
"Gita. kamu yang tinggal di paviliun mama?!". tanya Rendra.
"Iya!". jawabku tanpa memandangnya.
Sementara bapak tadi memindah kan mobilku ke halaman rumah orang tua bang guntur.
Mama bang Guntur dan dua ibu yang lain mengemasi semua barangku.
Aku tadi sudah menolak untuk pindah kerumah orang tua bang guntur. Dan ingin pindah kosan saja.
Tapi mereka malah menolak. tetap menyuruhku untuk tinggal sementara di rumah orang tua bang Guntur. yang katanya kebih aman.
Karena menurut mereka, mereka percaya dengan keluarga bang guntur.
Maka aku hanya pasrah saja. biar saja lah dulu. mungkin aman jika barang ku di sana. Kalau aku tidak mau menginap disana juga aku bisa menginap di rumah abang zai saja.
"Maaf!". bisik Rendra.
Saat dia mengoles luka keningku dengan obat, setelah tadi di bersihkan.
Untung cuma luka gores memanjang. dan tidak terlalu dalam.
Aku tidak menanggapinya. Bahkan tidak melihat kearahnya. Tadipun saat dia membersihkan darah di keningku, aku cuma menunduk. tidak tertarik untuk melihatnya.
Tiba-tiba ponselku berdering.
Ternyata dari rekan kerjaku. winda.
"Terima kasih!".ucapku berdiri.
dan menuju kamarku yang sedang ada ibu- ibu mengemas barangku.
"Assalamualaikum Win!. ada apa?!". tanyaku.
Saat aku duduk di atas tempat tidur.
Winda mengatakan kalau aku ikut rapat pukul sebelas.
"Aku datang agak telat win. ada masalah sedikit!". ucapku.
Tanpa menjabarkan masalah apa. Dan aku bilang mungkin aku datang pukul sembilan. sekarang belum pukul delapan. dan dia setuju.
Ternyata semua barangku sudah di pindahkan saja. bahkan ibu kosku yang sekaligus ibu rt juga sudah mengizinkan.
"Periksa lagi. mana tahu masih ada yang tertinggal!". ucap salah seorang ibu yang tertinggal dalam kamarku.
Aku mengangguk. dan Aku pasrah saja. yang penting aku aman dulu. ku periksa lagi kamarku, mungkin memang harus begini.
__ADS_1
Semua barangku sudah di pindah. tinggal gorden yang klep sekeliling dan bad coverku yang belum dibuka.
Aku pun membuka bad cover dan membiarkan tile gorden.
Kain di jemuran, peralatan mandi juga tidak luput dari pemeriksaan.
"Maaf bu!. aku bikin masalah di tempat ibu!". ucapku pada ibu kos saat mendatangku ke kamar.
"Kamu tidak salah Gita, Hani saja yang baperan. mungkin dia berambisi menyukai Guntur". ucap ibu kos.
Sangat tidak menyangka kalau Hani senekat itu. sampai dia diomeli bapak kos. Aku dengar saat Rendra mengobati lukaku tadi.
Aku melihat sekeliling kamar kosanku, yang sudah kosong.
"Gordennya kenapa tidak dibuka?". tanya ibu kos. "Kok hordennya di klep sekeliling?!". ucap ibu kos.
"Biar saja bu. itu.. maaf tidak memberi tahu ibu kemaren. aku beberapa hari yang lalu juga di teror. dengan memasukan tikus mati melalui kaca jendela". jawabku jujur. tanpa bilang tas juga.
"Astaqhfirullah.. kok kamu tidak bilang ibu. pasti ibu akan cari orang yang jahat itu". ucap ibu kos.
"Tidak apa bu. aku kemaren juga mau cari tahu dulu, siapa yang menerorku.
Tapi sekarang juga tidak perlu lagi. Aku kan juga mau pindahan". ujarku.
"Maaf ya, kamu tidak nyaman tinggal di sini!". ucap ibu kos sedih.
Ibukos merangkulku.
"Kabari ibu kalau kamu menikah ya. ibu ingin menghadirinya. bukan dari pihaknya guntur". ucap ibu kos tulus.
"Inshaa allah bu. kalau aku ada berjodoh dengan bang Gintur!". jawabku.
"Semoga kalian berjodoh. ibu do'a kan kalian!". ucap ibu kos.
"Aamin....". jawabku.
Akupun pamit pada ibu kos, untuk pergi kerumah bang Guntur. Aku sebenarnya risih untuk kesana. tapi harus bagaimana lagi.
Aku berdiri lama di depan kamar kosanku, sementara ibu kos sudah masuk kerumahnya. Ragu untuk kesana.
"Ayo gita!". ucap mama bang Guntur.
Ternyata, aku dijemput oleh mamanya bang Guntur. beliau kembali untuk membawaku langsung kerumahnya.
Juga minta izin pada buk rt untuk membawaku tinggal dirumahnya, sebelum kami di nikahkan.
Dan buk rt pun mengizinkan. itu juga di ucapkan beberapa warga yang melihat kejadian tadi. dengan pesan dari buk rt menjaga anak gadis orang.
__ADS_1
Aku memasuki rumah, ternyata bang Guntur sedang di beri petuah dan pesan bapak dan ibu-ibu yang tadi membantu aku memindahkan barang.
Aku disuruh duduk di sofa ruang tamu.
"Nah. ini calon istrinya.
Nak guntur harus janji pada kami, untuk tidak berbuat mesum sebelum halal.
Katanya beberapa hari lagi kalian nikah siri. jadi kamu harus amanah!". pesan bapak tadi.
"Baik pak. aku akan menjaga diri dan inshaa allah amanah". ucap bang Guntur.
"Aku turut amanah pak. seperti bapak lihat. kamar Guntur berada di lantai atas, sementara Nak Gita aku tempatkan di kamar depan. agar mereka berjarak". ucap mama bang Guntur.
"Kami percaya pada ibu dan keluaga ibu. hanya untuk mengingatkan saja". tambah bapak tadi.
"Terima kasih pak. atas kepercayaanya". jawab mama bang guntur.
"Aku tiga hari kedepan juga dinas malam pak, bu. mungkin tidak akan bertemu langsung dengan Gita". ucap bang guntur.
"Itu baik. semoga kalian berjodoh, dan segera menikah!". ucap mereka.
"Aaminn".
Aku melihat kearah bang guntur, dan ternyata dia sedang memandangku sambil tersenyum.
"Ayo gita. kamu tinggal di kamar depan dulu untuk beberapa hari ini!". ajak mama bang Guntur.
"Semoga kamu betah tidur di kamar depan sebelum kita halal, dan pindah kekamarku diatas". ucap bang Guntur.
"Masih lama!". potong sang mama.
"Empat hari lagi mah!". jawab bang guntur.
"Iya. nanti malam kamu ngoceh. 'masih lama aku nikah. rasa ingin ku belah hari biar sampai hari minggu'!". ejek sang mama.
"Hehe.. kalau begitu, besok jum'at saja kami nikah mah. ingin dimanja istri". ucap bang Guntur memelas.
"Minggu!!". ucapnya menarik tanganku menuju kamar depan.
"Mah.. jum'at ya!!". teriak bang Guntur.
.
..
.
__ADS_1