
Guntur mengantar Gita pulang kerumah orang tuanya. Dan mereka sampai lewat pukul delapan malam.
Karena mereka tadi makan terlebih dahulu. Juga Guntur sudah menelgon orang tuanya, kalau Gita telat pulang. Dan dia yang akan mengantarkannya.
"Aku langsung balik ya ma, pa Gita". Ucap guntur setelah dia mrmberikan kunci mobilnya pada gita.
Karena dia akan dinas malam sekarang.
"Apa tidak akan telat bang?". Tanya gita.
"Sedikit. Aku tadi sudah mengabarkan rekan kerjaku, kalau aku telat, karena ada urusan". Jawabnya.
"Hati-hati". Pesan mama guntur. Saat anaknya berangkat.
"Baik ma. Assalamualaikum". Ucap Guntur. Menjalankan motornya keluar pekarangan.
Setekah Guntur pergi, gita di ajak mama guntur berbicara. Juga ada papa guntur dan anna.
Dan Gita menjelaskan yang terjadi tadi. Karena tadi Guntur sudah bilang dan berpesan pada orang tuanya, kalau gita yang akan menjelaskan. Karena Guntur buru- buru pergi bekerja.
"Benar yang di kerjakan Guntur. Papa rasa, bos barumu itu punya niat jahat padamu.
Papa setuju. Kamu resign saja dari perusahaan itu. Dan kalau boleh papa mengusulkan, kamu mendampingi Guntur saja. Seperti mama, buka usaha sendiri jika kamu bosan dirumah". Ucap papa Guntur.
"Aku memang ingin segera resign pa. Sampai akhir bulan ini targetku. Aku mau menyelesaikan laporan bulanan". Jawab gita.
"Baik. Tapi kamu harus jaga diri. Jangan sampai terkecoh dengan nya". Pesan oapa Guntur.
"Baik pa". Jawab Gita.
Setelah berbicara mereka menyuruh Gita pergi beristirahat. Dan tanpa Gita tahu, ternyata calon mertuanya itu akan menempatkan pengawalan jarak terjangkau. Untuk keamanan calon menantunya.
.
"Gita. Di panggil pak wakil direktur". Ucap Jenny, bos baru didivisinya.
Jenny hari ini langsung menjabat kepala divisi ruang tempat gita bekerja.
"Ada apa ya Jenny?. belum selesai ini pekerjaanku". Kesal Gita.
__ADS_1
Bagaimana tidak. Saat ini baru pukul sembilan kurang. Dan Gita masih sibuk mengerjakan tugasnya.
"Kurang tahu sih. Datangi saja dulu. Mungkin ada tugas penting". Ucal Jenny.
"Hhffff. Ok". Ucap Gita.
Dia pergi menuju ruang sang wakil direktur. Yang mana terletak di samping ruang direktur.
Tok... Tok...
Gita mengetuk pintu sang wakil direktur. Dan memasuki ruangan setelah di persilahkan.
"Permisi. Aa bapak memanggil saya?. Apa ada yang bisa saya bantu?!". Tanya Guta berdiri di depan meja sang wakil direktur.
"Mobil kamu kemana?!". Tanya Andika sang wakil direktur langsung. Tanpa sempat Gita menarik nafas.
"Mobilku dibawa keluargaku ke sumatra semalam. Karena mobil tidak cukup, maka keluargaku memakai mobilku". Jawab Gita.
Seperti ucapan Guntur semalam. Jika bosnya bertanya.
Hhfff. Andika menarik nafas kasar memandang Gita.
"Terus tadi dengan mobil siapa kan datang?!. Tanya Andika lagi. Setelah terdiam beberapa saat.
"Temanku. Dia bekerja di perusahaan M. Tidak jauh dari sini". Jawab Gita.
Iya. Tadi dia diantar oleh Guntur.
Guntur memang semalam berencana untuk mengantar jemput Gita. Padahal gita bilang tidak usah, karena kalau guntur kerumah orang tuanya, akan mengurangi istirahat guntur, yang dinas malam.
Tapi guntur beralasan, kalau sepulang mengantar gita bekerja, dia bisa istirahat di asrama, tempat dia tinggal sementara. Hingga gitapun mengalah. Demi kebaikan. Pikirnya.
"Kamu tinggal dimana?. Biar aku yang mengantar jemput.
Tidak mungkin di rumah orang tuamu. pasti jauh". Ucap Dika.
Karena Dika tahu, rumah orang tua Gita jauh. Satu jam perjalanan.
"Tidak usah. Aku tingal dekat sini kok". Ucap gita.
__ADS_1
Biar andika tidak punya alasan untuk menjemput nya. Lagian dia malas untuk berdekatan dengan Dika, takut dilecehkan.
"Tidak apa. Aku tinggal juga dekat sini kok. Di apartemen angrek tiga". Ucap Dika memberi tahu gita.
"Oo.. Aku kos di dekat sini kok. Di seberang jalan sana". Ucap gita.
Menyebutkan lokasi perumahan di seberang jalan raya depan. Tidak jauh dari perumahan tempat dia dan almarhum suaminya tinggal waktu itu.
"Oo. Tapi kok kamu bawa mobil?. Dekat juga". Tanya Dika.
"Aku bawa mobil juga baru-baru ini. Biasa menggunakan motor". Jawab Gita.
Memang gita membawa mobil semenjak almarhim suaminya meninggal. Dan sudah pindah agak jauh. Jadi tidak aman menggunakan motor.
"Besok-besok aku antar jemput!". Ucapnya.
"Tidak usah. Aku dekat kok". Tolak Gita.
"Tidak....".
"Maaf. Aku tidak bisa". Potong Gita.
"Aku...".
"Maaf pak. Kalau tidak ada pekerjaan lain, aku mau kembali keruanganku. karena pekerjaan ku masih banyak.
Assalamalaikum". Potong Gita.
Dia meninggalkan ruangan bosnya itu.
Andika hanya bisa diam, mendengar penolakan gita.
'Awas kamu gita. Akan aku taklukan kamu. Hingga kamu tidak bisa menolak pesonaku. Dan berada dibawah kungkunganku'. Gumam Dika.
Dia sangat percaya diri. Saat mendengar dari teman dan juga bawahan di kantor ini. kalau almarhum suami Gita dulunya hanya karyawan biasa. Dan tidak tampan sepertinya.
.
.
__ADS_1