Bukan Aku Merampas Dia

Bukan Aku Merampas Dia
Bukan Pengantin Baru


__ADS_3

"Sini aku bantu". Ujar Guntur.


Gita yang sedang duduk di depan meja rias di kamar apartemennya. Akan membuka hijab dan mahkota hiasan di kepalanya.


Juga kain penutup kepala berjuntai panjang yang ada di kepalanya.


Banyak jarum pentul dan semacamnya di bagian itu.


"Banyak jarum pentulnya bang. Hati-hati". Ujar Gita.


Dia membiarkan suaminya melepaskan jarum pentul yang menyemat setiap helai hijap dan penutup kepalanya.


Lebih kurang lima menit Guntur menyelesaikan membuka mahkota dan mengambil jarum pentul tersembunyi di balik hijab istrinya.


Hingga hijab sudah terlepas dari kepala Gita. Tidak lupa Guntur membantu membuka jubah baju oengantin yang dipakai istrinya.


Terankhir menurunkan resleting pakaian pengantin istrinya. Hingga terpampang punggung istrinya yang hanya menampak tali pakaian dalam istrinya.


Dengan lebut Guntur mengecup pundak dan bahu istrinya. Tanggannya lun sudah menurunkan kedua lengan baju yang di pakai istrinya.


Hingga pakaian pengantin istrinya teronggok di kaki istrinya.


Dengan gesit Guntur mengenggam kedua bongkahan yang ada di bagian depan tubuh istrinya. Tubuh nya mendekap dari belakang istrinya.


"Mandi dulu bang, tubuh terasa lengket". Ujar Gita


Menurunkan tangan suaminya yang mulai menyusup kebalik penutup puncak dadanya.


"Sebentar saja sayang. Dari semalam tangan ini belum menyentuhnya". Ujar Guntur.


Kedua tangannya sudah mulai maremas kedua puncak yang masih tertutup kain.


"Sshhh... Abang.. Mandi dulu". Ujar Gita mendesis. Karena terangsang.


Guntur membalikan tubuh istrinya, agar menghadap padanya.


"Ini adalah malam pertama kuta sebagai pengantin baru". Ujar Guntur.


Memandang wajah istrinya yang dia pegang dengan kedua tangannya.


"Kita sudah tujuh bulan lebih menikah bang. bahkan kita tidak terhitung lagi sudah melakukan hubungan suami istri.

__ADS_1


Tiap malam. Libur hanya saat aku ada halangan". Ujar Gita.


"Iya. Aku sangat menikmatinya mengerayangi tubuhmu.


Tapi kita di sebut pengantin baru karena kita menikah secara negara dan intansi pekerjaanku baru tadi siang.


Kamu ingatkan?. Tangal pernikahan kita di surat nikah tanggal hari ini kan?. Walau kita nikah siri tujuh bulan yang lalu.


Atas permintaan orang tua kita. Agar tanggal nikah kita tidak terlalu dekat dengan masa iddah kamu". Jelas Guntur.


Ya. Tanggal pernikahan Guntur dan Gita dibuat tanggal hari ini. Karena mengikuti surat saat mengurus berkas Gita.


Agar jauh dari masa idah Gita yang di tinggal mati suaminya.


"Iya bang. Aku paham". Ujar Gita.


Guntur mengecup pucuk kepala istrinya. Turun hingga ******* bibir istrinya dengan lembut dan menuntut.


Hingga nafas mereka berdua tersengal. Mereka saling pandang dan saling tersenyum.


"Mandi bareng ya. Agar lekas selesai". Ujar Guntur.


Dia menarik tubuh istrinya menuju kamar mandi. Gita hanya memakai dua potong pakaian dalam di tubuhnya.


Lalu dia mengisi bathtub dengan air hangat, untuk mereka berendam melepas lelah.


Guntur juga melepas pakaiannya.


Guntur membantu keramas dan menyabuni istrinya, agar bersih. Juga memijit sedikit tubuh polos istrinya.


Mereka sama-sama polos, karena sebelum masuk mereka melepas semua yang melekat di tubuhnya.


"Bang, kita belum sholat magrib". Ingat Gita pada suaminya.


Karena Guntur semakin ganas dan bernafsu memijit tubuh istrinya.


"He.. He.... Aku ingin memakanmu saat ini. Tapi aku harus tahan dulu samoai selesai sholat magrib". Ujar Guntur.


Dia mengambil shower yang ada di dinding. Membantu menyiram rambut dan tubuh istrinya.


Tidak lupa melepas penutup air di bathtub, agar keluar.

__ADS_1


Selesai sholat magrib Guntur mengajak istrinya untuk makan malam. Makan nalam yang tadi di bungkus oleh mama gita dari tempat pesta tadi.


Makanan catering yang berlebih selain dibawa keluarga yang mau, juga di bagi pada pekerja yang membantu.


Untuk Gita dan Gunturpun di bekali untuk makan malam. Agar mereka tidak repot memasak sesampai di apartemen.


"Abang pijitin ya sayang". Ujar guntur.


Selesai makan mereka duduk santai di ruang menonton. Selain menunggu azan isya. Mereka juga istirahat sambil selonjoran. Dan Guntur memijit betis dan ujung jari istrinya.


"Kita bulan madu Yuk". Ajak Guntur.


"Kemana?". Tanya Gita.


"Dekat-dekat saja. Biar kamu rileks dan santai". Ujar guntur memeluk tubuh istrinya.


"Kamu suka pantai atau gunung sayang?". Ujar guntur.


Dia mulai menciumi wajah istrinya. Hingga leher dan telinga istrinyapun tidak lepas dari sesapan bibirnya.


Membuat Gita kegelian.


"Aku suka semua bang... Sshhh. Aku suka alam. Apalagi motoran keliling". Ujar Gita.


"Sesekali kita motoran yuk. jalan sore keliling kota, atau kemana pun tukar suasana". Ujar Guntur.


"Setuju!". Ujar Gita.


"Ok sayang. Kita menikmati malam pertama kita dulu!". Ujar Guntur membopong tubuh istrinya.


"Abang". Kaget Gita.


Karena suaminya tiba-tiba membopong tubuhnya.


"Kita sholat isya dulu. Berdo'a, agar kita di titipi keturunan yang soleh dan solehah".


Ujar Guntur mendudukan istrinya di atas meja keramik yang ada di kamar mandi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2