang sudah dia celakai adalah seorang polisi.
"Pukul berapa pertemuan dengan anak perusahaan pak burhan itu?". tanya Dika.
Dia duduk santai di kursi kebesarannya. Sementara sekretarisnya sudah keluar ruangannya. Tinggal dia berdua dengan asistennya.
"Info dari perusahaan pukul setengah dua kita sudah ada di ruang pertemuan pak". Jawab asistennya.
"Baik. Kita makan siang di cafe dekat perusahaan itu saja. Jangan kerja sama kita gagal karena kita telat datang.
Walau tidak terlalu jauh perusahaan itu, kita tidak mau terjebak macet kesibukan pas istirahat siang". Ujar Dika.
"Baik bos. Aku ingatkan nanti kita berangkat pukul dua belas kurang. biar bisa makan siang dengan tenang". Jawab asisten Dika.
Jarak perusahaannya tidak sampai dua puluh menit jika lalu lintas ramai lancar. Maka mereka makan pukul dua belas lewatpun masih bisa satu jam untuk makan dan beristirahat sejenak sebelum menuju perusahaan Pak burhan.
Asisten Dika izin kembali keruangannya untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Karena jam maih menunjukan pukul sepuluh lewat.
"Aku kok merasa deg-deg an ya?. Biasanya aku tidak pernah merasa cemas saat akan pergi rapat atau melobi perusahaan besar". Gumam Dika
Dia merasa ada yang aneh dengan jantung dan fikirannya. merasa sedang mengikuti ujian.
Beberapa kali dia menarik napas dan mengeluarkannya pelan. Menetralkan detak jantungnya.
__ADS_1
"Apa aku cemas karena di telfon Indri tadi ya?". Ujar Dika.
"Mungkin saja. Aku cemas akan di seret jika tidak mengikuti kemauannya.
Aku akan pergi dulu dari kota ini untuk sementara waktu. Biar tidak dinteror Indri.
Setelah Indri di sidang dan jelas hukumannya, barulah aku akan kembali ke kota ini". Dika sudah bertekad untuk menghilang dulu.
Info dari Indri, kalau suami Gita tidak meninggal. Tentu polisi itu akan mencari siapa yang sudah membuat dia celaka.
Dia yakin, Indri pasti sudah mengatakan pada Gita. kalau kecelakaan yang menimpa suaminya itu perbuatan dia. Yang menginginkannya kembali.
Indri mengatakan kalau polisi itu masih hidup saat indri menelfonnya kemaren.
Dan mengatakan kalau polisi itu sudah mulai bekerja di polres, dan memakai tongkat penyangga. mungkin kakinya patah.
"Mantan kamu itu sedang hamil, dan mantan suamiku kakinya cedera.
Aku melihatnya di polres pagi kemaren".
Itu ucapan Indri di telfon saat dika menanyakan dimana dia melihat Gita dan suaminya.
Aku harus menghindar. Itu tekad Dika, untuk tidak berada di kota ini untuk sementara waktu.
Kalau bisa pertemuan dengan perusahaan pak burhan ini cukup sekali ini saja. Dan bisa langsung melakukan kerja sama.
.
"Apa rambutnya sudah kering sayang?". Tanya Guntur melihat istrinya akan memasang jilbab.
Guntur duduk di samping istrinya yang sedang berias di depan meja rias. duduk di kursi yang sengaja di taroh berdekatan.
"Lumayan bang". Jawab Gita.
"Gara-gara abang sih. Sudah bersiap untuk berganti pakaian. malah minta mandi besar lagi.
Pagi tadi juga sudah mandi besar". ujarnya.
"Bagaimana lagi sayang. Tubuh gemoy kamu sangat menggoda iman.
Ingin selalu di keloni". Jawab Guntur tersenyum.
"Alasan abang. Padahal setiap malam juga di keloni.
__ADS_1
Mentang-mentang tangan dan kakinya sudah mulai sembuh tidak di beri jeda barang sehari". Ujar Gita.
"Namanya juga sedang nagih sayang.
Lagi pula abang hati-hati kok. menjaga kaki dan tangan. Juga menjaga calon anak kita yang maaih kecil di dalam ini". Ujar Guntur. Mengelus perut istrinya yang sudah mulai buncit.
Mereka sedang bersiap untuk berangkat ke perusahaan yang gita pimpin. Untuk pertemuan dengan perusahaan Dika.
Mereka akan di jemput oleh asisten Gita. Dan mereka akan makan siang di kantor saja.
"Siap untuk bertemu dengannya sayang?". Tanya Guntur pada istrinya.
Saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju perusahaan.
Guntur memang libur hari ini, dan Gita memang siang akan menuju perusahaannya.
"Siap bang. Aku sudah tidak sabar untuk membuat dia bungkam.
Dan semoga tidak ada niatnya menganggu. Karena dia tidak ada artinya lagi". Ujar Gita.
"Hhmm..
Terus rencana kerja sama bagaimana?. Kan mau di bicarakan juga nanti". tanya Guntur.
"Kita lihat setelah bertemu nanti bang. Apa mereka mau lanjut kerja sama atau tidak.
Dan walau mereka mau lanjut. Kan proyek ini bukan aku yang memegang. Di kota k akan berhadapan langsung dengan pak Ibrahim". Jawab Gita.
"Aku juga tidak bisa menolak begitu saja. Karena waktu itu papanya Dika juga sudah pernah membahas kerja sama ini waktu pak ibrahim memimpin di sini.
Cuma waktu itu terhalang proyek itu belum siap untuk dikerjakan. Makanya beberapa bulan kemaren perusahaannya mulai membahas dan bertanya lagi". tambah Gita.
"Ok sayang. Yang penting kamu jangan mudah emosi atau terpengaruh mendengar ucapannya.
Pasti dia akan kaget bertemu kamu dan juga sedang hamil. Sebab dia yang menyebar isu ke Indri kalau kamu tidak bisa hamil waktu menikah pertama.
Dan juga dia pasti kaget melihatku. Masih hidup dan segar bugar. Hanya dibantu tongkat saat berjalan". Ujar Guntur.
"Iya. Makanya aku ingin dia mundur dan tidak menganggu kita lagi. Biar kita tenang menjalani keluarga kita". Jawab Gita.
"Benar. Aku ingin selalu menjaga istri dan calon anak kita kedepannya.
Tidak ada orang usil yang datang menganggu". Ujar Guntur.
__ADS_1
.
.